Kamis, 27 Maret 2014

Cinta Ini Berbeda


Sosok lelaki berkulit putih tinggi dan mempunyai dagu yang agak lancip. Sebut saja namanya Imam. Dia lelaki soleh, untuk sholat pun dia tak pernah meninggalkannya sedikit pun. Baginya bila ingin bahagia dunia maupun di akhirat dia harus mengerjakan perintah Allah SWT. Tapi kesolehannya itu terdapat sebuah kebimbangan di hatinya. Ya, dia mempunyai hati dengan teman satu komplek tapi berbeda blok denganya. Namanya, Sinta. Bukannya tidak berani untuk mengutarakan perasaannya itu, tetapi perbedaan imanlah yang menjadi dinding penghalang paling besar yang dia hadapi.
“Bagaimana seorang anak Muslim yang terkenal soleh seperti kamu bisa memiliki hati kepada wanita yang tidak sejalan dengan agama kita, nak?” Ucap ibunya saat Imam pulang dari rumah Sinta. Sebenarnya Imam hanya mengantarkan Sinta pulang dari bimbelnya, tapi rawut wajah Imam tak bisa membohongi ibunya, ibunya mulai tahu kalau Imam mempunyai rasa cinta terhadap Sinta.
“Ibu, anakmu ini cuma mengantarkan dia pulang dari bimbelnya. Kasian dia anak perempuan pulang sendiri malam-malam seperti ini.” Jawab Imam walaupun mulut dan hatinya sedikit bertolak belakang dalam mengucapkan kalimat tadi.
“Ibu tau nak, kamu punya hati kepada dia kan? Apakah kamu tau apa jadinya perkawinan tidak seagama itu? Sama saja Zinah!” Bentak ibunya kepada Imam. Imam hanya bisa terdiam, dia memang tak pernah jatuh hati kepada wanita yang pernah dia kenal. Tetapi entah mengapa sinta bisa membuat Imam jatuh hati kepadanya? Padahal di saat Imam melaksanakan sholat Isya, Sinta selalu berdua kepada tuhannya, “satukanlah jalan kami yang berbeda, kami tahu tuhan hanya ada satu. Hanya keyakinan kami yang berbeda.”
Dan tahukah isi doa Imam setelah selesai mengerjakan sholatnya? Dia meminta kepada Allah untuk disatukan jalannya dengan Sinta, karena baru kali ini dia merasakan jatuh hati kepada seseorang yang memang dia kasihi dengan tulus.
*****
Saat Imam pulang dari kampus, dia sempatkan untuk menjemput Sinta yang sudah pulang sekolah. “Ka, kita jangan langsung pulang dulu. Kita ke taman kota saja, mungkin duduk sebentar sambil liat bunga di sana enak,” Ajak Sinta kepada Imam yang sedang mengendarai kendaraan bebeknya. Imam pun hanya bisa menyetujui permintaan Sinta, karena baginya meluangkan waktu bersama Sinta akan terasa susah bila sudah dekat rumahnya.
Sesampainya di taman mereka duduk bersampingan, mereka hanya terdiam dalam suasana hening taman kota yang masih sepi kala siang itu. Tapi entah mengapa Sinta mulai mengatakan kalimat yang sungguh membingungkan hati Imam.
“Ka, memang di Agama kaka untuk hidup berdampingan dengan beda keyakinan engga boleh yah?” Imam hanya bisa terdiam sejenak mendengar pertanyaan Sinta tadi. Belum sempat menjawab pertanyaan tadi sinta kembali berucap, “Padahal aku suka sama kaka, aku juga tahu kok hubungan kita bila akan melangkah lebih jauh ibu kaka engga bakal setuju,” sekali lagi Imam hanya bisa terdiam mendengar kalimat itu. Dalam hatinya terjadi kontak batin yang sungguh hebat, apakah dia mengutamakan perasaannya atau meutamakan aturan agamanya? Sungguh pilihan yang sungguh menyulitkan bagi anak soleh seperti Imam ini. akhirnya setelah beberapa detik berdiam diri, Imam mulai berani untuk berucap.
“De sinta, semua keyakinan pasti memiliki aturan. Itulah aturan yang ada di dalam agama kaka. kaka hanya bisa melaksanakan apa yang sudah menjadi aturan de,” balas Imam dengan wajah yang memaksa tersenyum.
“Tapi… cinta itu penyatu semua perbedaan bukan?” Sinta kembali berucap sambil menatap mata Imam yang sedang melamun. Perkataan Sinta itu membuat semakin bimbang hati Imam. Masih teringat perkataan ibunya yang tersimpan di otaknya, “Apakah imanmu akan goyang nak setelah ayahmu pergi meninggalkan kita selamanya? Apakah segitu saja iman seorang anak yang aku didik menjadi seorang muslim sejati?”. Imam berpikir secara mendalam, apa yang harus dia katakan? Dia hanya bisa terdiam dalam lamunannya.
“Kok diam, ka?”
Imam hanya membalas dengan senyuman. Sekali lagi, Imam tidak mau mengucapkan sepatah kata apapun, dia selalu menjaga setiap kata yang dia ucapkan. Dia tidak ingin salah berucap di saat perasaan dan keyakinan beradu.
“Cuma bisa diam, ka? Aku perlu jawaban ka, jawaban!”
Imam yang mulai melunakkan bibirnya, dia mulai mau berbicara dengan jujur kepada Sinta.
“Apa cinta itu harus memiliki, Sinta?” Ucap Imam dengan mata lurus ke depan. Sinta hanya terdiam dengan ucapan Imam tadi, lalu imam melanjutkan ucapannnya tadi.
“Sungguh Sinta, pertama kali hatiku bisa jatuh kepada seorang wanita adalah kamu. Tapi, kenapa harus kamu? Aku tidak tahu.”
Sinta pun menjawab ucapan Imam tadi, “jadi, kita memiliki rasa yang sama, ka?”. Rawut wajah Imam masih belum berubah, masih terasa hambar untuk dilihat oleh seorang wanita seperti sinta. Hatinya berpikir apakah wanita ini masih saja belum paham dengan ucapan pertamanya?
“Cinta memang penyatu segalanya Sinta, tapi tidak untuk hubungan kita. Aku harus mengikuti aturan keyakinanku, semua ada batasannya. Aku mengaku sayang dengan kamu, tapi  apa daya sebuah cinta bila cinta itu tidak akan abadi akhirnya?” Ucap Imam dengan rasa teguh di hatinya. Dia lihat wajah Sinta tidak lagi tersenyum, matanya pun berkaca-kaca. Imam merasa iba melihat semuanyba, tapi apa daya semua itu harus di ungkapkan dengan segera daripada semua berlanjut ke dalam jurang yang lebih dalam.
“Kamu harus bisa bahagia dengan orang yang sejalan sama kamu, de. Bukan seseorang yang berbeda keyakinan seperti aku,” Imam mencoba meyakinkan hati Sinta lewat ucapannya. Ya, dia merelakan perasaannya demi sebuah keyakinan di agamanya. Dia tahu, Allah memberikan apa yang dia butuhkan, bukan apa yang dia inginkan.
Sinta pun hanya tersenyum dengan perkataan Imam tadi. Cintanya bertepuk sebelah tangan karena sebuah perbedaan. Dalam hatinya dia berpikir dia harus mengerti, dia sudah dewasa dengan semua kenyataan ini. dia yakin, Tuhan akan memberikan jalan yang terbaik utnuknya.
Mereka berdua hanya bisa tersenyum di sebuah bangku taman kota. Cinta mereka tidak mungkin bersatu apalagi untuk abadi. Di hati mereka mungkin masih terdapat sebuah kenyataan yang sungguh berat untuk di terima. Tapi, pertemanan mungkin terasa sangat cukup untuk menjalin sebuah jalinan silaturahmi mereka, meski rasa cinta selalu ada di hati mereka masing-masing.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar