Senin, 21 Desember 2015

Hujan Harapan

kita terlalu banyak mengukir cerita di kenangan masa lalu, hingga hujan pun tak dapat menghapus semua cerita masalalu itu. Aku menganggap semua akan berujung manis, ternyata sama saja kau memilih memalingkan wajahmu dari diriku. Aku yang sudah banya menggantungkan harapan pun tak tahu harus bagaimana. Pahamilah, kau adalah sosok yang aku dambakan yang selalu aku ingat dan selalu berada di setiap isi doaku. Sesungguhnya aku ingin mengatakan betap sakitnya aku setelah kau beranjak pergi, tak pernahkah kamu mengerti hati ini masih saja berteriak kamu yang sangat masih aku inginkan. Yang aku rasakan saat itu aku hanya sebagai pelengkap, bukan sebuah prioritasmu. Harusnya kau sadar, betapa aku besar rasa sayangku hingga aku selalu mengutamakan tentang dirimu.

berbagai cara sudah aku laukukan untuk membuat aku melupakan kisah harapan tentang kamu, tapi masih saja usahaku itu pudar tak ada artinya. Sosokmu selalu ada untuk menghantui setiap tidurku, kau selalu saja ada di dalam pikiran dan mimpiku. Aku bersedih bukan karena aku tak mendapatkan dirimu, tapi aku bersedih karena aku masih saja tak bisa membuatmu jatuh hati kepadaku. Apa salahku hingga kau membuat diriku jatuh cinta sejatuh-jatuhnya sampai tak bisa melupakan bayanganmu?

Aku sadar memang aku bukan seorang manusia yang bisa menjadi prioritasmu, tapi pekalah sedikit rasa sakitku itu masih ada, masih bertengger dengan bekas luka lain yang pernah kamu berikan dan itu pun tak pernah kering karena ingatan tentang dirimu membuatku tak bisa mengobati luka ini. Aku sadaar aku bukanlah orang yang kamu pilih. tapi, mengapa harus aku yang mengharapkanmu? Mengapa harus aku yang bersedih karena tak memilikumu? Ini sungguh tidak adil, kau berbahagia dengan yang lain. Sedangkan aku masih berpegian tanpa tahu tujuan dengan membawa hati yang kosong. Terlalu sakit menjalani semua ini, aku mohon berhentilah kamu berputar di ingatanku, aku hanya ingin tenang tanpa harus mengenang kamu.

Tahukah kamu? Orang yang fanatik dengan cintamu ini masih saja mencari tahu kabar tentang bagaimana kamu saat ini, masih saja ingin tahu apa saja yang sudah kau lakukan hari ini. Maaf bila perlakuan itu mengganggumu. karena inilah aku, dengan sejuta harapan dan luka yang aku bawa karenamu. Sesungguhnya aku merindukan kamu, hanya saja kau seperti baik-baik saja tanpa aku.

sebaiknya kamu menjauhlah, tapi sebelum kamu menjauh ajari aku dengan benar bagaimana aku bisa melupakan sosokmu dengan sempurna.

Selasa, 28 Juli 2015

Sepenggal Kisah Sang Pengharap



Apakah seperti ini menjadi seorang lelaki yang hanya bisa mengejar sebuah cinta tapi selalu gagal? Terlalu sepi seperti inikah rasanya? Aku tawar segala cintaku hingga aku terjatuh tetap saja dia yang aku inginkan tak akan pernah bisa di dapatkan apabila dia tak memiliki perasaan yang sama kepadaku. Aku terlalu banyak menikmati indahnya dari kejauhan, sungguh jauh dan tak pernah dekat. Yang aku pikir dia bisa memiliki perasaan yang setidaknya bisa membalas apa isi perasaanku, tapi nyatanya apa? Aku hanya terjebak di sebuah hayalan yang terlalu banyak kata ‘andai’.
Seperti inikah yang namanya perjuangan? Sudah sering aku lakukan namanya perjuangan tapi tetap saja gagal. Bukannya aku tak ingin mencoba, tapi respon yang dia beri sungguh kecil. Tak besar seperti buah semangka, hanya sekecil bijinya. Jadi yang aku simpulkan adalah, untuk apa aku berjuang sekeras batu kalau dia hanya memberikan kerikilnya saja? Oh tuhan, bukannya aku menyerah untuk tetap mengejar tapi ini sungguh nyata.
Aku di bodohi perasaan, aku di bodohi hayalan yang penuh dengan ekspetasi murahan kisah romantis dongeng di tv. Apa yang aku harapkan tak sejalan dengan kenyataan. Aku selalu menawarkan hanya saja dia tak pernah mengambilnya dengan senang hati. Bukannya kecewa, hanya saja kadang aku lelah dengan perjuangan yang aku anggap tak ada hasil.
Persetan dengan perjuangan! Baru ku sadar, tak ada perjuangan yang tulus. Semua hanya modus semata! Tapi, apakah perjuangan dan perhatianku ini hanyalah modus semata? Awalnya. hanya saja aku perlahan sadar aku bukanlah mencari pasangan untuk berpegangan tangan. Tapi aku mencari pasangan yang bisa di jadikan partner hidup ini. Jadi, apakah perhatianku ini adalah modus berkelanjutan? Ku yakinkan hati bahwa ini adalah ketulusan, perhatian lebih yang aku berikan.
Maafkan bila seandainya aku berlebihan. Inilah aku dengan segala apa yang aku impikan. Andai kau tahu impianku saat ini tentang berhubungan tak pernah sejalan dengan ekspetasiku, aku terlalu lelah menerima kenyataan yang begitu mengecewakan. Walaupun di sebelum paragraph ini aku bilang bukannya aku kecewa, tetapi makin aku menulis tentang kamu, semakin aku sadari perjuanganku menghasilkan hasil yang begitu mengecewakan. Aku pun tak berharap kamu untuk membaca ini, karena aku tahu. Untuk mengintip sedikit saja tentang hati ini kau takkan pernah ingin. Aku bingung, semoga kamu tahu apa yang aku rasakan saat ini. Maybe im not your type, maybe I’ll be back and stop hoping about u.

Selasa, 16 Juni 2015

give up



Aku perlahan menyerah untuk mencintai seseorang. Kenapa? Yang aku pikirkan hanya satu, aku bukanlah orang yang benar-benar bisa membuatnya jatuh hati. Semua itu sulit, berbabagai cara telah aku lakukan hanya untuk mendapatkannya. Tapi apa yang aku dapat? Cuma seberkas kata sabar yang aku simpan dalam perasaan. Aku terlalu banyak menyimpan harapan sampai-sampai aku lupa bahwa dia tak akan menganggap aku lebih. Untuk menjadi orang yang tergolong istimewa untuknya pun aku jauh dari kata bisa, hingga suatu saat aku berpikir. Apa kali ini aku harus mengalah dengan semua kenyataan yang ada? Semakin aku jalani dan aku bulatkan untuk tetap mengejarnya semakin aku sadar, dia takkan pernah mengerti apa yang aku rasa. Mengejar sebuah penyesalan, mengobati semua luka hingga aku bersedia apapun untuknya. Mungkin dia sadar dengan perlakuanku yang istimewa kepadanya, hanya saja aku tau dia tak ada rasa denganku hingga dia  malas untuk menanggapi perasaanku yang ada. Dari sekian lebih lelaki mungkin aku hanyalah pecundang. Aku seakan ingin berjalan mundur menjauhinya agar aku tak terjebak di perasaan yang membodohi ini. Memang harapanku pun telah hancur berkeping-keping, aku mencintainya dan aku menyayanginya dan aku tahu sekarang. Maafkanlah aku yang terlalu memaksa dirimu untuk mencintai kurang dan lebihnya aku, aku sengaja menjadikanmu prioritasku karena aku ingin selalu dekat dengan kamu, sekali lagi aku minta maaf. Inilah akhir kisah dari sebuah pengorbanan dan perjuangan, memang perjuangan tidak pernah mengkhianati hasil tapi inilah hasil yang aku dapat, semuanya hanya berdasarkan ‘teman’. Terimakasih untuk kamu yang pernah mengisi sebagian perjalananku. Kamu tetaplah seperti itu, karena aku tahu cara untuk mundur. 



 mungkin karena aku yang terlalu egois untuk bisa mendapatkanmu.

Rabu, 03 Juni 2015

Cinta itu, Membingungkan



Kasmaran? Entahlah, aku jatuh cinta tapi tidak berharap. Aku ingin memiliki, tapi aku juga membatasi. Kadang aku cemburu, tapi aku berhak apa? Bukan masalah nol kecil bila aku mencintai seseorang tetapi aku tidak tahu apa perasaan yang sebenarnya dia pendam. Cinta, cinta dan cinta. Aku kira cinta menyenangkan, benar cinta menyenangkan tapi kadang cinta juga membimbangkan. Bimbang antara apakah aku harus menjaganya dengan cara memilikinya atau aku menjaganya dengan menyembunyikan perasaan yang ada di hati. Jujur, aku sudah lelah menjadi orang munafik. Setiap langkahku bersamanya aku anggap kesenangan, setiap langkahku bersamanya adalah keindahan. Aku bisa lebih dekat dengannya adalah anugerah, aku bisa jauh dengannya adalah sengsara. Disaat aku menulis artikel ini ku membayangkannya, aku tersenyum saat menulis setiap keindahan keindahan yang ada pada dirinya, bukan menuhankannya tapi aku hanya kagum kepada dirinya.
Sebenarnya hati tak pernah bisa di bohongi, apapun yang aku lakukan aku ingin tetap bersamanya hingga aku sadar ini bukan hanya sekedar pertemanan ataupun persahabatan. Oh, tidak. Ternyata aku gali lagi perasaanku ini adalah cinta yang mengatas namakan persahabatan. Aku sungguh munafik tidak mengakuinya, aku hanya berkata kepada orang lain aku hanya berteman dengannnya, hanya persahabatan yang aku jalani tidak lebih dari niat untuk menjaganya. “hahaha”, aku tertawa bila aku mengakui peristiwa yang aku alami saat ini.
Namanya juga cinta, tak semuanya harus berjalan lancar. Saat ini yang aku galaukan aku tidak pernah tahu apa isi hatinya sekarang. Apakah mungkin aku tidak pernah peka dengan hatinya? Atau aku tak pernah mengerti dengan semua yang aku jalani saat ini. Sebenarnya aku hanya lelaki berhati tempe. Aku selalu membawa semua keindahan bersamanya ke dalam perasaanku. Apakah aku ini bodoh, tolol atau tidak mengerti perjalanan kami saat ini? apakah dia juga menganggap lebih seperti yang aku rasakan? Apakah dia jatuh cinta denganku? Tak biasanya aku merasakan perasaan sesulit ini, aku sadar aku bukan lah seorang anak ingusan yang tak mengerti cinta. Aku sudah remaja yang akang berkembang menjadi orang dewasa. Remaja yang sudah mengerti quotes-quotes bijak, remaja yang sudah mengalami banyak perjalanan cinta, remaja yang sedikit lagi akan menjadi seorang pemimpin keluarga. Tapi mengapa aku tidak bisa mengerti dengan perasaanya? Aneh.
Saat ini aku hanya bisa menyembunyikan egoku untuk memilikinya, membatasi diri untuk lebih dekat dengannya. Aku sadar aku belum pantas dengannya. Bila suatu hari nanti dia memang ada memiliki hati denganku, aku tahu saat itulah di sudah sadar dan saat itulah dia sudah tahu aku memiliki perasaan yang untuk sulit aku nyatakan karena berbagai hal ketakutan. Aku hanya bisa mencintai langkahnya dengan cara berdiam diri.
Aku dengar kata hingga aku meliat novel ada kata kiasan, ‘Jatuh Cinta Diam-Diam’. Mungkinkah hal yang aku alami saat ini adalah cerita di sebuah novel? Apabila ku ceritakan aku dan dia mungkin tak pernah ada habisnya. Berawal dari ketidak kenalan dia menjadi prioritas utama yang aku pikirkan. Dan yang aku tahu bila peristiwa yang aku alami ini adalah cerita sebuah novel romansa romantis yang di jual di took gramedia. Aku yakin, semua akan berakhir manis.

Senin, 11 Mei 2015

Yang Aku Tahu, hanya Teman


“Qi, kok ngelamun aja, ada masalah?”, ucap seorang wanita manis yang tepat duduk di samping bangku taman kota yang terletak di daerah Surabaya. Dia bukan wanita yang asing bagiku, dia wanita yang sangat aku kenal luar dalamnya. Banyak yang aku tahu darinya, dari kesehariannya, apa yang ingin dia kerjakan hingga jadwal kuliah dia pun aku tahu meski kami berbeda Universitas.
“oh, engga. Kalem aja hehe,”jawabku dengan sedikit tertawa membalas sapaannya tadi.
“sebenarnya apa sih yang kamu pikirkan? Kaya engga ada waktu aja buat ngelamun,” balasnya dengan celoteh dengan sedikit nada marah. Walaupun dia agak merajuk, aku tahu dia tak akan merajuk lama. Kenapa? Karena dia sudah sering bersamaku dan aku tahu sifatnya, dia engga bakal tahan buat tak bicara lama-lama. Aku perlahan meliat raut wajah marahnya, yang aku tau dia sungguh mempesona. Matanya yang bulat, wajah yang agak lonjong, badannya yang kurus dan rambutnya yang panjang ditambah hiasan sebuah kip warna merah muda di kepalanya. Aku hanya bisa tersenyum meliat dia merajuk, aku memberanikan diri menyambut tanganku di kepalanya, aku usap perlahan sambil berkata, “Kenapa harus marah sih? Maafin aku yah, Ris. Aku jajanin ice cream mau?”. Yang aku lihat wajahnya perlahan mulai tersenyum lalu dia mengangguk. Aku pun meraih tangan kanannya yang agak kasar tapi di balik sisi kasar itu terdapat sentuhan tangan yang begitu lembut selembut kapas. Kami pun berdiri pergi beranjak dari bangku yang sudah lama kami duduki.

*****
Cahaya matahari pagi begitu menyilaukan, walaupun begitu aku akan pergi ke sekolah dan mempersiapkan diri untuk Ujian Akhir Nasional hari ini. Ini memang hari pertama aku ujian untuk tingkat SMP, yang aku rasaskan gugup, deg deg deg-an dan bayangan soal yang sungguh membuat aku takut bila aku tak bisa mengerjakan soal tersebut. Tapi sudahlah, bagaimanapun hari ini pasti tiba aku harus benar-benar siap, aku harus lulus tahun ini. Saat tepat sudah di sekolah aku agak bingung mencari ruanganku untuk mengerjakan soal, kelasnya acak dan siswa di beri tahu ruangan pas hari H telah tiba, sungguh aneh. Kelas demi kelas aku lalui, hingga akhirnya aku sampai diruang nomor 7. Disitu terdapat foto dan nomor peserta ujianku. Ada beberapa teman kelasku yang berada satu ruangan denganku dan juga banyak teman yang tidak satu kelas denganku. Aku hanya berdoa, aku berada duduk di belakang sehingga tidak terlalu dalam pengawasan sang pengawas hari ini.
Bel masuk kelas pun berbunyi, bel itu berbunyi 15 menit sebelum waktu ujian di mulai. Hal itu di karenakan aku kami sebagai siswa harus mengisi nama di LJK yang membutuhkan waktu tidak sedikit. Aku mencari tampat dudukku yang bertempel nama dan nomor pesertaku. Aku berjalan melalui kursi demi kursi hingga aku mendapatkan tempat duduk di ujung kanan nomor 2 dari belakang. Ah, hatiku begitu senang. Terima kasih tuhan, engkau mendengarkan doaku. Aku langsung duduk di bangku kursi yang telah di sediakan panitia ujian sampai aku meliat sosok wanita manis yang berjalan dari depan, sebut saja namanya,Riska. Aku hanya tersenyum meliat dia, dan dia pun juga membalas senyumku. Riska memang orang yang ramah hingga aku suka melihat tingkah lakunya saat di sekolah. Sebenarnya rasa suka terhadap wanita pertama kali aku rasakan kepada Riska, hanya saja aku tidak berani untuk mendekatinya. Dia wanita yang manis, apalagi dia adalah anak seangkatanku. Aku tidak pernah berani mendekati teman seangkatanku. Bagiku adek kelas lebih gampang di dapatkan. Karena seburuknyaa tampang wajah seorang kaka kelas akan terasa lebih ganteng kalo adek kelas yang melihat.
Bel waktu mengerjakan soal telah dibunyikan. Aku dengan giat membaca soal yang telah di berikan oleh pengawas kelasku hari ini. Mungkin karena aku terlalu semangat untuk mengerjakan soal ujian, aku tak sadar kalau Riska duduk tepat di belakangku. Aku menengoknya perlahan ke belakang, aku lihat dia juga serius dengan soal yang dia kerjakan, hingga waktu sudah menunjukan 9.30. semua siswa yang mengerjakan sudah selesai semua hanya saja banyak dari mereka masih mengoreksi jawaban yang mereka kerjakan. Di waktu itu aku sudah selesai karena aku salah satu siswa yang pintar dalam hal mata pelajaran Bahasa Indonesia. Aku melihat ke belakang tempat Riska mengerjakan soal, aku yang emang hanya sebatas tahu orangnya menegurnya lebih dulu.
“Udah selesai ngerjain soalnya?’
“Sudah kok, Qi. Emang kenapa? Kamu belum selesai, yah? Mau aku bantuin?”. Aku rada kaget mendengar dia tau sapaan namaku. Aku pikir dia tak tahu aku siapa, ternyata dia tahu namaku. Sebenarnya aku yang lebih tahu dengana dia, kenapa? Karena aku sering memperhatikan dia, aku sering melihat dia dari kejauhan, meliat dia sedang bercanda dengan temannya dan melihat dia sedang tersenyum manis kepada mantan pacarnya. Sungguh hal yang membuatku kaget!
“Eh udah kok Ris, aku Cuma nanya aja soalnya kamu diem aja dari tadi,” sahutku dengan sedikit tawa di wajahku.
“aku tadi diem karena aku bosan lama banget keluar kelasnya, padahal aku udah selesai dari tadi,” jawabnya. “Kamu engga bosan yah,Qi nunggu lama kaya gini? Sambungnya sambil menampak wajah cemberutnya kepadaku.
“bosan sih, tapi apa daya emang udah ada peraturannya kalo ‘siswa hanya boleh keluar pas bel waktu selesai ujian di bunyikan’” Jawabku mencoba menghibur Riska yang tengah mati merasakan bosan. Dia hanya membalas dengan wajah yang kembali cemberut dan aku hanya memandang wajahnya dengan senyuman, dari percakapan ini  aku pun bisa lebih dekat denganya.

*****
“PING!!!”, terdengar suara seseorang nge-bbm ke Blackberryku. Aku coba lihat ternyata Riska. Aku kaget kenapa Riska ngehubungi aku pagi-pagi buta. Tapi sudahlah, mungkin dia ada keperluan mendesak. Aku pun membalas bbm-nya dengn ramah, “ada apa, Ris?”. Tak perlu menunggu waktu lama ternyata bbm kembali masuk, dan Riska berkata. “Rifqi, kita ke sekolah yuk pagi ini. Aku kangen makan nasi lalapan di sekolah, mau engga temenin aku?”. Aku yang begitu senang saat aku di ajaknya langsung saja meiyakan tanpa berpikir panjag lebar, “Iya, aku mau!”. Langsung saja aku melompat dari ranjang kamarku menuju kamar mandi, aku mencoba mandi sebersih dan seharum mungkin agar aku tidak membuatnya kecewa dengan penampilanku hari ini. Tak perlu waktu lama, aku menyelesaikan mandiku dan bergegas pergi ke kmar untuk mencari seragam sekolah yang sudah lama tak aku pakai. Wajar saja, setelah selesai ujian kami para kelas 9 di perbolehkan untuk tidak pergi ke sekolah karena kami sudah menepuh akhir dari sekolah tingkat SMP. Jam sudah menunjukan pukul setengah 8, aku pun pergi sendiri di sekolah untuk menanti makn bareng sam Riska. Ekspetasi di otakku pun muncul, mungkin saja nanti dari makan bareng malah jadi cinta-cintaan.
Saat tiba di depan gerbang sekolah, Riska ternyata sudah berada di depan gerbang menunggu aku yng agak telat datangnya.
“Udah lama yah nunggunya?” tanyaku dengan sedikit senyuman yang aku beri padanya.
“Ah, engga. Aku aja baru nyampe disini.” Jawabnya. “Ayo cepet ke kantin, udah engga sabar lagi tau makan di sini.” Sambungnya dengan sedikit senyum di wajahnya. Aku pun mengangguk dan tersenyum lalu berjalan beriringan sampai kantin sekolah.
Saat sudah memesan makanan kami duduk di meja kantin paling ujung, kami bercerita panjang lebar apa saja yang di lakukan pas libur panjang kaya gini, sempat ada canda tawa antara kami. Sampai suatu ketika kami terdiam dan hanya saling menatap. Aku mencoba perlahan mengusap rambutnya yang panjang hingga tanganku tepat berada di atas kepalanya. Hal bodoh apa yang aku lakukan? Masing-masing dari kami hanya saling menatap mata sampai kami lupa dan kenapa hal ini terjadi.aku mencoba mengusap kepalanya yang lembut, aku merasakan dia terlihat tersenyum malu hingga aku menghentikan hal bodoh ini. Sungguh malu kenapa aku melakukan hal tadi, kenapa ini terjadi? Ini terjadi karena hasratku ingin dekat denganya.
“Kenapa stop?” Tanyanya sambil tersenyum nakal kepadaku.
“Lho? Emang kenapa?” aku pun membalas senyumnya dengan sedikit tertawa jahil. “Ada hal yang aku pengen tau dari kamu, Ris?” sambungku.
“Terus apa itu?” tanyanya sambil tersenyum.
“Apakah tangan kamu lembut, Ris? Apa aku boleh memegangnya sebentar?”
“Boleh,” Jawabnya sambil mengulurkan tangannya, aku pung memegang erat tangannya, hingga jari jemariku masuk di sela tangannya. Genggaman kami semakin erat, seperti kami tak ingin berpisah dan tak ingin pergi jauh. Aku merasakan kehangat tangannya, aku sungguh menikmatinya. Hingga aku tahu aku merasakan hal yang bernama cinta dengannya.

*****
“Mas, Ice cream vanilla sama cokelatnya dua yah, mas,” ucapku meminta kepada mas tukang jual ice cream dekat taman kota ini.
“Ini, nak Ice cream-nya” kata mas penjual ice cream tersebut sambil mengasihkan ice cream yang kami pesan. Aku pun mengasihkan satu ice cream rasa cokelat kepada Riska yang sudah menunggu sambil berdiri di dekatku. Aku melihatnya makan dengan lahap, aku suka melihatnya seperti ini. Mungkin karena terlalu lahap, Riska tak sadar ada bekas cokelat di bibirnya. Aku pun mengambil tissue di saku celanaku dan segera membersihkan bekas cokelat di bibirnya. Bibirnya begitu lembut aku pun merasakan itu. Dia hanya tersenyum dan aku membalas senyumannya. Di sela keromantisan kami, dia tersadar ada sesuatau yang bergetar di celananya, smartphone-nya bergetar menandakan ada suatu media social yang masuk notifikasinya. Riska pun mencek smartphone-nya dengan segera. Ternyata notifikasinya tersebut adalah Rio, mantannya dulu. Terlihat tatapan matanya tengah berubah drastis dari tersenyum hingga agak cemberut.
Sebenarnya selama ini aku hanyalah teman dekatnya, tidak lebih tidak kurang. Hanya teman dekaat saja. Pertemuan dan awal percakapan kami yang begitu sengaja membuat aku tahu tentang segalanya tentang dia. Rio adalah mantan yang masih dia sayangi selama 2 tahun ini. Mungkin segelintir pembaca cerita ini heran kenapa aku tak mendekati dan menoba menjalin hubungan lebih dengan Riska. Aku hanya bisa menjawab, dari segelintir wanita yang aku sayang hanyalah Riska.  Walaupun aku mencoba selalu ada untuk menghiburnya hanya saja aku takut, takut untuk hubungan lebih dari teman dekat. Ingin ku ungkapkan rasaku terhadap Riska, tapi aku tau mungkin dia lebih memilih Rio disbanding aku.
Aku mencoba menghela nafasku sedalam mungkin. Aku mencoba merangkulnya hingga dia bersandar di bahuku, dalam rangkulku aku mencoba menenangkannya agar dia tidak sedih lagi. aku menjelaskan semua akan baik-baik saja tidak ada yang salah, dan mencoba membuatnya tersenyum lebar lagi. Riska pun perlahan tersenyum dan menatap mataku, ada pandangan yang janggal di matanya, apa itu? sebutir air mata jatuh dari matanya. Aku sering melihatnya menangis karena mantannya, tapi aku bisa berbuat apa? Aku hanya bisa mengusap air matanya yang jatuh ke pipinya. saat air matanya mulai mengering, di rangkulanku dia memeluk tubuhku yang lebih tinggi dari badannya. Aku sedikit bisa bernafas lega. setidaknya dia berhenti menangis karena Rio dan berada di pelukku. Tapi aku tahu, apapun yang aku lakukan bersama Riska adalah sebuah kenyataan konyol, aku hanya terjebak di sebuah hubungan yang beratas namakan ‘teman’.

Jumat, 27 Maret 2015

Why God? I Getting Hurt Again



Hai semua para pembaca blog gue yang agak aneh, lama tak berjumpa dan lama tak menyapa kalian yang sering banget ngebuka isi blog gue padahal kadang engga jelas isi dan maksud tulisan tersebut. Yeay,  kali ini gue menyempatkan untuk menulis kembali dan gue pengen cerita tentang ‘Bad Day’ gue di hari Saturday kali ini.
Bukan hanya dari pagi gue sial, karena kelakuan jail temen gue, gue malah yang di marahin guru. Shit engga tuh? Tapi udah ah, bukan itu sih bad day gue kali ini. Tetapi seseorang yang gue banggain sebagai kekasih gue ternyata mutusin gue di saat gue lagi sayang-sayangnya. Gila engga? Ya begitulah namanya juga anak muda pacaran, ada saatnya gue bahagia sama pacar dan pasti ada saatnya gue bakal sendiri lagi.
Awalnya aneh, kenapa sih gue mesti diputusin? Emang sih gue engga terlalu ganteng amat, kalo masalah duit gue juga ngejajanin cuma dari uang jajan gue seminggu, dan untuk masalah transportasi? Gue Cuma pakai Honda Beat warna hijau yang selalu ngikut kemana gue berjalan. Dan semua itu engga ada masalah bagi dia, dan kenapa dia mutusin gue? Entah gue juga males buat ngebahas, pokoknya mungkin bagi dia kami udah engga sejalan lagi. Padahal rumah kami berdua satu jalur loh (udah lupain).
Nah sekarang gue sempat bingung, kenapa sih gue sering sial kalo udah ketemu ama namanya cinta? Terkadang pas gue pacaran ama cewe dan gue menuntut katanya gue mengekang dia, dan di saat gue pacaran ama cewe lain dan gue bebaskan asal dia tetap ingat ada batas wajar, malah gue salah karena gue terlalu membebaskan dia. Please God, I don’t understand about it!! Kenapa sih hampir semua cewe suka semau moodnya?
Jujur, gue udah sering banget di sakitin sama namanya makhluk tuhan bernama cewe. Dari yang adek kelas, yang seumuran bahkan sampai yang lebih tua di banding gue, apa emang gue engga cocok buat cewe zaman sekarang? Apa ada yang kurang dari gue gitu? Apa salah gue?  apaan coba jadi ditinggalin mulu sama cewe? Oh God, can u help me to destroyed about this? Gue pengen banget yang namanya di sayang, yang namanya di perjuangin dan yang namanya di perhatiin lebih itu, GUE PENGEN BANGET!!! Dan ujungya sama, I getting hurt again. Dan kali ini sungguh gue merasa bego banget, gue berani memberi kasih sayang ke dia tapi malah ujungnya jadi kaya gini. Eh cewe yang baru mutusin gue, seharusnya lo tau kalo gue udah sayang banget ama lo gilaaa, lo tau engga sih gimana rasanya di bikin kaya gini????
Ah sudahlah gue cape buat mengeluh, toh emang sih umur gue masih remaja belum cukup dewasa buat yang namanya pacaran. Gue juga masih perlu pekerjaan yang layak biar buat ngejujur anak orang agak mahalan dikit. Dari kejadian kali ini semestinya gue harus bersyukur. Kenapa? Karena walaupun gue udah kebelet sayang ama tuh cewe, pasti ada jalan yang indah kok. Mungkin aja nanti dia jodoh gue atau bukan, tapi itu bukan masalah karena siapa sih yang tau masa depan orang? 
Nasi udah jadi bubur, semua itu sudah terlanjut. Tapi gue percaya kok, tuhan akan menyediakan ayam suir, telur suir, bawang goreng dan kecap agar nasi yang terlanjur jadi bubur bakal lebih indah dariada nasi yang Cuma hampa. Oh iya, doain yah guys siapa aja yang ngebuka ini tulisan di blog gue, Insyaallah selesai ujian gue bakal mencoba untuk menulis sebuah novel setelah naskah naskah gue yang dulu udah berantakan. Doain yah fren, sampai jumpa lagi.