Suara keramaian jalan yang dipenuhi dengan kendaraan
bermotor mulai terdengar malam ini. Malam ini bukanlah malam yang seperti
biasanya, tetapi malam ini begitu istimewa untuk beberapa orang di seluruh
dunia. Ya, malam pergantian tahun akan tiba beberapa jam lagi. Aku pun sudah
mempersiapkan diri untuk malam ini, aku akan pergi ke daerah siring di dekat
sungai yang bersebrangan dengan Masjid terbesar di Banjarmasin, Masjid Sabilal
Muhtadin. Inilah kotaku, kota yang berjulukan kota seribu sungai ini memiliki
sejuta kenangan indah mulai aku baru lahir hingga sampai sekarang aku sudah
berumur 20 tahun, usia yang cukup untuk di bilang sebagai orang dewasa.
Jam
tanganku sudah menunjukan pukul 10 malam, aku pun segera mengambil tas ranselku
yang berisikan beberapa kembang api untuk di nyalakan malam ini. Persiapan
tahun baru kali ini membuatku teringat dengan peristiwa satu tahun yang lalu, saat
aku merayakan tahun baru bersama
kekasihku, namanya Dita. Dita adalah seorang seniman yang menurutku begitu ahli
dalam melukis. Keahliannya dalam melukis keindahan kota Banjarmasin dari
berbagai sudut membuatku mengaguminya. Kelihaian tanganya dalam melukis sering
aku saksikan dengan mataku sendiri.
*****
Kebiasaanku
sewaktu pulang kuliah adalah nongkrong sendirian di tempat teduh di pinggir
sungai yang memiliki siring di pinggirnya. Tempat ini menjanjikan sebuah
ketenangan yang selalu ingin aku dapatkan. Sebanyak beban apapun yang datang
menghampiriku bila datang ke tempat ini pasti semua akan hilang dalam sekejap,
rasa bosan pun seperti tak berani untuk menghampiriku. Sampai suatu ketika aku
meliat seorang wanita yang sedang duduk di tempat biasanya aku santai sambil menghadap
kanvas di depannya. Aku pun memberanikan diri untuk menghampiri dan duduk di
sampingnya.
“Boleh
duduk di sampingnya engga?” Tanyaku dengan sedikit senyuman kepadanya, tetapi
dia hanya membalas dengan sebuah tatapan dan melanjutkan lukisannya. Aku sempat
bingung dengan arti dari tanggapannya tadi. Tapi ya sudahlah aku langsung duduk
saja di sampingnya.
Di
tempat duduk itu aku melihat ke depan, lebih tepatnya ke arah sungai yang
bersebrangan dengan masjid terbesar di Banjarmasin. Sebuah ketenangan ku dapat
sore ini, pohon yang rindang membuat suasana sejuk di tempat aku santai ini.
Sesekali terdengar suara kelotok
menyusuri sungai yang ada di depanku. Tetapi suara bising itu tidak
menggangguku, aku seakan larut dengan ketenangan tempat ini.
“Memang
kota yang indah,” ucap perempuan yang duduk di sebelahku. Aku sempat bingung
dengan siapa dia berbicara, tapi tiba-tiba dia kembali mengucapkan sebuah
kata-kata yang memang tertuju kepadaku. “Memang kota yang indah, kota
Banjarmasin. Kota yang di beri julukan sebagai kota Seribu Sungai ini memang
menjanjikan pemandangan sungainya, apa kamu sependapat denganku?”
“I…iya,
pemandanganya bikin tenang,” jawabku dengan nada gugup.
“Oh
iya, maaf tadi aku ngecuekin teguran kamu. Soalnya aku lagi fokus ngelukis ini
sungai,”
“Engga
apa-apa kok,” jawabku dengan sedikit senuman. “Pelukis yah?” Sambungku dengan
sebuah pertanyaan basa-basi.
“Ya
begitulah,” jawab perempuan tersebut sambil merapikan peralatan melukisnya dan
memasukannya ke sebuah tas besar yang dia bawa. “Aku pulang duluan yah, bye.” Sambungnya dengan melambaikan
tangan kepadaku dan pergi meninggalkan tempat duduk kami tadi.
Aku
sempat penasaran dengan perempuan tadi, baru kali ini aku menemukan perempuan
seperti dia. Wajar sajalah, entah mengapa banyak anak muda sekarang yang bilang
cuma anak kampungan yang duduk-duduk di daerah siring ini. Tapi tidak dengan
perempuan tadi, dia malah meanggap tempat ini seperti keindahan dan
menjadikannya sebuah lukisan di kanvasnya. Hal itu membuat dia memiliki daya
tarik yang lebih bagiku, semoga saja besok aku bisa bertemu denganya lagi.
*****
Hari
ini awannya agak mendung tapi tidak menunjukan harinya akan hujan. Cuaca
seperti ini memang mendukung untuk aku pergi ke tempat yang sama seperti
kemarin, lagipula aku juga penasaran dengan perempuan yang kemarin aku temui di
siring. Aku pun belum tahu siapa namanya dan darimana asalnya. Aku berharap
semoga hari ini dia ada di tempat yang sama dengan tempat pertama kali kami
berjumpa. Aku pun segera mengendarai motorku dan menuju ke tempat biasa aku
duduk di siring.
Sesampainya
aku di sana, aku melihat seseorang yang mirip perempuan kemarin sedang duduk di tempat biasa aku santai. Setelah
ku lihat-lihat ternyata dia memang perempuan yang kemarin melukis pemandangan
sungai ini.
“Hai,
lagi duduk sendirian ya?” tegurku sambil duduk di samping perempuan itu.
“Eh
ternyata kamu, bikin aku kaget aja deh”
“Maaf,”
jawabku sambil terkekeh. “Namaku Putra, kalau nama kamu?” sambungku sambil
meangkat tangan kananku untuk mengajak kenalan.
“Aku
Dita, kamu sering kesini ya, Put?”
“Hampir
setiap hari, memang kenapa?”
“Engga,
cuma nanya aja, emang kenapa sih kamu suka ke sini?” Tanya Dita sambil menatap
ke arahku.
Tempat
ini sebenarnya adalah sebuah tempat kreasi baru yang di bikin oleh pemerintah
kota Banjarmasin, bukan tempat yang begitu istimewa bagi beberapa orang warga
Banjarmasin. “Bagaimana yah, sebenarnya di Banjarmasin cuma tempat ini yang
membuat aku merasa nyaman dan menghilangkan beban di pikiranku. Terus, aku juga
sering ke sini sejak masih SMP kok, kalau kamu, Dit?” Jawabku sambil menatap
sungai di depan sana.
“Kalau
aku sih memang sejak dari SD suka ke sini sama almarhum ibuku, terus pas udah
lulus SMP aku ngelanjutin sekolah seni di Jogja. Dan sampai sekarang aku baru
pulang ke tempat kelahiranku di sini.” Jawab Dita.
Tak
ku sangka dia punya kesamaan dengan diriku, kami sama-sama suka menikmati
pemandangan dan suasana tempat ini. Tempat yang sering di ejek anak muda kota
ini sebagai tempat yang kampungan. Sebenarnya jika orang-orang sini tau
bagaimana indahnya dan nyamannya tempat ini, cap kampungan akan menghilang dari
tempat ini.
“Kenapa
engga ngelukis lagi hari ini?” Ucapku untuk menghilangkan semua keheningan yang
tercipta karena kami terlarut dalam kenyamanan siring ini.
“Untuk
hari ini kayanya engga dulu deh, aku lagi mau ngerasain gimana rasanya duduk
santai di sini kaya kamu.” Jawab Dita dengan senyuman yang muncul dari bibirnya
sehingga wajahnya tampak lebih cantik dari sebelumnya. Kalau di lihat-lihat
Dita termasuk perempuan yang cantik. Dengan rambutnya yang diikat pendek dan
senyumannya yang manis dia berhasil mencuri hatiku dengan seketika. Orangnya
yang enak di ajak ngobrol dan memiliki kesamaan denganku membuat dia berpoin
plus di hatiku. Aku semakin yakin kalau aku memiliki hati kepadanya.
“Ah
kamu bisa aja. Udah makan siang belum, Dit? Kalau belum di sini ada tempat nasi
goreng yang enak lo, kalau mau kita bareng aja ke sana.” Ucapku kepada Dita
yang bermaksud untuk mengajak dia makan siang bareng.
Dita
Mengangguk setuju. “Boleh, aku juga udah laper. Tapi nanti kamu anterin aku
pulang yah, soalnya aku ke sini naik taksi.”
“Siap
deh, itu sih gampang. Pokoknya kita ngisi perut dulu.” Kataku sambil terkekeh
sebelum kembali melanjutkan. “Ayo cepet nunggu apa lagi?”
Kami
pun berjalan menuju motor yang aku letakan di pinggir jalan. Aku dan Dita
menyusuri jalan untuk menuju ke warung makan yang menyediakan nasi goreng yang
menurutku adalah nasi goreng paling enak di daerah sini. Tak perlu waktu lama,
kami pun sampai di warung makan yang kami tuju. Di sana selain makan, kami juga
saling bercerita tentang pengalaman kami masing-masing. Di antaranya penyebab
dia pindah ke Jogja dan melanjutkan sekolah seni di sana. Ternyata sebelum
ibunya meninggal, ibunya menginginkan Dita untuk menjadi seorang seniman. Jadi,
demi menghormati pesan terakhir ibunya dia rela pindah ke Jogja dan sekolah
seni di sana. Aku tak menyangka dia bisa sebegitu berbaktinya dengan keinginan
ibunya.
“Begitulah,
Put. Kita bakal melakukan apa saja agar bisa mewujudkan permintaan orang yang
kita sayangi, apalagi bila orang yang kita sayangi itu telah tiada.” Jawab Dita
sambil menghela napasnya. Aku sontak terdiam mendengar cerita Dita, perkataan
Dita memang ada benarnya juga. Aku terkesan dengan Dita karena sifatnya. Dia
tahu bagaimana menghormati seseorang yang telah tiada.
“Jadi
begitu yah, Dit? Ternyata kamu orangnya baik juga yah.” Pujiku kepada Dita yang seakan tidak pernah
habisnya.
Setelah
cukup lama kami berbicara, akhirnya Dita melihat ke arah jam tangannya.
Ternyata dia mengajakku untuk segera pulang karena harinya sudah agak sore. “Putra,
pulang yuk. Udah sore,”
“Engga
mau ngelihat matahari terbenam dulu?”
“Lain
kali aja deh, aku mau pulang soalnya aku ada kerjaan.”
“Ya
udah deh, ayo aku anterin.”
Di
jalan menuju rumahnya aku merasakan kenyamanan saat dekat dengan dia. Yang aku
rasakan saat ini adalah sebuah perasaan yang bisa di sebut ‘Cinta’. Aku pun
masih menyimpan perasaan ini, karena begitu lancang untuk menyatakan sebuah
kata suka kepadanya secepat ini. Bila sudah jatuh cinta seperti ini mungkin
kota ini layak mendapat julukkan lain yaitu, “Kota Seribu Cinta”.
*****
Beberapa
hari telah aku lewati bersama Dita. Aku sering menemaninya keliling kota Banjarmasin
untuk melukis setiap keindahan sudut kota ini. Walaupun pernah di pandang
sebagai kota yang agak kotor karena sampah, tapi kota ini memiliki sejuta
keindahan dan sejuta kealamian bila di lihat dari sudut pandang yang berbeda. Menurut
Dita, selain Banjarmasin adalah tempat kelahirannya, kota ini juga mempunyai
pemandangan yang menjanjikan bila semua di tuangkan ke atas kanvas lukisannya. Apalagi
dia memiliki tugas liburan semester, yaitu melukis di sebuah tempat di daerah
Indonesia. Ternyata begitu yah sekolah seni, selalu ada tugas yang bersangkutan
dengan wilayah di Indonesia.
Sampai
akhirnya dia mengatakan akan pulang ke Jogja setelah tahun baru. Sebenarnya
hari ini adalah tanggal 31 Desember, artinya kemungkinan tanggal 1 atau 2 dia
akan pulang ke Jogja. Waktu terasa sangat cepat berlalu, padahal aku masih
ingin merasakan waktu bersamanya. Tapi apa yang bisa aku buat kalau
kenyataannya seperti ini. Aku mulai memikirkan sesuatu, mungkin aku bisa
membuat kenangan spesial yang bisa di ingatnya selalu pas di Jogja.
“Bagaimana
jika malam tahun baru kali ini kita ngerayain di tempat biasa aja?” Ajakku
kepada Dita.
Dita
hanya mengangguk setuju dengan ideku tadi, menurutnya semua itu akan menjadi
kesan yang indah sebelum dia kembali ke Jogja. “Boleh banget, sekalian
perpisahan sebelum aku balik ke Jogja yah,”
Jawabnya sambil tersenyum manis. Aku hanya membalas dengan senyuman dari
kata-katanya tadi, tapi senyumku berubah menjadi sebuah tanya sesaat dia
berkata sesuatu. “Kayaknya waktuku udah engga lama lagi, Put.”
“Maksudnya?”
Aku menyipitkan mata.
“Ah,
engga apa-apa kok. Ayo kita buat malam ini menjadi malam yang spesial buat
aku.” Dita pun berdiri dan menggenggam tanganku. Dia seakan menarikku dan
mengajakku berlari, aku bingung dengan apa yang ingin di lakukan Dita. Tapi aku
hanya mengikuti keinginannya, setidaknya aku melakukan apa yang dia inginkan
sebelum dia kembali ke Jogja dan berjumpa dengannya satu tahun lagi.
*****
Malam
hari telah tiba, setelah sholat Isya aku
menghubungi Dita di telepon. Katanya dia akan datang sekitar jam 10 malam dan menyuruhku
untuk membawa beberapa kembang api untuk dinyalakan malam nanti. Sebenarnya aku
sudah menyiapkan 2 kembang api di tas ranselku, dan jumlah itu menurutku sangat
cukup untuk memeriahkan malam kami berdua. Sebelumnya kami juga sudah janjian
untuk bertemu di tempat pertama kali bertemu, yaitu siring yang bersebrangan
tepat dengan Masjid Sabilal Muhtadin. Ternyata tempat santaiku sejak SMP
menjadi tempatku menemukan cinta, pergantian malam tahun baru ini seperti cocok
untuk menyatakan rasa cintaku kepada Dita. Ya, menyatakan perasaan sebelum dia
balik ke Jogja adalah kenangan yang indah dan pas untuknya malam ini.
“Baiklah,
aku akan datang kira-kira jam segitu. Terus bagaimana yang nanti datangnya
telat harus neraktir makan siang di warung nasi goreng kemarin?” Ucapku sambil
tertawa saat sedangan telponan dengan Dita.
“Oke,
siapa takut,” Jawabnya dengan suara yang yakin kalau dia akan memenangkan
taruhan ini. Aku hanya menjawab dengan tertawa, ternyata lucu mendengar
suaranya di telpon seperti ini.
“Ya
sudah, mending kita siap-siap aja. Aku juga pengen mandi dulu. Bye, Dita.” Ucapku sambil menutup
percakapan kami di telepon. Tak terbayangkan betapa indahnya malam ini saat aku
merayakan malam tahun baru dengannya. Tapi aku tidak mau membayangkannya lebih dulu,
biarkanlah peristiwa malam ini mengalir apa adanya.
*****
Jam
sudah menunjukan pukul 10 malam, aku sudah berdiri menunggu Dita di tempat
pertama kali kami berjumpa. Tapi kelihatannya Dita belum juga menunjukan batang
hidungnya. Tapi sudahlah, mungkin dia sedang terjebak macet parah. Sudah
sewajarnya malam tahun baru banyak anak-anak muda hingga orang dewasa turun ke
jalanan untuk memeriahkan malam pergantian tahun baru kali ini. Lagipula
rumahnya jauh dari tempat ini, jadi maklum saja dia bisa datang terlambat malam
ini.
Aku
menunggunya dengan sabar, tapi dia belum juga dia datang. Aku mencoba
menelponnya, tapi dia tidak mengangkat teleponku. Sebenarnya dalam hati ini aku
khawatir kalau ada hal buruk yang terjadi kepadanya. Tapi aku berusaha berpikir
positif, tapi pikiran positifku semakin bertambahnya menit semakin memudar. Aku
benar-benar panik saat jam sudah menunjukan pukul 23.50, 10 menit lagi tahun
akan segera berganti, tapi dia belum juga datang. Aku yang sedang panik dan
segera menelponnya berulang kali, tapi ini malah makin parah, nomor telepon
yang dia pakai tidak aktif! Aku pun semakin bingung dengan apa yang harus aku
lakukan. Tapi di sela kepanikanku ada seorang perempuan berkacamata dan rambut
terurai panjang yang datang menghampiriku dan terus mendekatiku. Aku sempat
tidak mengenali perempuan tersebut. Tapi setelah di lihat-lihat dia adalah
Dita. Aku tak menyangka dia berpenampilan secantik ini. Aku sempat di buatnya
bengong dengan penampilannya seperti itu.
“Maaf
yah, Put. Aku telat gara-gara terjebak macet. Terus percuma kalau kamu menelpon
aku, handphone aku mati gara-gara lowbat.”
“I…
Iya engga apa kok, Dit.” Jawabku dengan perasaan kaget. Ternyata rambutnya yang
panjang terurai membuat dia tambah cantik dari biasanya. Yang terucap di hatiku
hanyalah ribuan pujian kepadanya tentang penampilannya mala mini. Tapi aku
takut untuk mengatakan pujian yang ada di dalam hatiku, aku takut nanti malah
tambah salah tingkah.
“Waah,
ternyata aku yang telat. Aku harus bayarin kamu makan nasi goreng dong besok?” Ucap
Dita agak kesal karena kemacetan parah yang membuat dia terlambat untuk datang
ke sini.
Di
sela percakapan kami ternyata terdengar suara terompet dan kembang api yang
berhamburan di jalanan. Aku pun melihat ke arah jam tanganku, ternyata tahun
telah berganti. Banyak orang yang berteriak megucapkan selamat tahun baru di
sekitar sini. Aku pun segera mengeluarkan kembang api dari tas ranselku. Aku
sudah tidak sabar lagi untuk menyalakan kembang api untuk memeriahkan malam
pergantian tahun ini.
“Selamat
tahun baru yah, Dit.” Ucapku sambil menggenggam kembang api yang sudah
dinyalakan. Suara letupan kembang api ini cukup nyaring dan mengalahkan suara
terompet yang ada di sekitar kami. Kami berdua larut dalam kebahagiaan
menyambut tahun baru ini, canda tawa yang keluar dari mulut kami berdua seakan
tidak pernah lepas sepanjang malam tahun baru ini.
Aku
menatap ke atas langit ternyata masih banyak kembang api yang mewarnai langit
malam kota ini. Saat kami duduk berdua menikmati warna-warni malam ini,
tiba-tiba ada sebuah keinginan di kepalaku. Tanganku seperti ada beban yang
ingin menggengam tangan Dita. Entah mengapa tanganku mencvari-cari tangan dia
dan, Hap! Sampailah tanganku menggenggam erat jemari-jemari tangan kanan Dita.
Dita terlihat mengiyakan saja tanganku berada di sela jari-jari tangannya. Aku
pun memberanikan diri untuk mengucapkan sesuatu kepada Dita.
“Dit,
aku mau ngomong sesuatu.”
“Ngomong
aja engga perlu di tahan kok.” Jawabnya
santai. Seandainya Dita tahu seberapa kencang detak jantungku berdetak mungkin
dia akan tau kalau aku sedang di landa perasaan yang sangat luar biasa gugup.
“Anuuu, Dit?
“Anu apa, Putra?”
“Anu,
Dit sebenarnya aku suka sama kamu.” Ucapku dengan gugup. Aku mencoba menghela
napas panjang dan kembali berkata. “Kamu mau engga jadi pacar aku? setidaknya
aku ingin jadi pacar kamu sebelum kamu balik ke Jogja, Dit.”
Dita
menatap mataku dan tersenyum, sebenarnya hatiku merasa sangat gugup. Tapi
senyumnya membuat hatiku tenang. Seakan aku sudah tau jawabannya.
“Aku
mau kok, Put. Asal….” Dita melihat ke arah sungai yang ada di depan mata kami
dan mengeluarkan sebuah senyuman sebelum dia melanjutkan kata-katanya. “Asal
kamu janji, bakal ngerayain tahun baru di tempat ini lagi tahun depan bareng
aku.”
Aku
tersenyum bahagia mendengar jawabannya. tak perlu berpikir panjang aku pun
berjanji akan menepati janji yang di berikan oleh Dita. “Pasti, Dit! Pasti!
Asal aku bisa bahagia sama kamu aku akan melakukan semuanya.”
Malam
kali ini pun kami larut dalam kemesraan. Tempat yang menjadi saksi kami
berjumpa pertama kali seakan menjadi saksi bisu juga dalam hubungan awalku
dengan Dita. Tempat ini adalah tempat bersejarah bagi kehidupan cintaku, aku
berdoa di awal pergantian tahun ini. Semoga tahun depan aku bisa melakukan hal
yang sama dengan Dita di tempat ini.
*****
Jam
sudah menunjukan pukul 00.00, suara kembang api dan terompet pun saling beradu
di telingaku. Suara ini membuat lamunanku menjadi buyar. Kenangan tempat ini
seakan tidak ada habisnya bagiku, tahun ini aku telah menepati janji untuk
merayakan tahun baru di tempat pertama aku bertemu Dita. Tapi sungguh di
sayangkan, Dita tidak dapat berhadir malam ini.
Satu
bulan setelah dia pergi meninggalkan Banjarmasin untuk kembali ke Jogja
ternyata dia mendapat musibah, dia terserang penyakit leukemia. Penyakit itu ternyata
adalah penyakit keturunan yang dia dapat dari ibunya. Ibunya meninggal pun
akibat penyakit yang sama dengan penyakit yang di derita Dita. Ingin rasanya
aku menyusul dan menjengukunya ke Jogja, tapi itu hal yang mustahil mengingat
aku punya jam kuliah yang super padat pada awal tahun.
Satu
minggu di rawat di rumah sakit ternyata tak mampu mengobati penyakit parahnya,
sampai akhirnya dia menhghembuskan napas terakhirnya pada tanggal 2 februari.
Aku sungguh menyesal karena tidak sempat menjenguknya di sana. Aku tak sanggup
mendengar berita kalau dia telah meninggal. Air mataku terus keluar, aku tak
sanggup membendung air mata yang berjatuhan ke pipiku.
Sebelum
dia meninggal ternyata dia telah menuliskan sebuah surat untukku, surat
berwarna merah hati yang tertuju kepadaku. Tulisannya pun di tulisnya sendiri
menggunakan tangannya. Aku tahu karena ada bekas tanganya di sana yang dapat
aku rasakan. Aku mendapatkan surat ini sehari setelah mendengar kabar dia meninggal.
Surat ini sungguh membuat ku terharu dan mengerti mengapa dia tidak berada di
sini.
“Putra,
mungkin waktuku sudah tidak lama lagi. Aku sedang terbaring lemah di ranjang
rumah sakit, dan mungkin saat kamu menerima surat ini aku telah tiada di dunia
ini. Tapi ingat, Put. Kamu masih punya janji denganku akan merayakan malam
tahun baru di tempat pertama kita berjumpa, tetapi ternyata aku yang tidak bisa
menepati janji. Tapi aku mohon, ingatlah aku dan perayaan tahun baru kala itu
di saat kita masih bersama. Di sana masih ada kenangan kita yang selalu akan
menemanimu. Maafkan aku yah sayang, bila semua ini telah terjadi. Jadi
tepatilah janjimu yang dulu pernah menghiasi telingaku.”
Di
sini aku duduk berdiam diri menatap kembang api yang bernyala di atas langit.
Aku tersenyum sambil memegang surat dari Dita. Walaupun sosok Dita tidak berada
di sini, tapi aku yakin segala kenangan indahku bersamanya mampu mewujudkan
sosok Dita kembali, walau hanya sebatas khayalan. Banjarmasin bagiku bukanlah terkenal dengan sungainya, tapi bagiku kota ini pantas ku beri julukkan "Kota Seribu Kenangan". Aku menghela napas dan teringat dengan
ucapan Dita dahulu,
“Kita bakal melakukan apa saja agar
bisa mewujudkan permintaan orang yang kita sayangi, apalagi bila orang yang
kita sayangi itu telah tiada.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar