Kasmaran?
Entahlah, aku jatuh cinta tapi tidak berharap. Aku ingin memiliki, tapi aku
juga membatasi. Kadang aku cemburu, tapi aku berhak apa? Bukan masalah nol
kecil bila aku mencintai seseorang tetapi aku tidak tahu apa perasaan yang
sebenarnya dia pendam. Cinta, cinta dan cinta. Aku kira cinta menyenangkan,
benar cinta menyenangkan tapi kadang cinta juga membimbangkan. Bimbang antara
apakah aku harus menjaganya dengan cara memilikinya atau aku menjaganya dengan
menyembunyikan perasaan yang ada di hati. Jujur, aku sudah lelah menjadi orang
munafik. Setiap langkahku bersamanya aku anggap kesenangan, setiap langkahku
bersamanya adalah keindahan. Aku bisa lebih dekat dengannya adalah anugerah,
aku bisa jauh dengannya adalah sengsara. Disaat aku menulis artikel ini ku
membayangkannya, aku tersenyum saat menulis setiap keindahan keindahan yang ada
pada dirinya, bukan menuhankannya tapi aku hanya kagum kepada dirinya.
Sebenarnya
hati tak pernah bisa di bohongi, apapun yang aku lakukan aku ingin tetap
bersamanya hingga aku sadar ini bukan hanya sekedar pertemanan ataupun
persahabatan. Oh, tidak. Ternyata aku gali lagi perasaanku ini adalah cinta
yang mengatas namakan persahabatan. Aku sungguh munafik tidak mengakuinya, aku
hanya berkata kepada orang lain aku hanya berteman dengannnya, hanya
persahabatan yang aku jalani tidak lebih dari niat untuk menjaganya. “hahaha”,
aku tertawa bila aku mengakui peristiwa yang aku alami saat ini.
Namanya
juga cinta, tak semuanya harus berjalan lancar. Saat ini yang aku galaukan aku
tidak pernah tahu apa isi hatinya sekarang. Apakah mungkin aku tidak pernah
peka dengan hatinya? Atau aku tak pernah mengerti dengan semua yang aku jalani
saat ini. Sebenarnya aku hanya lelaki berhati tempe. Aku selalu membawa semua
keindahan bersamanya ke dalam perasaanku. Apakah aku ini bodoh, tolol atau
tidak mengerti perjalanan kami saat ini? apakah dia juga menganggap lebih
seperti yang aku rasakan? Apakah dia jatuh cinta denganku? Tak biasanya aku
merasakan perasaan sesulit ini, aku sadar aku bukan lah seorang anak ingusan
yang tak mengerti cinta. Aku sudah remaja yang akang berkembang menjadi orang
dewasa. Remaja yang sudah mengerti quotes-quotes bijak, remaja yang sudah
mengalami banyak perjalanan cinta, remaja yang sedikit lagi akan menjadi
seorang pemimpin keluarga. Tapi mengapa aku tidak bisa mengerti dengan
perasaanya? Aneh.
Saat
ini aku hanya bisa menyembunyikan egoku untuk memilikinya, membatasi diri untuk
lebih dekat dengannya. Aku sadar aku belum pantas dengannya. Bila suatu hari
nanti dia memang ada memiliki hati denganku, aku tahu saat itulah di sudah
sadar dan saat itulah dia sudah tahu aku memiliki perasaan yang untuk sulit aku
nyatakan karena berbagai hal ketakutan. Aku hanya bisa mencintai langkahnya
dengan cara berdiam diri.
Aku
dengar kata hingga aku meliat novel ada kata kiasan, ‘Jatuh Cinta Diam-Diam’. Mungkinkah
hal yang aku alami saat ini adalah cerita di sebuah novel? Apabila ku ceritakan
aku dan dia mungkin tak pernah ada habisnya. Berawal dari ketidak kenalan dia
menjadi prioritas utama yang aku pikirkan. Dan yang aku tahu bila peristiwa
yang aku alami ini adalah cerita sebuah novel romansa romantis yang di jual di took
gramedia. Aku yakin, semua akan berakhir manis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar