Aku perlahan menyerah untuk
mencintai seseorang. Kenapa? Yang aku pikirkan hanya satu, aku bukanlah orang
yang benar-benar bisa membuatnya jatuh hati. Semua itu sulit, berbabagai cara
telah aku lakukan hanya untuk mendapatkannya. Tapi apa yang aku dapat? Cuma seberkas
kata sabar yang aku simpan dalam perasaan. Aku terlalu banyak menyimpan harapan
sampai-sampai aku lupa bahwa dia tak akan menganggap aku lebih. Untuk menjadi
orang yang tergolong istimewa untuknya pun aku jauh dari kata bisa, hingga suatu
saat aku berpikir. Apa kali ini aku harus mengalah dengan semua kenyataan yang
ada? Semakin aku jalani dan aku bulatkan untuk tetap mengejarnya semakin aku
sadar, dia takkan pernah mengerti apa yang aku rasa. Mengejar sebuah
penyesalan, mengobati semua luka hingga aku bersedia apapun untuknya. Mungkin dia
sadar dengan perlakuanku yang istimewa kepadanya, hanya saja aku tau dia tak
ada rasa denganku hingga dia malas untuk
menanggapi perasaanku yang ada. Dari sekian lebih lelaki mungkin aku hanyalah
pecundang. Aku seakan ingin berjalan mundur menjauhinya agar aku tak terjebak
di perasaan yang membodohi ini. Memang harapanku pun telah hancur
berkeping-keping, aku mencintainya dan aku menyayanginya dan aku tahu sekarang.
Maafkanlah aku yang terlalu memaksa dirimu untuk mencintai kurang dan lebihnya
aku, aku sengaja menjadikanmu prioritasku karena aku ingin selalu dekat dengan
kamu, sekali lagi aku minta maaf. Inilah akhir kisah dari sebuah pengorbanan
dan perjuangan, memang perjuangan tidak pernah mengkhianati hasil tapi inilah
hasil yang aku dapat, semuanya hanya berdasarkan ‘teman’. Terimakasih untuk
kamu yang pernah mengisi sebagian perjalananku. Kamu tetaplah seperti itu,
karena aku tahu cara untuk mundur.
mungkin karena aku yang terlalu egois untuk bisa mendapatkanmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar