Senin, 30 Desember 2013

Madiba, Gemerlap Yang Redup


Entah respons seperti apa yang benar-benar tepat ketika seorang teman yang dianggap biasa saja memberi perhatian yang lebih daripada pacar sendiri. Setidaknya, itu yang aku alami beberapa pekan terakhir. Ucapan selamat pagi yang selalu lebih dulu daripada siapa pun. 

Perkenalkan, Madiba, perempuan yang akhir-akhir ini aku merasa sangat dekat dengannya. Aku mengenalnya sekitar dua bulan lalu dari media sosial. Entah pastinya kapan, aku tidak ingat. Yang pasti beberapa minggu ini, aku merasa selalu diberi perhatian lebih olehnya. Setiap pagi, selalu ada ucapan selamat pagi melalui pesan singkat darinya yang selalu dengan cara berbeda setiap harinya. Ia selalu saja mampu memaksaku untuk membalas sapanya yang aku anggap candaan. Tapi aku tak pernah merespons lebih jauh.

Di Senin pagi yang berhujan di penghujung Desember, aku sedang duduk di teras rumah dengan secangkir kopi dan menikmati berita yang baru saja dilemparkan loper koran ke dalam rumahku. Hari ini headline-nya masih sama dengan hari kemarin: banjir.

Hari ini memang sedang libur dalam rangka menyambut natal dan tahun baru. Namun aku tetap bangun pagi seperti biasanya. Menikmati udara pagi yang segar yang dihasilkan pohon-pohon hijau di selebar pekarangan rumah sederhana yang aku tinggali bersama kedua orangtuaku.

Saat sedang membaca kolom lanjutan berita olahraga di halaman tengah, dari arah dalam rumah terdengar suara telepon berdering. aku menunggu beberapa saat lalu terdengar gesekan seperti ada yang mengankat telepon itu. Tak lama berselang suara ibu memanggilku.

“Bram, telepon untukmu!” serunya.

Aku segera menaruh koran di meja lalu menyeruput kopiku.

“Sebentar, Bu,” kataku.

Ibu memberikan gagang telepon padaku lalu berjalan masuk ke arah dapur.

“Iya, halo?”
“Bram, ini aku, Rendi. Udah punya jadwal buat tahun baruan belum?”
Rupanya Rendi, teman kantorku yang menelepon pagi-pagi.
“Belum nih, kenapa?” jawabku datar.
“Nah, aku sama beberapa teman kantor yang lain sudah sepakat kita mau rayakan tahun baru di Bali. Gimana, kamu ikut?”

Aku berpikir sejenak. Di seberang telepon Rendi masih menunggu kepastianku.
“Hm, boleh deh. Kali aja di sana aku bisa ketemu sama jodohku,” jawabku, bercanda. Meski dalam hati tetap berharap.

Rendi membalas dengan tawa kecil lalu menutup telepon setelah memberi tahu jadwal keberangkatan kami.
***
Kamis siang yang agak mendung, aku dan Rendi bersama tiga teman kantor lain, Ari, Devi dan Rama akhirnya tiba di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali dengan selamat. Kami berlima akan langsung menuju mobil sewaan yang sudah dipesan oleh Rendi sebelumnya. Rencananya kami akan berkeliling sampai sore lalu beristirahat di homestay di sekitaran Kuta.

Sepanjang perjalanan aku dan Rendi tak hentinya menengok kiri-kanan jalan dan memotret hal yang kami anggap tak biasa. Maklum ini adalah kali pertama untuk aku dan Rendi ke Bali. Rama lebih banyak menghabiskan waktu bersama Devi di kursi paling belakang. Mereka berdua memang pacaran. Sementara Ari lebih banyak diam di kursi paling depan bersama pak supir. Ia mabuk darat.
Tepat jam enam sore kami sampai di homestay. Ari yang seperti sudah menunggu waktu ini tiba, langsung nyemplung di kasur empuk setelah Rendi membuka pintu homestay. Aku, Devi dan Rama membantu pak supir mengangkat barang masuk ke rumah. Semua dari kami sepakat untuk tidur sebelum perayaan puncak tengah malam nanti.
***
“Happy New Year! Selamat tahun baru!”
Sorakan lantang yang didominasi oleh orang asing yang memadati pantai Kuta betul-betul membuat bulu kudukku berdiri. Kembang api bermacam-macam warna berkejar-kejaran di langit Bali seolah-olah malam adalah siang hari. Semua orang di sini tertawa riang. Aku memotret beberapa momen dan membagikannya ke media sosial seperti yang banyak orang juga lakukan. 

Kami terus berjalan menyusuri pantai sambil terus memperhatikan gemerlap di langit yang mempertontonkan keindahan yang hanya terjadi sekali setiap tahun ini. Lalu tanpa sadar aku terpisah dari teman-temanku. Biarkan saja, biarkan kita saling menikmati malam ini dengan cara kita masing-masing, pikirku.

Tiba-tiba handphone-ku berbunyi. Pikiranku langsung tertuju pada mereka berempat. Kupikir mereka mencariku. Saat kulihat ternyata Madiba yang menelepon. Tentu saja pikiranku langsung berubah menjadi, mungkin ingin mengucapkan selamat tahun baru.
“Iya, halo, Madiba, kenapa?”
“Bram, kamu di Kuta? Sebelah mana? Aku juga di sini!”
Madiba berteriak kegirangan di telepon. Aku jadi kikuk seketika.
“I-i-iya, aku di Kuta, kok tahu?”
“Aku liat postingan kamu di Facebook, Bram. Aku pengen ketemu kamu!”
Madiba memaksa. Aku tidak punya rencana sama sekali untuk ini.

Setelah lama berputar-putar mencari perempuan berbaju kaos putih dengan kacamata gagang putih seperti yang ia jelaskan di telepon, di antara beribu orang yang memenuhi pandangan mataku, akhirnya aku bertemu dengan Madiba tepat di depan Hard Rock Café. Ia terlihat berbeda di antara orang-orang lain di pandanganku. Aku segera menghampirinya. Lalu semakin jarak kami dekat, semakin jantungku berdetak lebih kencang. Tanpa sadar keringat mengucur dari keningku.
“Hai, Madiba?” sapaku memastikan.
“Iya. Bram?” aku mengangguk. Madiba tersenyum. Terlihat bahagia sekali seperti ingin mengekspresikan suatu rasa bahagia tapi berusaha menahannya. Ia langsung memelukku. Badanku yang lebih tinggi darinya memaksanya berjinjit untuk mengalungkan kedua tangannya di leherku. Aku sedikit membungkukkan badan. Kulihat beberapa orang yang sedang lewat menatap ke arah kami.

“Akhirnya kita ketemu juga,” kata Madiba. Aku sangat gugup. Jantungku semakin berdegup kencang. Keringat di keningku semakin mengucur deras. Sesuatu yang sama sekali tidak terlihat dari wajah Madiba. 

Ia lalu mengajakku duduk di pantai dan bercerita tentang apa saja sepanjang tengah malam ini. Tak seperti perempuan-perempuan lain yang kutemui, aku langsung merasa begitu akrab dan dekat dengan Madiba seperti aku sudah bertemu dengannya sering kali. Walau rasa gugup itu masih sedikit menyelimuti.

“Bram, aku sayang sama kamu,” kata Madiba di penghujung pertemuan kami malam ini yang diiringi gemerlap langit yang mulai redup seiring pagi menjelang.

Aku tidak terlalu kaget mendengar itu. Dari sikapnya sejak pertama bertemu tadi aku bisa tahu itu. Yang membuatku kaget adalah degup jantungku seperti semakin kencang setelah ia mengucap itu. Ada apa ini?! Aku berteriak dalam hatiku berusaha mencari jawaban dari apa yang sedang kualami malam ini.


“Madiba, back to home, right now!”
Tiba-tiba dari belakang kami ada yang memanggil Madiba. Seorang bule laki-laki yang mukanya terlihat seperti orang Arab. Madiba berdiri lalu tersenyum melambaikan tangan ke arah bule itu.
Wait! Wait a minute!” serunya.
Aku hanya diam memperhatikan mereka.
“Bram. Tahun depan di malam tahun baru, temui aku di sini lagi, ya? Janji!”
“Eh, iya, iya, janji,” jawabku spontan.

Madiba tersenyum dan memelukku lagi. Kali ini aku membalas dengan mencium keningnya. Madiba tersenyum lebar dan terlihat sangat bahagia sekali. Ia lalu meninggalkanku sendiri di pantai dan pergi dengan mobil hitam mewah bersama bule tadi. Terlihat beberapa orang lain di mobil itu.
Madiba berlalu dengan beberapa pertanyaan yang masih bergelut di inti otakku sampai saat ini. Pertama, siapa laki-laki bule yang memanggil Madiba? Jika itu adalah ayahnya, mengapa wajah Madiba begitu persis orang Indonesia tulen? Pertanyaan itu akhirnya terpaksa kusimpan setelah tak lama kemudian teman-temanku datang menghampiriku.

“Hey! Kamu dari mana saja, Bram. Kami dari tadi cari kamu,” kata Rendi mengejutkanku dengan menepuk bahuku.
***
Malam itu, atau tepatnya pagi itu adalah pertama dan terakhir kali aku bertemu dengan Madiba. Sejak ia dan mobil hitam mewahnya berlalu dari pandanganku, aku tak pernah lagi tahu kabarnya. Nomornya tidak pernah lagi bisa dihubungi. Akun-akun media sosialnya tidak pernah lagi di-update. Dan pertanyaan yang muncul dan ingin kutanyakan tak pernah terjawab hingga saat ini. Sepanjang hari pikiranku tak ada hentinya tentang Madiba. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk memenuhi ucapan terakhirnya sebelum kami berpisah malam itu.

Aku datang lagi ke Kuta di malam tahun baru berikutnya. Menunggunya di pantai tepat di bawah pohon palem tempat kami berpisah dulu. Aku menunggu sampai matahari pagi hampir memancarkan sinarnya. Tapi Madiba tak pernah lagi datang. Rasa rindu yang kusimpan selama setahun  penuh tak pernah terbalaskan hingga saat ini. Dan aku tak pernah tahu ke mana perginya ia malam itu dan di mana ia di malam tahu baru berikutnya. Gemerlap malam di pantai Kuta malam itu sama sekali tak mampu mempertemukanku kembali dengan Madiba. Tak segemerlap senyum Madiba yang perlahan mulai redup dalam ingatanku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar