Pagi
ini begitu dingin, hujan yang menghujani kota Banjarmasin mulai subuh tadi
membuatku harus menunggu lama hingga teduh sampai akhirnya aku bisa bersekolah
pada jam delapan pagi. Rasa enggan menginjakkan kaki di sekolah memang ada,
tapi semua kalah dengan rasa rinduku kepada seseorang yang aku suka. Bukan! Dia
bukan orang yang aku suka, tapi orang yang aku sayang.
“Baru masuk sekolah?” Tanya seorang
perempuan dengan tatapan manisnya yang bernama Muna. Tatapan matanya yang
begitu indah membuat mulutku membisu beberapa saat. Hal ini yang selalu terjadi
kepadaku saat aku bertemu dengannya. Begitu bodoh sebenarnya, entahlah, aku
terbiasa dengan keadaan yang seperti ini. “Lho,
kok diem aja?”.
tingkah dan menjawab pertanyaannya tadi.
“Eh, kamu, toh? Iya nih, aku baru
bisa berangkat pas hujannya redaan dikit. Soalnya kan aku bawa motor.”
“Kenapa engga bawa mobil? Kan, lo bisa
nyetir.” Tanya Muna.
“Dikasih motor aja udah cukup kali,
Mun.”
“Daripada lo jadi basah kuyup kaya gini,
Rifqi?”
“Ya udahlah, engga usah di bahas.” Ucapku
sambil mengeringkan sebagian badanku yang basah karena air hujan. Sifat dewasanya sangat aku rasakan, mungkin
karena umurnya yang lebih tua satu tahun dariku membuatnya begitu perhatian
kepadaku.
Muna itu kaka kelasku sejak aku sekolah
di sini, sekarang dia kelas XII IPA, dan aku kelas XI IPA. Aku mengenalnya saat
dia menjadi kaka pembimbingku saat masa orientasi saat masuk SMA. Dia begitu
ramah dan sering berbagi cerita denganku. Dari hal tersebut membuat aku punya
perasaan yang lebih kepadanya dan menjadikan dirinya sebagai orang yang spesial
bagiku, tetapi mungkin hatinya tertuju kepada orang lain.
“Eh, tunggu bentar,” tangannya merogoh
saku roknya seperti ada sesuatu yang di ambilnya. “Hari ini gue tanding basket
jam empat. Ini tiket buat, lo.”
“Wuih, thanks banget yah buat tiketnya,”
Dia hanya membalas dengan senyuman dan
berbalik meinggalkanku. Senyumannya yang begitu manis mampu membuat aku mati
rasa melihatnya. Dia memang perempuan yang tomboy,
tapi di balik sifatnya itu masih ada sosok perempuan yang mampu membuatku
merasa jatuh cinta. Iya, ini pertama kalinya aku jatuh cinta. Dia juga seorang
perempuan yang cukup ‘Bintang’ di sekolah ini, selain sebagai anak basket putri
sekolahku, dia juga berperan di organisasi sekolah. Dia perempuan yang hebat
dan juga begitu dewasa. Memang tidak salah aku jatuh cinta kepadanya, tapi aku
merasa akan terjadi hal yang salah bila aku mengungkapkan perasaanku kepadanya.
Kenapa? Karena aku melihat siapa diriku, aku hanya seorang anak yang ‘biasa’
saja. Tidak se-‘Bintang’ Muna yang memang hebat di segala bidang. Yang aku bisa
hanyalah memendam, tanpa mengungkapkan perasaan yang ada di hati ini. Sungguh
kenyataan yang memilukan.
****
Mataku begitu berat untuk di buka, aku
begitu nyaman dengan tidur siangku. Wajar saja, malam tadi aku begadang untuk
menonton pertandingan tim sepak bola favoritku, Manchester United. Pikiranku setelah bangun pun entah berkhayal
kemana saja dia inginkan, hingga aku teringat dengan suatu janji. “Astaga! Jam
4 Muna tanding!”.
Aku bergegas meninggalkan tempat tidur
dan segera pergi ke kamar mandi. “Oh, Tuhan kenapa bisa lupa?”. Saat selesai mandi jam sudah menujukan pukul
3.50, tak ada waktu lagi,aku harus bergegas. Aku pilih baju kaos berwarna biru
dan celana jeans berwarna gelap di balut dengan jaket berwarna hitam, saatnya
sudah siap untuk ke tempat pertandingan. Aku membawa motor dengan kecepatan
yang sangat cepat, meski aku tahu sudah terlambat untuk melihatnya bertanding,
tapi lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali!
Setelah sampai di tempat pertandingan
aku berlari secepat mungkin karena pertandingan sudah mulai. Dalam diri ini
tidak ingin melewatkan lebih banyak waktu lagi karena keterlambatanku.
Saat aku masuk ke pinggir lapangan
pertandingan sudah masuk quarter ke-2, “Syukurlah…” ucapku dalam hati yang
langsung duduk di sebuah bangku penonton. Pemandangan di gedung olahraga yang
memang khusus untuk permainan basket ini sungguh tidak asing lagi, aku sangat
sering menonton pertandingan basket semenjak aku mengenal Muna. Ketertarikanku
kepada sosoknya membuat aku kagum bila melihat seorang perempuan men-dribble bola basket, apalagi kalo
seorang perempuan sampai melakukan shooting-an bola basket yang mulus masuk ke
ring lawan, begitu terpesona aku melihat hal tersebut. Tetapi sebagaimana pun
hebatnya perempuan lain bermain basket, tetap saja yang aku lihat adalah sosok
Muna. Dari caranya yang berlari hingga caranya men-dribble bola sangat aku
suka. Sesekali bila ada kesempatan aku selalu mengambil gambarnya dari kamera handphone-ku. Tatapan serius saat
menghadapi lawan menambah kesan tomboy di dalam dirinya, keanggunannya hilang
dalam sekejap. Akan tetapi sorot matanya, rambutnya yang bergelombang tetapi di
ikatnya saat bermain dan dahinya yang berkeringat membuat sensasi wajah
manisnya terpancar dari segala gerakan yang dia perbuat. Terkadang aku suka
tertawa kecil sendiri melihatnya bertingkah saat bermain basket, selalu sama
tapi tak pernah bosan untuk dilihat.
4x10 menit sudah di lewati, tim basket
putri sekolahku menang banyak angka atas tim basket sekolah lawan. Suasana
gembira pun terlihat dari wajah Muna dan teman-temannya. Segerombolan perempuan
tangguh yang begitu anggun dengan bintangnya, Muna. Sosoknya yang begitu tomboy
membuat aku lupa diri bila mengingatnya. Sesekali tatapan matanya beralih
kepadaku, aku hanya memberikn senyuman tanda selamat kamu sudah menang di
pertandingan hari ini, Muna!
Kegemberiaan mereka mulai memudar, beberapa saat lagi permainan selanjutnya
akan di mulai. Mereka pergi ke bench pemain untuk membereskan semua keperluan
mereka untuk bermain basket. Sesudah dari bench, Muna menghampiriku yang sudah
duduk manis setelah melihat dia bermain..
“Selamat, kamu hebat mainnya, Mun.”
sambil memberikan sebotol air mineral tanggung untuk menghilangkan dahaga yang
disebabkan oleh pertandingan tadi. Dia cuma membalas dengan langsung mengambil
air mineralnya dan duduk di sampingku dengan wajah yang cukup kelelahan dan
menselonjorkan kakinya yang tak begitu panjang. Aku lihat keringatnya begitu
bercucuran, handuk yang dia punya pun seperti tak ada arti kalau untuk
membersihkan keringatnya. Sedikit senyuman yang dia berikan kepadaku setelah
meminum air mineral itu membuat aku membalas senyumanya, bentuk wajahnya yang
begitu manis saat tersenyum membuatku ingin mencium keningnya satu kali saja. Tapi
yang aku pikirkan bila aku melakukan hal itu mungkin saja sebuah tanda merah
bekas gamparannya mmelekat di pipiku.
“Kamu cantik kalau lagi keringetan kaya
gini,” aku merogoh saku celanaku dan mengambil tisu berukuran kecil, “Tapi kamu
lebih manis kalau keringatnya aku bersihin.” Yang aku coba adalah menjangkau
wajahnya untuk membersihkan keringatnya, tangan kananku yang begitu kaku
mencoba melap keringat yang ada di dahi, pipi dan matanya. Muna terlihat diam
saja dan memandangi wajahku saat diriku membershikan keringatnya. Aku tau, apa yang
aku lakukan begitu bodoh tapi aku selalu ingin lebih dekat dengannya seperti
ini.
“Memang beda muka gue pas lagi
keringetan sama engga lagi keringetan?” Tanyanya dengan pipi yang memerah.
“Jelas beda, dong!”
“Apaan coba?”
“soalnya kamu bisa lebih dekat dengan
aku seperti ini,” Ucapku sambil menjangkau kepalanya untuk bersender di bahuku.
Yang aku rasakan dia mencari letak kenyamanan untuk bisa lebih dekat dengan
bahuku. Entahlah, hatiku berdebar begitu kencang. Aku tak pernah sedekat ini
dengan seorang perempuan, aku melakukan apa sesuatu yang di luar akal sehatku
sendiri. Tapi aku begitu menikmatinya, aku begitu nyaman di dekatnya dan Muna
pun merasan nyaman untuk bersender di bahuku. Semua belum berakhir, hingga
akhirnya tangan kirinya dan tangan kananku saling merangkul erat tak ingin
berpisah.
****
Hubunganku dengan Muna semakin
bertambahnya hari semakin erat saja, tiap hari kami pergi berdua dan selalu
bergandeng tangan. Perasaan tak ingin berpisah pun selalu ada di wajah dan cara
kelakuan kami saat berjumpa. Bukan hanya saja saat jumpa, tapi saat di telpon
pun kami masih sering saling salah tingkah dan tidak ingin mengakhiri telepon
yang sudah berjam-jam. Semuanya belum ada kejelasan dari hubungan kami karena
aku pun belum tau bagaimana cara mengawalinya. Otakku selalu berpikir,
bagaimana bila suatu saat nanti aku menyesal karena aku terlambat menyatakan
perasaanku terhadapnya, mungkin saja penyesalan itu akan terjadi begitu larut. Tapi
jika dia setia, dia tidak akan pergi meninggalkan aku. Hingga akhirnya aku
berpikir dengan sangat jelas, setiap orang pasti sangat perlu kepastian,
terutama seorang perempuan. Bagaiman pun caranya aku harus segera menyatakan
isi hatiku ini!
****
Setangkai bunga mawar berwarna merah
yang terbungkus rapi dengan pita berwarna merah muda telah aku siapkan di
tanganku. Aku tidak sabar berjumpa dengannya saat dia latihan basket. Tak
masalah aku akan malu saat ini, tapi yang aku pikirkan hanya perasaan senang
karena setiap khayalanku adalah dia akan menerima cinta tanpa berpikir dan
tanpa menunggu lama. Yang aku inginkan Muna tersenyum bahagia dan tersenyum
salah tingkah oleh kelakuan yang aku perbuat. Sampai akhirnya aku masuk gerbang
sekolahku pun aku belum saja berhenti tersenyum karena dunia khayalku sendiri,
hingga akhirnya sebuah kejadian yang begitu membuatku kecewa terjadi di
hadapanku sendiri. Muna memeluk seseorang lelaki yang memang pernah aku kenal,
lelaki yang pernah menjadi masa lalunya Muna, Rico. Muna sangat jelas memeluk
Rico dengan erat dan banyak air di matanya, aku tidak tahu apakah dia sedang
menangis ataupun apa, hanya saja aku tidak bisa melihat seseorang yang aku
sayangi bahagia karena orang lain.
Seketika melihat kejadian itu aku segera
berbalik dan mencoba untuk tegar dalam senyuman palsuku. Wajahku memang
tersenyum, tapi hatiku menangis. Aku berpikir mungkin Rico masih yang terbaik
di hatinya, sedangkan aku? Persinggahan sementara baginya.
****
“Apakah kamu tahu kenapa aku menangis,
Co?” Tanya Muna melepaskan pelukannya dan menatap mata Rico. “Seseorang lelaki
yang berumur satu tahun di bawahku belum saja menyatakan perasaanya kepadaku,
padahal aku begitu sabar menunggunya hingga saat ini.”