Di sebuah malam seperti saat ini aku
terbiasa terbaring di atas ranjangku. Aku seakan terpaku di depan layar
laptopku sendiri dan terus merefresh akun twitterku. Aku tau aku sedang bosan,
tapi nyatanya kebosananku berubah seketika menjadi sebuah kata mengenang saat akunmu melalui
timeline twitterku. Sebenarnya aku bingung dengan semua yang aku rasakan saat
ini, kamu seperti kembali membawa kenangan masa lalu walau hanya akunnya yang
berlalu.
Di otakku timbul muncul masa-masa indah
saat bersama kamu, di saat aku masih bisa tersenyum dan tertawa bersamamu. Di saat
aku masih bisa merangkulmu dengan kasih sayang, di saat aku masih bisa memegang
erat jari-jemarimu dengan kuat dan di saat aku masih sanggup melihat matamu yang
sangat aku agung-agungkan. Oh betapa aku sangat merindukan semua yang pernah
kita lakukan bersama.
Seandainya kau tahu betapa beratnya
menangisi sebuah perasaan ini, perasaan yang sungguh menyiksa ini, perasaan
yang sangat mengelukan ini mungkin kau pun akan sadar bahwa kau pernah
mengalami seperti yang aku alami, hanya saja bukan aku yang kau tangisi dalam
hati. Betapa banyak harapan yang aku gantungkan kepada hatimu, tetapi tanpa
sengaja kau hempaskan harapan itu, seakan semua harapku tak mungkin akan bisa
terbalas.
Oh wanita yang masih sangatku sayangi,
sesungguhnya luka-luka di hati ini seperti di sayat sebuah pedang tajam, hati
ini terluka seakan dia sedang di hukum dengan sebuah hukuman. Hukuman yang kau
berikan kepadaku, tetapi apa salahku kepadamu hingga aku mendapatkan hukuman
sepedih dan sangat menderita seperti ini? aku pun tau, kau pernah merasakan apa
yang aku rasakan, aku pikir kau bisa dewasa, tetapi pengharapanku tidak akan
pernah lepas dari sebuah masa lalumu. Semua perjuangan yang aku torehkan dengan
gagahnya seketika sia-sia di saat kau hanya berpaling ke belakang tanpa tau di
sini ada orang yang masih mencintaimu.
Oh wanita yang masih sangatku rindukan,
apa kau tau ada berpuluh-puluh wanita yang aku dekati dengan maksud dan tujuan
agar bisa menghilangkan rasa sayang ini kepadamu, tetapi tetap saja tak ada
yang layak menggantikan posisimu di hati ini. Apakah kau tahu hati ini sedang
kosong melompong dan hanya bisa di gambarkan dengan kata sepi? Kau masih aku
nomor satukan wahai sayangku.
Oh wanita yang masih saja aku kagumi,
sesungguhnya di saat kita sudah berpisah, dengan tidak lagi ada hubungan
sebagai sepasang kekasih aku masih saja memperhatikan tingkah lakumu dengan
diam-diam. Walaupun tak lagi aku berani menatap matamu, tapi aku selalu ingat
tatapanmu yang dulu pernah bersarang di mata dan jatuh di hatiku. Dan yang
seharusnya engkau ketahui, aku bukannya lancing tetapi namamu selalu aku
selipkan di doa sesudah sholatku, berharap engkau terus di berikan kesehatan
dan kebahagiaan walau tak lagi bersamaku.
Kalimat-kalimat ini memanglah mudah di
cerna, tetapi ini bukanlah kalimat-kalimat para pengarang terhebat yang pernah
aku kenal seperti Hamka, ataupun Chairil Anwar. Kata-kata yang menyusun menjadi
sebuah kalimat ini adalah penat yang bersarang di hati ini dan luka yang masih
saja belum bersih dari kumannya.
Sesungguhnya wahai wanita yang sangat
aku sayangi, apa kau tau bekas luka yang kau beri ini belum bisa kering, aku
mencoba mengobati luka ini sendiri dan secara perlahan, tetapi tetap saja luka
ini terbuka dengan sendirinya. Luka ini begitu pedih dan begitu penat untuk aku
rasakan. Aku pun masih belum bisa mencari apa obat yang pantas untuk lukaku
ini. lukanya memang tidak pernah Nampak, tapi lukanya ini lebih sakit dari di
tusuk sebuah pedang paling tajam di dunia, atau di tembak dengan sebuah pistol
berkecepatan tinggi. Luka inilah yang masih saja membuatku merindukan kamu. Mungkin
bilaku boleh berucap, luka ini hanya ada satu obatnya. Mungkin obatnya adalah,
kamu.
Galau Teros -_-"
BalasHapushaha, engga ini ngecoba ngepost pakai sastra aja kok
BalasHapus