Pernahku menulis sebuah kata cinta yang
ku susun hingga menjadi sebuah surat, tetapi tetap saja ada kecewa yang
terselip. Kecewa karena sebuah hati? Mungkin saja. Tau kah kalian yang sekarang
kini aku derita? Kalian belum saja tau dan mengerti mengapa hati ini tersayat.
Aku telah mengecewakan seseorang dan semua itu terbalas sekarang, anggap saja
karma. Sekarang ku tau bagaimana rasanya memendam sebuah rasa yang sempat
dinyatakan ternyata sekarang di abaikan. Cintaku di abaikan selayaknya sebuah
kertas yang telah di gambar, ternyata sebuah goresan kesalahan yang kecil
menodai kertas itu, dan ternyata di sobeklah kertas itu dan di acak-acaknya
kertas tersebut hingga tak berbetuk sampai akhirnya dia buang kertas itu ke
tempat yang jauh. Ya, sungguh jauh diabaikan.
Aku tau ini berawal dari salahku, tapi
apakah kau tau isi hati ini selalu ingin meminta belas kasihan dan maaf darimu?
Seberapa hinanya kah diriku di matamu hingga sekarang semua langkahku tak
pernah kau anggap lagi? Seberapa dosanya kah diriku hingga sekarang semuanya
kau abaikan? Sungguh dalamnya rasa kecewaku telah merusak akal pikirku.
Nasi sudah menjadi bubur, rasa sesal
telah menjadi rasa kesal. Lelah hati untuk memperjuangkanmu tak pernah kau
hiraukan, kau anggap perjuanganku ini apa? Apakah sebatas perjuangan naïf? Bila
kau berpikir seperti itu kau benar-benar salah! Kau tak pernah melihat isi hati
ini, dan kau pun belum pernah jua untuk terjun ke dasar hati ini. seharusnya
kau ketahui betapa ikhlasnya diriku menerima seapa adanya dirimu. Tapi semua
itu sungguh percuma, kau hanya melihat dengan sebelah mata dan merasakan dengan
sebelah hati.
Hidup memang keras tapi tak pernah
sesakit ini. aku kira di sosok manis dirimu masih menyimpan sedikit hati untuk
diri yang kau anggap hina ini. ternyata hatimu kosong untukku. Kau lebih
memperbolehkan seseorang yang sebenarnya hanya ingin singgah sementara ke
hatimu, hingga sampai saatnya mereka pergi kau merasa sakit. Dan aku, kau masih
saja menghalangi diriku untuk memasuki hatimu dengan perasaan sesal, berharap
sesalku bisa di maafkan ternyata yang terjadi iyalah kata tidak.
Memang rasa kecewa ini pantas aku
dapatkan, tapi ingatlah kau tidak tau aku telah berubah dari yang dulu. Mungkin
saja rasa sesalku dengan perlakuanku akan berubah menjadi rasa sesal telah
mengenalmu. Dan mungkin saja hingga akhirnya aku putuskan untuk berhenti
mengharapkanmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar