Entah
respons seperti apa yang benar-benar tepat ketika seorang teman yang dianggap
biasa saja memberi perhatian yang lebih daripada pacar sendiri. Setidaknya, itu
yang aku alami beberapa pekan terakhir. Ucapan selamat pagi yang selalu lebih
dulu daripada siapa pun.
Perkenalkan,
Madiba, perempuan yang akhir-akhir ini aku merasa sangat dekat dengannya. Aku
mengenalnya sekitar dua bulan lalu dari media sosial. Entah pastinya kapan, aku
tidak ingat. Yang pasti beberapa minggu ini, aku merasa selalu diberi perhatian
lebih olehnya. Setiap pagi, selalu ada ucapan selamat pagi melalui pesan
singkat darinya yang selalu dengan cara berbeda setiap harinya. Ia selalu saja
mampu memaksaku untuk membalas sapanya yang aku anggap candaan. Tapi aku tak
pernah merespons lebih jauh.
Di
Senin pagi yang berhujan di penghujung Desember, aku sedang duduk di teras
rumah dengan secangkir kopi dan menikmati berita yang baru saja dilemparkan
loper koran ke dalam rumahku. Hari ini headline-nya
masih sama dengan hari kemarin: banjir.
Hari
ini memang sedang libur dalam rangka menyambut natal dan tahun baru. Namun aku
tetap bangun pagi seperti biasanya. Menikmati udara pagi yang segar yang
dihasilkan pohon-pohon hijau di selebar pekarangan rumah sederhana yang aku
tinggali bersama kedua orangtuaku.
Saat
sedang membaca kolom lanjutan berita olahraga di halaman tengah, dari arah
dalam rumah terdengar suara telepon berdering. aku menunggu beberapa saat lalu
terdengar gesekan seperti ada yang mengankat telepon itu. Tak lama berselang
suara ibu memanggilku.
“Bram,
telepon untukmu!” serunya.
Aku
segera menaruh koran di meja lalu menyeruput kopiku.
“Sebentar,
Bu,” kataku.
Ibu
memberikan gagang telepon padaku lalu berjalan masuk ke arah dapur.
“Iya,
halo?”
“Bram,
ini aku, Rendi. Udah punya jadwal buat tahun baruan belum?”
Rupanya
Rendi, teman kantorku yang menelepon pagi-pagi.
“Belum
nih, kenapa?” jawabku datar.
“Nah,
aku sama beberapa teman kantor yang lain sudah sepakat kita mau rayakan tahun
baru di Bali. Gimana, kamu ikut?”
Aku
berpikir sejenak. Di seberang telepon Rendi masih menunggu kepastianku.
“Hm,
boleh deh. Kali aja di sana aku bisa ketemu sama jodohku,” jawabku, bercanda.
Meski dalam hati tetap berharap.
Rendi
membalas dengan tawa kecil lalu menutup telepon setelah memberi tahu jadwal keberangkatan
kami.
***
Kamis
siang yang agak mendung, aku dan Rendi bersama tiga teman kantor lain, Ari, Devi
dan Rama akhirnya tiba di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali dengan
selamat. Kami berlima akan langsung menuju mobil sewaan yang sudah dipesan oleh
Rendi sebelumnya. Rencananya kami akan berkeliling sampai sore lalu
beristirahat di homestay di sekitaran
Kuta.
Sepanjang
perjalanan aku dan Rendi tak hentinya menengok kiri-kanan jalan dan memotret
hal yang kami anggap tak biasa. Maklum ini adalah kali pertama untuk aku dan
Rendi ke Bali. Rama lebih banyak menghabiskan waktu bersama Devi di kursi
paling belakang. Mereka berdua memang pacaran. Sementara Ari lebih banyak diam
di kursi paling depan bersama pak supir. Ia mabuk darat.
Tepat
jam enam sore kami sampai di homestay.
Ari yang seperti sudah menunggu waktu ini tiba, langsung nyemplung di kasur
empuk setelah Rendi membuka pintu homestay.
Aku, Devi dan Rama membantu pak supir mengangkat barang masuk ke rumah. Semua
dari kami sepakat untuk tidur sebelum perayaan puncak tengah malam nanti.
***
“Happy New Year! Selamat tahun baru!”
Sorakan
lantang yang didominasi oleh orang asing yang memadati pantai Kuta betul-betul
membuat bulu kudukku berdiri. Kembang api bermacam-macam warna berkejar-kejaran
di langit Bali seolah-olah malam adalah siang hari. Semua orang di sini tertawa
riang. Aku memotret beberapa momen dan membagikannya ke media sosial seperti
yang banyak orang juga lakukan.
Kami
terus berjalan menyusuri pantai sambil terus memperhatikan gemerlap di langit
yang mempertontonkan keindahan yang hanya terjadi sekali setiap tahun ini. Lalu
tanpa sadar aku terpisah dari teman-temanku. Biarkan saja, biarkan kita saling
menikmati malam ini dengan cara kita masing-masing, pikirku.
Tiba-tiba
handphone-ku berbunyi. Pikiranku
langsung tertuju pada mereka berempat. Kupikir mereka mencariku. Saat kulihat
ternyata Madiba yang menelepon. Tentu saja pikiranku langsung berubah menjadi,
mungkin ingin mengucapkan selamat tahun baru.
“Iya,
halo, Madiba, kenapa?”
“Bram,
kamu di Kuta? Sebelah mana? Aku juga di sini!”
Madiba
berteriak kegirangan di telepon. Aku jadi kikuk seketika.
“I-i-iya,
aku di Kuta, kok tahu?”
“Aku
liat postingan kamu di Facebook, Bram. Aku pengen ketemu kamu!”
Madiba
memaksa. Aku tidak punya rencana sama sekali untuk ini.
Setelah
lama berputar-putar mencari perempuan berbaju kaos putih dengan kacamata gagang
putih seperti yang ia jelaskan di telepon, di antara beribu orang yang memenuhi
pandangan mataku, akhirnya aku bertemu dengan Madiba tepat di depan Hard Rock
Café. Ia terlihat berbeda di antara orang-orang lain di pandanganku. Aku segera
menghampirinya. Lalu semakin jarak kami dekat, semakin jantungku berdetak lebih
kencang. Tanpa sadar keringat mengucur dari keningku.
“Hai,
Madiba?” sapaku memastikan.
“Iya.
Bram?” aku mengangguk. Madiba tersenyum. Terlihat bahagia sekali seperti ingin
mengekspresikan suatu rasa bahagia tapi berusaha menahannya. Ia langsung
memelukku. Badanku yang lebih tinggi darinya memaksanya berjinjit untuk
mengalungkan kedua tangannya di leherku. Aku sedikit membungkukkan badan.
Kulihat beberapa orang yang sedang lewat menatap ke arah kami.
“Akhirnya
kita ketemu juga,” kata Madiba. Aku sangat gugup. Jantungku semakin berdegup
kencang. Keringat di keningku semakin mengucur deras. Sesuatu yang sama sekali
tidak terlihat dari wajah Madiba.
Ia
lalu mengajakku duduk di pantai dan bercerita tentang apa saja sepanjang tengah
malam ini. Tak seperti perempuan-perempuan lain yang kutemui, aku langsung
merasa begitu akrab dan dekat dengan Madiba seperti aku sudah bertemu dengannya
sering kali. Walau rasa gugup itu masih sedikit menyelimuti.
“Bram,
aku sayang sama kamu,” kata Madiba di penghujung pertemuan kami malam ini yang
diiringi gemerlap langit yang mulai redup seiring pagi menjelang.
Aku
tidak terlalu kaget mendengar itu. Dari sikapnya sejak pertama bertemu tadi aku
bisa tahu itu. Yang membuatku kaget adalah degup jantungku seperti semakin
kencang setelah ia mengucap itu. Ada apa ini?! Aku berteriak dalam hatiku
berusaha mencari jawaban dari apa yang sedang kualami malam ini.
“Madiba,
back to home, right now!”
Tiba-tiba
dari belakang kami ada yang memanggil Madiba. Seorang bule laki-laki yang
mukanya terlihat seperti orang Arab. Madiba berdiri lalu tersenyum melambaikan
tangan ke arah bule itu.
“Wait! Wait a minute!” serunya.
Aku
hanya diam memperhatikan mereka.
“Bram.
Tahun depan di malam tahun baru, temui aku di sini lagi, ya? Janji!”
“Eh,
iya, iya, janji,” jawabku spontan.
Madiba
tersenyum dan memelukku lagi. Kali ini aku membalas dengan mencium keningnya. Madiba
tersenyum lebar dan terlihat sangat bahagia sekali. Ia lalu meninggalkanku
sendiri di pantai dan pergi dengan mobil hitam mewah bersama bule tadi.
Terlihat beberapa orang lain di mobil itu.
Madiba
berlalu dengan beberapa pertanyaan yang masih bergelut di inti otakku sampai
saat ini. Pertama, siapa laki-laki bule yang memanggil Madiba? Jika itu adalah
ayahnya, mengapa wajah Madiba begitu persis orang Indonesia tulen? Pertanyaan
itu akhirnya terpaksa kusimpan setelah tak lama kemudian teman-temanku datang
menghampiriku.
“Hey!
Kamu dari mana saja, Bram. Kami dari tadi cari kamu,” kata Rendi mengejutkanku
dengan menepuk bahuku.
***
Malam
itu, atau tepatnya pagi itu adalah pertama dan terakhir kali aku bertemu dengan
Madiba. Sejak ia dan mobil hitam mewahnya berlalu dari pandanganku, aku tak
pernah lagi tahu kabarnya. Nomornya tidak pernah lagi bisa dihubungi. Akun-akun
media sosialnya tidak pernah lagi di-update. Dan pertanyaan yang muncul dan
ingin kutanyakan tak pernah terjawab hingga saat ini. Sepanjang hari pikiranku
tak ada hentinya tentang Madiba. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk memenuhi
ucapan terakhirnya sebelum kami berpisah malam itu.
Aku
datang lagi ke Kuta di malam tahun baru berikutnya. Menunggunya di pantai tepat
di bawah pohon palem tempat kami berpisah dulu. Aku menunggu sampai matahari
pagi hampir memancarkan sinarnya. Tapi Madiba tak pernah lagi datang. Rasa rindu
yang kusimpan selama setahun penuh tak
pernah terbalaskan hingga saat ini. Dan aku tak pernah tahu ke mana perginya ia
malam itu dan di mana ia di malam tahu baru berikutnya. Gemerlap malam di
pantai Kuta malam itu sama sekali tak mampu mempertemukanku kembali dengan
Madiba. Tak segemerlap senyum Madiba yang perlahan mulai redup dalam ingatanku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar