Senin, 21 Desember 2015

Hujan Harapan

kita terlalu banyak mengukir cerita di kenangan masa lalu, hingga hujan pun tak dapat menghapus semua cerita masalalu itu. Aku menganggap semua akan berujung manis, ternyata sama saja kau memilih memalingkan wajahmu dari diriku. Aku yang sudah banya menggantungkan harapan pun tak tahu harus bagaimana. Pahamilah, kau adalah sosok yang aku dambakan yang selalu aku ingat dan selalu berada di setiap isi doaku. Sesungguhnya aku ingin mengatakan betap sakitnya aku setelah kau beranjak pergi, tak pernahkah kamu mengerti hati ini masih saja berteriak kamu yang sangat masih aku inginkan. Yang aku rasakan saat itu aku hanya sebagai pelengkap, bukan sebuah prioritasmu. Harusnya kau sadar, betapa aku besar rasa sayangku hingga aku selalu mengutamakan tentang dirimu.

berbagai cara sudah aku laukukan untuk membuat aku melupakan kisah harapan tentang kamu, tapi masih saja usahaku itu pudar tak ada artinya. Sosokmu selalu ada untuk menghantui setiap tidurku, kau selalu saja ada di dalam pikiran dan mimpiku. Aku bersedih bukan karena aku tak mendapatkan dirimu, tapi aku bersedih karena aku masih saja tak bisa membuatmu jatuh hati kepadaku. Apa salahku hingga kau membuat diriku jatuh cinta sejatuh-jatuhnya sampai tak bisa melupakan bayanganmu?

Aku sadar memang aku bukan seorang manusia yang bisa menjadi prioritasmu, tapi pekalah sedikit rasa sakitku itu masih ada, masih bertengger dengan bekas luka lain yang pernah kamu berikan dan itu pun tak pernah kering karena ingatan tentang dirimu membuatku tak bisa mengobati luka ini. Aku sadaar aku bukanlah orang yang kamu pilih. tapi, mengapa harus aku yang mengharapkanmu? Mengapa harus aku yang bersedih karena tak memilikumu? Ini sungguh tidak adil, kau berbahagia dengan yang lain. Sedangkan aku masih berpegian tanpa tahu tujuan dengan membawa hati yang kosong. Terlalu sakit menjalani semua ini, aku mohon berhentilah kamu berputar di ingatanku, aku hanya ingin tenang tanpa harus mengenang kamu.

Tahukah kamu? Orang yang fanatik dengan cintamu ini masih saja mencari tahu kabar tentang bagaimana kamu saat ini, masih saja ingin tahu apa saja yang sudah kau lakukan hari ini. Maaf bila perlakuan itu mengganggumu. karena inilah aku, dengan sejuta harapan dan luka yang aku bawa karenamu. Sesungguhnya aku merindukan kamu, hanya saja kau seperti baik-baik saja tanpa aku.

sebaiknya kamu menjauhlah, tapi sebelum kamu menjauh ajari aku dengan benar bagaimana aku bisa melupakan sosokmu dengan sempurna.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar