Bagaimana jika seseorang yang pernah
hadir di kebiasaan kita dan terus meninggalkan kita karena jalan yang berbeda
akan bertambah umurnya dalam waktu dekat ini? supaya lebih jelasnya saja, kalo
mantan mau ulang tahun. Yang jelasnya aku masih berpikir, kalau ngucapin
selamat ulang tahun sudah pasti. Tapi bagaimana kalau aku memberanikan diri
untuk memberi sebuah kado? Ya mungkin saja tali silahturahmi kami akan terjalin
lagi. Wajar saja, di saat dia putusin
aku walau dengan cara yang baik-baik, hatiku masih stuck di dia, memang ngenes
tapi inilah jalan takdir. Sampai sekarang kata merelakan itu sungguh susah
bagiku.
Di sela kebingunganku, datang seorang
lelaki bernama Dewo. Teman akrabku sejak SD ini sering jadi lahan tempat
ceritaku, mau yang sedih sampai cerita gokil semua cukup tertampung di dirinya.
Mungkin saja dengan menanyakan kebingunku kepadanya aku bisa mendapatkan sebuah
saran yang pas.
“Sendirian?” Tegur Dewo dari belakang.
“Lo lihatkan gue lagi sendiri? Malah
nanya,” jawabku agak sewot.
“Santai dong, kayanya muka lo lagi kusut
kebingungan gitu, emang ada apa?” Dewo mulai menanyakan tentang kondisiku. Ah,
benar saja pikirku dalam hati. Dewo bisa membaca rawut mukaku, mungkin karena
sudah lama berteman akrab dia jadi hapal dengan perasaan yang aku rasakan walau
dari rawut wajah saja.
“Gini, Nida mau ulang tahun. Gue mau
ngasih kado, tapi gue bingung,”
“Nida mantan lo?” Tanya Dewo sambil
melirik ke arahku. Aku hanya menjawab dengan anggukan. Sebenarnya aku bingung
bukan karena barang apa yang akan aku berikan, tapi bagaimana cara mengasihnya
ke Nida? Untuk menegur saja aku tidak berani, apalagi ngajak ngomong dia.
“Pasti lagi bingung cara ngasih kadonya
gimanakan?” tanyanya. Sekali lagi, Dewo berhasil menebak apa yang aku pikirkan,
memang hebat teman yang satu ini. Dan sekali lagi, aku hanya menjawab dengan
anggukan kepala.
“Kalo mau ngasih ya tinggal kasih aja,
apa susahnya, sih?”
“Kalo engga di terimanya?” Tanyaku
dengan nada pelan.
“Semua yang di beri dengan niat baik
pasti hasilnya baik, kok. Gak penting mahalnya berapa, barangnya bagus
bagaimana ataupun seberapa jauh belinya. Yang penting niat tulus dan barang itu
emang di kasih dari hati lo.” Jawab Dewo panjang lebar. Aku sempat terdiam dan
merenungkan dengan ucapan Dewo tadi. Benar katanya, semua itu tergantung niat
dan gak penting seberapa mahal barang yang di kasih, dan semua niat baik pasti
akan di terima. Walaupun hanya gelang yang bertuliskan namanya, semoga dia bisa
tersenyum melihat apa yang aku berikan.
*****
Hari dimana sang mantan ulang tahun pun telah
tiba. Sebuah gelang bertuliskan namanya sudah terbungkus rapi dan lucu di
tanganku. Tapi aku masih saja bingung, bagaimana jika kado ini tidak di terimanya?
Sudahlah, semua niat baik selalu ada hasil yang baik, kok. Keepcalm aja, deh.
Oh iya, menyangkut kenapa aku ngasih
sebuah gelang yang bertuliskan namanya itu karena aku juga bingung mau ngasih
apa. Benar sih harganya engga semahal boneka doraemon yang segede pohon pisang,
tapi dari bentuk dan warnanya yang engga terang cocok untuk menghiasi tanganya.
Tangan yang pernah aku genggam erat di saat kami masih bersama.
Saat jam pelajaran sudah selesai semua
aku mulai panik, karena daritadi aku tidak melihat dia. ah, hancurlah semua
rencanaku hari ini. tetapi entah karena beruntung atau tidak sengaja, aku
melihatnya sedang duduk manis sendirian menunggu sebuah jemputan. Tanpa
berpikir panjang aku mendekatinya yang hanya berbeda beberapa meter dari tempatku
berdiri.
“Hay, duduk nungguin jemputan yah?”
Sapaku sambil menatap dirinya yang sedang duduk di bangku depan kelas.
Perasaanku dag dig dug, baru kali ini aku berani menegurnya lebih dulu.
Keringatku mulai bercucuran menandakan aku sedang gugup. Tapi aku berdoa dalam
hati agar sifatnya tidak dingin saat menanggapi sapaanku.
“Iya nih,” jawabnya atas pertanyaanku
tadi. Cukup dingin jawabannya tadi, tapi senyumannya melelehkan ucapannya tadi.
Oh tuhan, mengapa dia lebih cantik daripada saat aku masih bersamanya?
“Oh gitu yah, boleh dong duduk di
sampingnya sebentar?”
Dia hanya menjawab dengan anggukan, aku
pun segera duduk di sampingnya. Hatiku makin bingung, laju darahku mulai naik,
detak jantungku pun semakin berdetak kencang. Aku harus memulai darimana? Sempat
terdiam beberapa detik akhirnya aku mengucap kata bismillah dalam hati dan mulai mengeluarkan sesuatu dari tasku.
“Eh, Nid. Happy birthday, yah. ini kado untuk kamu,” Ucapku sambil menjulurkan tanganku yang
berisi kado kecil di dalamnya.
“Kamu masih ingat yah?” tanyanya sambil
tersenyum manis kepadaku. Bisakah semua ini dipercepat agar detak jantungku tak
terdengar di telinganya karena gugup yang kurasa.
“Iya dong, dulukan kita sering cerita
bareng.” Jawabku dengan perasaan setengah gugup karena kadoku belum diambilnya
dan setengahnya lagi dengan perasaan lega karena aku sudah setengah jalan.
“Iya deh, makasih yah.” Jawabnya sambil
tersenyum manis kepadaku. Aku pun merasa senang dengan respon yang dia berikan,
sudah lama dia tak memberikan senyum kepadaku. Senyum yang sungguh aku rindukan
dalam keseharianku dulu saat masih bersamanya.
“Oh iya, maaf yah tulisan di kartu
ucapannya agak ancur. Soalnya tulisan tanganku engga bagus-bagus banget,”
“Engga apa-apa kok, semuanya bagus kalo
kamu niatnya baik.” Aku pun kembali tersenyum mendengar kalimatnya tadi, ingin
rasanyaku menggenggam tangannya, tapi itu mustahil untuk saat ini karena aku
bukan siapa-siapanya lagi.
Menit demi menit kami lalui di tempat
duduk ini, semuanya terasa indah. Hati ini sebenarnya ingin mengantarkannya
pulang, tetapi aku tidak tau adakah seseorang di luar sana yang memilikinya. Oh
tuhan, seandainya waktu bisa aku atur dengan keinginanku sendiri, jangan pernah
biarkan keadaan ini berlalu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar