Sabtu, 08 Februari 2014

Penyesalan dan Karma


Masa-masa keemasanku seakan mulai redup, dulu aku bercahaya entah mengapa sekarang kini aku redup, seredup redupnya. Aku memang kurang beruntung kali ini di dunia percintaan. Penyesalan mendalam seakan membunuh hati dan perasaan ini. Ya, cinta belum berpihak kepada diriku. Aku seakan mendapatkan sebuah balasan karma dari masa laluku, sesakit inikah yang di namakan karma itu? Bila membunuh suatu hari akan di bunuh, bila mendustai suatu hari akan di dustai dan bila menyakiti suatu hari akan di sakiti.
Awalnya aku selalu bertanya, mengapa cintaku tak pernah seberuntung orang lain? Apa memang sebenarnya aku belum pantas untuk yang namanya cinta? Ku rasa tidak, semua orang berhak menikmati apa yang namanya cinta, tetapi mengapa cintaku selalu menyakiti dan di sakiti? Ah, sungguh tidak adil! Tetapi semakin aku berpikir dewasa semakin ku ingat masa lalu, terlalu banyaknya aku mendustai sebuah hati hingga aku di balasnya saat ini.
Persetan dengan masa laluku! Sebuah hal yang tolol yang semestinya tidak harus di lakukan di masa lalu dan akan terjadi balasan pada saat ini. Ragaku memang di masa kini, tapi jiwa dan ingatanku seakan berada di masa lalu. Ya, sekali lagi persetan dengan masa laluku! Aku mencaci-maki semua yang telah terjadi, bukannya aku merasa angkuh, tapi aku hanya tidak kuat untuk merasakan semua balasan dari masa lalu.
Penyesalan selalu datang terlambat, bila dia datang tepat pada waktunya semua itu bukan penyesalan. Sekarang entah mengapa nasibku begitu menderita seperti ini, sejujurnya hati ini begitu lelah merasakan untaian-untaian benang beban yang berada di pundakku. Hati ini seakan menangis, aku seperti di injak-injak dengan masa laluku dan membuat aku menyesal melakukan hal yang salah di masa lalu.
Aku selalu bertanya kepada tuhan, mengapa semua ini terjadi? Kenapa semua ini terasa sangat menyakitkan? Apa memang pantas untukku dapatkan di saatku ingin berpikir dewasa? Oh tuhan, aku tidak mencaci ketentuanmu, tapi aku hanya bertanya dengan penuh kesedihan di hati ini. Aku selalu mengemis cinta kepada orang-orang, tapi tetap saja yang aku dapatkan hanyalah recehan-recehan harapan yang sangat memilukan. Apakah ini nasibku? Aku selalu membandingkan dengan kisah cinta orang lain, aku lihat mereka baik-baik saja, sangat jauh berbeda dengan kisah cintaku yang mengenaskan.
Sekarang aku tau, aku sangat menyesal dengan semua yang aku perbuat. Aku kehilangan sosok dirimu, entah apa yang harus aku lakukan saat ini. Memang semua ini salahku lebih dulu, tapi nyatanya aku semua itu terbayar impas dengan luka-luka ini. Maafkan aku kenangan masa lalu, aku mengabaikanmu dan menganggap kau tidak akan pernah membalas. Dan sekarang masa lalu lah yang sangat menyiksa batinku, oh tuhan. Bila ini sudah jadi ketentuan takdirku dan memang ini sudah jalanku, aku akan mengikutinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar