Kamis, 20 Maret 2014

Pemerintah dan Jomblo

Assalamualaikum. Akhirnya kita berjumpa lagi tanpa harus bertemu dengan serangkaian kata yang membentuk sajak seperti puisi. Kadang kala juga bosan sih kalo cuma nulis blog yang isinya tentang kesedihan mulu, gue juga harus punya rasa yang beda! Tsahh~
Sebenarnya di blog kali ini yang bakal gue bahas adalah masalah tentang banyak orang yang memperebutkan kekuasaan di kursi meja wakil rakyat, ya maksudnya sih berhubungan sama pemilu gitu. bukannya sok ngurusin rakyat tapi yang mau gue pertanyakan apasih enaknya rebutan kursi kekuasaan kaya gitu? padahalkan kerjaannya ngurusin rakyat, engga gampang segitunya lo ngeurusin berjuta-juta umat manusia di Indonesia.
Tapi bukan masalah rakyatnya yang bakal kita kupas mendalam di post kali ini, tapi tentang masalah besar yang ada di Indonesia. Apakah itu korupsi? Ohh, bukan. Apakah itu tentang kemiskinan? Tentu saja bukan. Apakah itu pengangguran? Ohhh, masalah itu belum tepat. Jadi apakah masalah besar itu? Baiklah, langsung saja ke intinya. Jadi masalah yang saat ini melanda masyarakat Indonesia adalah, ‘Jomblo’.
Kenapa jadi jomblo yang menjadi masalah di Indonesia kali ini? seharusnya kalian sadari betapa menderitanya jomblo di Indonesia. Banyak jomblo yang mengabdi kepada Negara tapi dia tidak di berikan hak untuk hidup berdampingan. Banyak jomblo yang berkorban demi Negara tapi dia tidak pernah di perhatikan tentang masalah percintaanya. Apakah ini yang di maksud dengan Negara yang memiliki kekuasaan hukum di dalamnya?
Banyak jomblo yang menderita karena ketidakadilan dalam hubungan asmara. Contohnya saja ada seorang anak pribumi yang mengharumkan nama bangsa, dia di berikan pengharagaan oleh pemerintah dan di berikan segala kelebihan dalam berkehidupan di Negara ini. tapi pernahkah pemerintah menanyakan hubungan asmaranya? Mungkin saja anak pribumi tersebut sedang bersedih karena cintanya yang tak kunjung dia temukan. Padahal pemerintah tak usah repot-repot memberikan penghargaan mahal kepada anak pribumi tersebut, hanya berikanlah dia seorang kekasih yang baik hati, mungkin saja dia bahagia dengan itu.
Bercermin lagi pada Pancasila, kita lihat sila ke-5. “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”. Apakah sudah adil hubungan asmara rakyat Indonesia saat ini? tentu saja jawabannya belum. Kita kupas secara sesama. Dari sila tersebut terdapat kata “sosial”, yang mungkin artinya secara garis besar adalah berhubungan, berhubungan itu pasti ada dua orang, dan mungkin saja dua orang itu adalah sepasang kekasih. Bagaimana dengan jomnlo? Sendiri, tidak ada yang menemani. Pada siapa dia harus berhubungan sedangkan seorang jomblo tidak mempunyai seorang kekasih? Sungguh mengenaskan Negara kita ini.
Ingat! Tidak pernah adil Negara ini bila masih ada seorang jomblo yang teraniyaya karena tidak memiliki seorang pasangan. Mungkin pemerintah dengan kabinet baru pada tahun 2014 kali ini harus memperhatikan masalah seorang jomblo. Seharusnya seorang jomblo lama yang belum dapat pasangan itu dilindungi oleh pemerintah dan Negara. Jadi dari itu hidup seorang jomblo akan terjamin.
Padahal jumlah jomblo makin hari makin meningkat, jumlah cowo bajingan pun juga bertambah, ditambah lagi banyaknya jomblo yang belum bisa mendapatkan pasangan hidup yang baru semakin memperburuk keadaan di Indonesia. Jadi untuk para pemerintah yang baru, perhatikanlah hidup mereka, karena bila anda bisa mengendalikan dan memanfaatkan orang jomblo, maka Indonesia termasuk Negara yang maju. Dan sebenarnya seorang jomblo itu adalah seorang pemimpin yang tertunda. Wassallam!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar