Rabu, 06 Agustus 2014

Tak Tersampaikan



Pagi ini begitu dingin, hujan yang menghujani kota Banjarmasin mulai subuh tadi membuatku harus menunggu lama hingga teduh sampai akhirnya aku bisa bersekolah pada jam delapan pagi. Rasa enggan menginjakkan kaki di sekolah memang ada, tapi semua kalah dengan rasa rinduku kepada seseorang yang aku suka. Bukan! Dia bukan orang yang aku suka, tapi orang yang aku sayang.
“Baru masuk sekolah?” Tanya seorang perempuan dengan tatapan manisnya yang bernama Muna. Tatapan matanya yang begitu indah membuat mulutku membisu beberapa saat. Hal ini yang selalu terjadi kepadaku saat aku bertemu dengannya. Begitu bodoh sebenarnya, entahlah, aku terbiasa dengan keadaan yang seperti ini. “Lho, kok diem aja?”.
tingkah dan menjawab pertanyaannya tadi. “Eh, kamu, toh? Iya nih, aku baru bisa berangkat pas hujannya redaan dikit. Soalnya kan aku bawa motor.”
“Kenapa engga bawa mobil? Kan, lo bisa nyetir.”  Tanya Muna.
“Dikasih motor aja udah cukup kali, Mun.”
“Daripada lo jadi basah kuyup kaya gini, Rifqi?”
“Ya udahlah, engga usah di bahas.” Ucapku sambil mengeringkan sebagian badanku yang basah karena air hujan.  Sifat dewasanya sangat aku rasakan, mungkin karena umurnya yang lebih tua satu tahun dariku membuatnya begitu perhatian kepadaku.
Muna itu kaka kelasku sejak aku sekolah di sini, sekarang dia kelas XII IPA, dan aku kelas XI IPA. Aku mengenalnya saat dia menjadi kaka pembimbingku saat masa orientasi saat masuk SMA. Dia begitu ramah dan sering berbagi cerita denganku. Dari hal tersebut membuat aku punya perasaan yang lebih kepadanya dan menjadikan dirinya sebagai orang yang spesial bagiku, tetapi mungkin hatinya tertuju kepada orang lain.
“Eh, tunggu bentar,” tangannya merogoh saku roknya seperti ada sesuatu yang di ambilnya. “Hari ini gue tanding basket jam empat. Ini tiket buat, lo.”
“Wuih, thanks banget yah buat tiketnya,”
Dia hanya membalas dengan senyuman dan berbalik meinggalkanku. Senyumannya yang begitu manis mampu membuat aku mati rasa melihatnya. Dia memang perempuan yang tomboy, tapi di balik sifatnya itu masih ada sosok perempuan yang mampu membuatku merasa jatuh cinta. Iya, ini pertama kalinya aku jatuh cinta. Dia juga seorang perempuan yang cukup ‘Bintang’ di sekolah ini, selain sebagai anak basket putri sekolahku, dia juga berperan di organisasi sekolah. Dia perempuan yang hebat dan juga begitu dewasa. Memang tidak salah aku jatuh cinta kepadanya, tapi aku merasa akan terjadi hal yang salah bila aku mengungkapkan perasaanku kepadanya. Kenapa? Karena aku melihat siapa diriku, aku hanya seorang anak yang ‘biasa’ saja. Tidak se-‘Bintang’ Muna yang memang hebat di segala bidang. Yang aku bisa hanyalah memendam, tanpa mengungkapkan perasaan yang ada di hati ini. Sungguh kenyataan yang memilukan.

****
Mataku begitu berat untuk di buka, aku begitu nyaman dengan tidur siangku. Wajar saja, malam tadi aku begadang untuk menonton pertandingan tim sepak bola favoritku, Manchester United. Pikiranku setelah bangun pun entah berkhayal kemana saja dia inginkan, hingga aku teringat dengan suatu janji. “Astaga! Jam 4 Muna tanding!”.
Aku bergegas meninggalkan tempat tidur dan segera pergi ke kamar mandi. “Oh, Tuhan kenapa bisa lupa?”.  Saat selesai mandi jam sudah menujukan pukul 3.50, tak ada waktu lagi,aku harus bergegas. Aku pilih baju kaos berwarna biru dan celana jeans berwarna gelap di balut dengan jaket berwarna hitam, saatnya sudah siap untuk ke tempat pertandingan. Aku membawa motor dengan kecepatan yang sangat cepat, meski aku tahu sudah terlambat untuk melihatnya bertanding, tapi lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali!
Setelah sampai di tempat pertandingan aku berlari secepat mungkin karena pertandingan sudah mulai. Dalam diri ini tidak ingin melewatkan lebih banyak waktu lagi karena keterlambatanku.
Saat aku masuk ke pinggir lapangan pertandingan sudah masuk quarter ke-2, “Syukurlah…” ucapku dalam hati yang langsung duduk di sebuah bangku penonton. Pemandangan di gedung olahraga yang memang khusus untuk permainan basket ini sungguh tidak asing lagi, aku sangat sering menonton pertandingan basket semenjak aku mengenal Muna. Ketertarikanku kepada sosoknya membuat aku kagum bila melihat seorang perempuan men-dribble bola basket, apalagi kalo seorang perempuan sampai melakukan shooting-an bola basket yang mulus masuk ke ring lawan, begitu terpesona aku melihat hal tersebut. Tetapi sebagaimana pun hebatnya perempuan lain bermain basket, tetap saja yang aku lihat adalah sosok Muna. Dari caranya yang berlari hingga caranya men-dribble bola sangat aku suka. Sesekali bila ada kesempatan aku selalu mengambil gambarnya dari kamera handphone-ku. Tatapan serius saat menghadapi lawan menambah kesan tomboy di dalam dirinya, keanggunannya hilang dalam sekejap. Akan tetapi sorot matanya, rambutnya yang bergelombang tetapi di ikatnya saat bermain dan dahinya yang berkeringat membuat sensasi wajah manisnya terpancar dari segala gerakan yang dia perbuat. Terkadang aku suka tertawa kecil sendiri melihatnya bertingkah saat bermain basket, selalu sama tapi tak pernah bosan untuk dilihat.
4x10 menit sudah di lewati, tim basket putri sekolahku menang banyak angka atas tim basket sekolah lawan. Suasana gembira pun terlihat dari wajah Muna dan teman-temannya. Segerombolan perempuan tangguh yang begitu anggun dengan bintangnya, Muna. Sosoknya yang begitu tomboy membuat aku lupa diri bila mengingatnya. Sesekali tatapan matanya beralih kepadaku, aku hanya memberikn senyuman tanda selamat kamu sudah menang di pertandingan hari ini, Muna!
Kegemberiaan mereka  mulai memudar, beberapa saat lagi permainan selanjutnya akan di mulai. Mereka pergi ke bench pemain untuk membereskan semua keperluan mereka untuk bermain basket. Sesudah dari bench, Muna menghampiriku yang sudah duduk manis setelah melihat dia bermain..
“Selamat, kamu hebat mainnya, Mun.” sambil memberikan sebotol air mineral tanggung untuk menghilangkan dahaga yang disebabkan oleh pertandingan tadi. Dia cuma membalas dengan langsung mengambil air mineralnya dan duduk di sampingku dengan wajah yang cukup kelelahan dan menselonjorkan kakinya yang tak begitu panjang. Aku lihat keringatnya begitu bercucuran, handuk yang dia punya pun seperti tak ada arti kalau untuk membersihkan keringatnya. Sedikit senyuman yang dia berikan kepadaku setelah meminum air mineral itu membuat aku membalas senyumanya, bentuk wajahnya yang begitu manis saat tersenyum membuatku ingin mencium keningnya satu kali saja. Tapi yang aku pikirkan bila aku melakukan hal itu mungkin saja sebuah tanda merah bekas gamparannya mmelekat di pipiku.
“Kamu cantik kalau lagi keringetan kaya gini,” aku merogoh saku celanaku dan mengambil tisu berukuran kecil, “Tapi kamu lebih manis kalau keringatnya aku bersihin.” Yang aku coba adalah menjangkau wajahnya untuk membersihkan keringatnya, tangan kananku yang begitu kaku mencoba melap keringat yang ada di dahi, pipi dan matanya. Muna terlihat diam saja dan memandangi wajahku saat diriku membershikan keringatnya. Aku tau, apa yang aku lakukan begitu bodoh tapi aku selalu ingin lebih dekat dengannya seperti ini.
“Memang beda muka gue pas lagi keringetan sama engga lagi keringetan?” Tanyanya dengan pipi yang memerah.
“Jelas beda, dong!”
“Apaan coba?”
“soalnya kamu bisa lebih dekat dengan aku seperti ini,” Ucapku sambil menjangkau kepalanya untuk bersender di bahuku. Yang aku rasakan dia mencari letak kenyamanan untuk bisa lebih dekat dengan bahuku. Entahlah, hatiku berdebar begitu kencang. Aku tak pernah sedekat ini dengan seorang perempuan, aku melakukan apa sesuatu yang di luar akal sehatku sendiri. Tapi aku begitu menikmatinya, aku begitu nyaman di dekatnya dan Muna pun merasan nyaman untuk bersender di bahuku. Semua belum berakhir, hingga akhirnya tangan kirinya dan tangan kananku saling merangkul erat tak ingin berpisah.

****
Hubunganku dengan Muna semakin bertambahnya hari semakin erat saja, tiap hari kami pergi berdua dan selalu bergandeng tangan. Perasaan tak ingin berpisah pun selalu ada di wajah dan cara kelakuan kami saat berjumpa. Bukan hanya saja saat jumpa, tapi saat di telpon pun kami masih sering saling salah tingkah dan tidak ingin mengakhiri telepon yang sudah berjam-jam. Semuanya belum ada kejelasan dari hubungan kami karena aku pun belum tau bagaimana cara mengawalinya. Otakku selalu berpikir, bagaimana bila suatu saat nanti aku menyesal karena aku terlambat menyatakan perasaanku terhadapnya, mungkin saja penyesalan itu akan terjadi begitu larut. Tapi jika dia setia, dia tidak akan pergi meninggalkan aku. Hingga akhirnya aku berpikir dengan sangat jelas, setiap orang pasti sangat perlu kepastian, terutama seorang perempuan. Bagaiman pun caranya aku harus segera menyatakan isi hatiku ini!

****


Setangkai bunga mawar berwarna merah yang terbungkus rapi dengan pita berwarna merah muda telah aku siapkan di tanganku. Aku tidak sabar berjumpa dengannya saat dia latihan basket. Tak masalah aku akan malu saat ini, tapi yang aku pikirkan hanya perasaan senang karena setiap khayalanku adalah dia akan menerima cinta tanpa berpikir dan tanpa menunggu lama. Yang aku inginkan Muna tersenyum bahagia dan tersenyum salah tingkah oleh kelakuan yang aku perbuat. Sampai akhirnya aku masuk gerbang sekolahku pun aku belum saja berhenti tersenyum karena dunia khayalku sendiri, hingga akhirnya sebuah kejadian yang begitu membuatku kecewa terjadi di hadapanku sendiri. Muna memeluk seseorang lelaki yang memang pernah aku kenal, lelaki yang pernah menjadi masa lalunya Muna, Rico. Muna sangat jelas memeluk Rico dengan erat dan banyak air di matanya, aku tidak tahu apakah dia sedang menangis ataupun apa, hanya saja aku tidak bisa melihat seseorang yang aku sayangi bahagia karena orang lain.
Seketika melihat kejadian itu aku segera berbalik dan mencoba untuk tegar dalam senyuman palsuku. Wajahku memang tersenyum, tapi hatiku menangis. Aku berpikir mungkin Rico masih yang terbaik di hatinya, sedangkan aku? Persinggahan sementara baginya.

****
“Apakah kamu tahu kenapa aku menangis, Co?” Tanya Muna melepaskan pelukannya dan menatap mata Rico. “Seseorang lelaki yang berumur satu tahun di bawahku belum saja menyatakan perasaanya kepadaku, padahal aku begitu sabar menunggunya hingga saat ini.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar