Senin, 30 Desember 2013

Madiba, Gemerlap Yang Redup


Entah respons seperti apa yang benar-benar tepat ketika seorang teman yang dianggap biasa saja memberi perhatian yang lebih daripada pacar sendiri. Setidaknya, itu yang aku alami beberapa pekan terakhir. Ucapan selamat pagi yang selalu lebih dulu daripada siapa pun. 

Perkenalkan, Madiba, perempuan yang akhir-akhir ini aku merasa sangat dekat dengannya. Aku mengenalnya sekitar dua bulan lalu dari media sosial. Entah pastinya kapan, aku tidak ingat. Yang pasti beberapa minggu ini, aku merasa selalu diberi perhatian lebih olehnya. Setiap pagi, selalu ada ucapan selamat pagi melalui pesan singkat darinya yang selalu dengan cara berbeda setiap harinya. Ia selalu saja mampu memaksaku untuk membalas sapanya yang aku anggap candaan. Tapi aku tak pernah merespons lebih jauh.

Di Senin pagi yang berhujan di penghujung Desember, aku sedang duduk di teras rumah dengan secangkir kopi dan menikmati berita yang baru saja dilemparkan loper koran ke dalam rumahku. Hari ini headline-nya masih sama dengan hari kemarin: banjir.

Hari ini memang sedang libur dalam rangka menyambut natal dan tahun baru. Namun aku tetap bangun pagi seperti biasanya. Menikmati udara pagi yang segar yang dihasilkan pohon-pohon hijau di selebar pekarangan rumah sederhana yang aku tinggali bersama kedua orangtuaku.

Saat sedang membaca kolom lanjutan berita olahraga di halaman tengah, dari arah dalam rumah terdengar suara telepon berdering. aku menunggu beberapa saat lalu terdengar gesekan seperti ada yang mengankat telepon itu. Tak lama berselang suara ibu memanggilku.

“Bram, telepon untukmu!” serunya.

Aku segera menaruh koran di meja lalu menyeruput kopiku.

“Sebentar, Bu,” kataku.

Ibu memberikan gagang telepon padaku lalu berjalan masuk ke arah dapur.

“Iya, halo?”
“Bram, ini aku, Rendi. Udah punya jadwal buat tahun baruan belum?”
Rupanya Rendi, teman kantorku yang menelepon pagi-pagi.
“Belum nih, kenapa?” jawabku datar.
“Nah, aku sama beberapa teman kantor yang lain sudah sepakat kita mau rayakan tahun baru di Bali. Gimana, kamu ikut?”

Aku berpikir sejenak. Di seberang telepon Rendi masih menunggu kepastianku.
“Hm, boleh deh. Kali aja di sana aku bisa ketemu sama jodohku,” jawabku, bercanda. Meski dalam hati tetap berharap.

Rendi membalas dengan tawa kecil lalu menutup telepon setelah memberi tahu jadwal keberangkatan kami.
***
Kamis siang yang agak mendung, aku dan Rendi bersama tiga teman kantor lain, Ari, Devi dan Rama akhirnya tiba di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali dengan selamat. Kami berlima akan langsung menuju mobil sewaan yang sudah dipesan oleh Rendi sebelumnya. Rencananya kami akan berkeliling sampai sore lalu beristirahat di homestay di sekitaran Kuta.

Sepanjang perjalanan aku dan Rendi tak hentinya menengok kiri-kanan jalan dan memotret hal yang kami anggap tak biasa. Maklum ini adalah kali pertama untuk aku dan Rendi ke Bali. Rama lebih banyak menghabiskan waktu bersama Devi di kursi paling belakang. Mereka berdua memang pacaran. Sementara Ari lebih banyak diam di kursi paling depan bersama pak supir. Ia mabuk darat.
Tepat jam enam sore kami sampai di homestay. Ari yang seperti sudah menunggu waktu ini tiba, langsung nyemplung di kasur empuk setelah Rendi membuka pintu homestay. Aku, Devi dan Rama membantu pak supir mengangkat barang masuk ke rumah. Semua dari kami sepakat untuk tidur sebelum perayaan puncak tengah malam nanti.
***
“Happy New Year! Selamat tahun baru!”
Sorakan lantang yang didominasi oleh orang asing yang memadati pantai Kuta betul-betul membuat bulu kudukku berdiri. Kembang api bermacam-macam warna berkejar-kejaran di langit Bali seolah-olah malam adalah siang hari. Semua orang di sini tertawa riang. Aku memotret beberapa momen dan membagikannya ke media sosial seperti yang banyak orang juga lakukan. 

Kami terus berjalan menyusuri pantai sambil terus memperhatikan gemerlap di langit yang mempertontonkan keindahan yang hanya terjadi sekali setiap tahun ini. Lalu tanpa sadar aku terpisah dari teman-temanku. Biarkan saja, biarkan kita saling menikmati malam ini dengan cara kita masing-masing, pikirku.

Tiba-tiba handphone-ku berbunyi. Pikiranku langsung tertuju pada mereka berempat. Kupikir mereka mencariku. Saat kulihat ternyata Madiba yang menelepon. Tentu saja pikiranku langsung berubah menjadi, mungkin ingin mengucapkan selamat tahun baru.
“Iya, halo, Madiba, kenapa?”
“Bram, kamu di Kuta? Sebelah mana? Aku juga di sini!”
Madiba berteriak kegirangan di telepon. Aku jadi kikuk seketika.
“I-i-iya, aku di Kuta, kok tahu?”
“Aku liat postingan kamu di Facebook, Bram. Aku pengen ketemu kamu!”
Madiba memaksa. Aku tidak punya rencana sama sekali untuk ini.

Setelah lama berputar-putar mencari perempuan berbaju kaos putih dengan kacamata gagang putih seperti yang ia jelaskan di telepon, di antara beribu orang yang memenuhi pandangan mataku, akhirnya aku bertemu dengan Madiba tepat di depan Hard Rock Café. Ia terlihat berbeda di antara orang-orang lain di pandanganku. Aku segera menghampirinya. Lalu semakin jarak kami dekat, semakin jantungku berdetak lebih kencang. Tanpa sadar keringat mengucur dari keningku.
“Hai, Madiba?” sapaku memastikan.
“Iya. Bram?” aku mengangguk. Madiba tersenyum. Terlihat bahagia sekali seperti ingin mengekspresikan suatu rasa bahagia tapi berusaha menahannya. Ia langsung memelukku. Badanku yang lebih tinggi darinya memaksanya berjinjit untuk mengalungkan kedua tangannya di leherku. Aku sedikit membungkukkan badan. Kulihat beberapa orang yang sedang lewat menatap ke arah kami.

“Akhirnya kita ketemu juga,” kata Madiba. Aku sangat gugup. Jantungku semakin berdegup kencang. Keringat di keningku semakin mengucur deras. Sesuatu yang sama sekali tidak terlihat dari wajah Madiba. 

Ia lalu mengajakku duduk di pantai dan bercerita tentang apa saja sepanjang tengah malam ini. Tak seperti perempuan-perempuan lain yang kutemui, aku langsung merasa begitu akrab dan dekat dengan Madiba seperti aku sudah bertemu dengannya sering kali. Walau rasa gugup itu masih sedikit menyelimuti.

“Bram, aku sayang sama kamu,” kata Madiba di penghujung pertemuan kami malam ini yang diiringi gemerlap langit yang mulai redup seiring pagi menjelang.

Aku tidak terlalu kaget mendengar itu. Dari sikapnya sejak pertama bertemu tadi aku bisa tahu itu. Yang membuatku kaget adalah degup jantungku seperti semakin kencang setelah ia mengucap itu. Ada apa ini?! Aku berteriak dalam hatiku berusaha mencari jawaban dari apa yang sedang kualami malam ini.


“Madiba, back to home, right now!”
Tiba-tiba dari belakang kami ada yang memanggil Madiba. Seorang bule laki-laki yang mukanya terlihat seperti orang Arab. Madiba berdiri lalu tersenyum melambaikan tangan ke arah bule itu.
Wait! Wait a minute!” serunya.
Aku hanya diam memperhatikan mereka.
“Bram. Tahun depan di malam tahun baru, temui aku di sini lagi, ya? Janji!”
“Eh, iya, iya, janji,” jawabku spontan.

Madiba tersenyum dan memelukku lagi. Kali ini aku membalas dengan mencium keningnya. Madiba tersenyum lebar dan terlihat sangat bahagia sekali. Ia lalu meninggalkanku sendiri di pantai dan pergi dengan mobil hitam mewah bersama bule tadi. Terlihat beberapa orang lain di mobil itu.
Madiba berlalu dengan beberapa pertanyaan yang masih bergelut di inti otakku sampai saat ini. Pertama, siapa laki-laki bule yang memanggil Madiba? Jika itu adalah ayahnya, mengapa wajah Madiba begitu persis orang Indonesia tulen? Pertanyaan itu akhirnya terpaksa kusimpan setelah tak lama kemudian teman-temanku datang menghampiriku.

“Hey! Kamu dari mana saja, Bram. Kami dari tadi cari kamu,” kata Rendi mengejutkanku dengan menepuk bahuku.
***
Malam itu, atau tepatnya pagi itu adalah pertama dan terakhir kali aku bertemu dengan Madiba. Sejak ia dan mobil hitam mewahnya berlalu dari pandanganku, aku tak pernah lagi tahu kabarnya. Nomornya tidak pernah lagi bisa dihubungi. Akun-akun media sosialnya tidak pernah lagi di-update. Dan pertanyaan yang muncul dan ingin kutanyakan tak pernah terjawab hingga saat ini. Sepanjang hari pikiranku tak ada hentinya tentang Madiba. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk memenuhi ucapan terakhirnya sebelum kami berpisah malam itu.

Aku datang lagi ke Kuta di malam tahun baru berikutnya. Menunggunya di pantai tepat di bawah pohon palem tempat kami berpisah dulu. Aku menunggu sampai matahari pagi hampir memancarkan sinarnya. Tapi Madiba tak pernah lagi datang. Rasa rindu yang kusimpan selama setahun  penuh tak pernah terbalaskan hingga saat ini. Dan aku tak pernah tahu ke mana perginya ia malam itu dan di mana ia di malam tahu baru berikutnya. Gemerlap malam di pantai Kuta malam itu sama sekali tak mampu mempertemukanku kembali dengan Madiba. Tak segemerlap senyum Madiba yang perlahan mulai redup dalam ingatanku.

Kota Seribu Kenangan


            Suara keramaian jalan yang dipenuhi dengan kendaraan bermotor mulai terdengar malam ini. Malam ini bukanlah malam yang seperti biasanya, tetapi malam ini begitu istimewa untuk beberapa orang di seluruh dunia. Ya, malam pergantian tahun akan tiba beberapa jam lagi. Aku pun sudah mempersiapkan diri untuk malam ini, aku akan pergi ke daerah siring di dekat sungai yang bersebrangan dengan Masjid terbesar di Banjarmasin, Masjid Sabilal Muhtadin. Inilah kotaku, kota yang berjulukan kota seribu sungai ini memiliki sejuta kenangan indah mulai aku baru lahir hingga sampai sekarang aku sudah berumur 20 tahun, usia yang cukup untuk di bilang sebagai orang dewasa.
Jam tanganku sudah menunjukan pukul 10 malam, aku pun segera mengambil tas ranselku yang berisikan beberapa kembang api untuk di nyalakan malam ini. Persiapan tahun baru kali ini membuatku teringat  dengan peristiwa satu tahun yang lalu, saat aku merayakan tahun baru  bersama kekasihku, namanya Dita. Dita adalah seorang seniman yang menurutku begitu ahli dalam melukis. Keahliannya dalam melukis keindahan kota Banjarmasin dari berbagai sudut membuatku mengaguminya. Kelihaian tanganya dalam melukis sering aku saksikan dengan mataku sendiri.
*****
Kebiasaanku sewaktu pulang kuliah adalah nongkrong sendirian di tempat teduh di pinggir sungai yang memiliki siring di pinggirnya. Tempat ini menjanjikan sebuah ketenangan yang selalu ingin aku dapatkan. Sebanyak beban apapun yang datang menghampiriku bila datang ke tempat ini pasti semua akan hilang dalam sekejap, rasa bosan pun seperti tak berani untuk menghampiriku. Sampai suatu ketika aku meliat seorang wanita yang sedang duduk di tempat biasanya aku santai sambil menghadap kanvas di depannya. Aku pun memberanikan diri untuk menghampiri dan duduk di sampingnya.
“Boleh duduk di sampingnya engga?” Tanyaku dengan sedikit senyuman kepadanya, tetapi dia hanya membalas dengan sebuah tatapan dan melanjutkan lukisannya. Aku sempat bingung dengan arti dari tanggapannya tadi. Tapi ya sudahlah aku langsung duduk saja di sampingnya.
Di tempat duduk itu aku melihat ke depan, lebih tepatnya ke arah sungai yang bersebrangan dengan masjid terbesar di Banjarmasin. Sebuah ketenangan ku dapat sore ini, pohon yang rindang membuat suasana sejuk di tempat aku santai ini. Sesekali terdengar suara kelotok menyusuri sungai yang ada di depanku. Tetapi suara bising itu tidak menggangguku, aku seakan larut dengan ketenangan tempat ini.
“Memang kota yang indah,” ucap perempuan yang duduk di sebelahku. Aku sempat bingung dengan siapa dia berbicara, tapi tiba-tiba dia kembali mengucapkan sebuah kata-kata yang memang tertuju kepadaku. “Memang kota yang indah, kota Banjarmasin. Kota yang di beri julukan sebagai kota Seribu Sungai ini memang menjanjikan pemandangan sungainya, apa kamu sependapat denganku?”
“I…iya, pemandanganya bikin tenang,” jawabku dengan nada gugup.
“Oh iya, maaf tadi aku ngecuekin teguran kamu. Soalnya aku lagi fokus ngelukis ini sungai,”
“Engga apa-apa kok,” jawabku dengan sedikit senuman. “Pelukis yah?” Sambungku dengan sebuah pertanyaan basa-basi.
“Ya begitulah,” jawab perempuan tersebut sambil merapikan peralatan melukisnya dan memasukannya ke sebuah tas besar yang dia bawa. “Aku pulang duluan yah, bye.” Sambungnya dengan melambaikan tangan kepadaku dan pergi meninggalkan tempat duduk kami tadi.
Aku sempat penasaran dengan perempuan tadi, baru kali ini aku menemukan perempuan seperti dia. Wajar sajalah, entah mengapa banyak anak muda sekarang yang bilang cuma anak kampungan yang duduk-duduk di daerah siring ini. Tapi tidak dengan perempuan tadi, dia malah meanggap tempat ini seperti keindahan dan menjadikannya sebuah lukisan di kanvasnya. Hal itu membuat dia memiliki daya tarik yang lebih bagiku, semoga saja besok aku bisa bertemu denganya lagi.
*****
Hari ini awannya agak mendung tapi tidak menunjukan harinya akan hujan. Cuaca seperti ini memang mendukung untuk aku pergi ke tempat yang sama seperti kemarin, lagipula aku juga penasaran dengan perempuan yang kemarin aku temui di siring. Aku pun belum tahu siapa namanya dan darimana asalnya. Aku berharap semoga hari ini dia ada di tempat yang sama dengan tempat pertama kali kami berjumpa. Aku pun segera mengendarai motorku dan menuju ke tempat biasa aku duduk di siring.
Sesampainya aku di sana, aku melihat seseorang yang mirip perempuan kemarin  sedang duduk di tempat biasa aku santai. Setelah ku lihat-lihat ternyata dia memang perempuan yang kemarin melukis pemandangan sungai ini.
“Hai, lagi duduk sendirian ya?” tegurku sambil duduk di samping perempuan itu.
“Eh ternyata kamu, bikin aku kaget aja deh
“Maaf,” jawabku sambil terkekeh. “Namaku Putra, kalau nama kamu?” sambungku sambil meangkat tangan kananku untuk mengajak kenalan.
“Aku Dita, kamu sering kesini ya, Put?”
“Hampir setiap hari, memang kenapa?”
“Engga, cuma nanya aja, emang kenapa sih kamu suka ke sini?” Tanya Dita sambil menatap ke arahku.
Tempat ini sebenarnya adalah sebuah tempat kreasi baru yang di bikin oleh pemerintah kota Banjarmasin, bukan tempat yang begitu istimewa bagi beberapa orang warga Banjarmasin. “Bagaimana yah, sebenarnya di Banjarmasin cuma tempat ini yang membuat aku merasa nyaman dan menghilangkan beban di pikiranku. Terus, aku juga sering ke sini sejak masih SMP kok, kalau kamu, Dit?” Jawabku sambil menatap sungai di depan sana.
“Kalau aku sih memang sejak dari SD suka ke sini sama almarhum ibuku, terus pas udah lulus SMP aku ngelanjutin sekolah seni di Jogja. Dan sampai sekarang aku baru pulang ke tempat kelahiranku di sini.” Jawab Dita.
Tak ku sangka dia punya kesamaan dengan diriku, kami sama-sama suka menikmati pemandangan dan suasana tempat ini. Tempat yang sering di ejek anak muda kota ini sebagai tempat yang kampungan. Sebenarnya jika orang-orang sini tau bagaimana indahnya dan nyamannya tempat ini, cap kampungan akan menghilang dari tempat ini.
“Kenapa engga ngelukis lagi hari ini?” Ucapku untuk menghilangkan semua keheningan yang tercipta karena kami terlarut dalam kenyamanan siring ini.
“Untuk hari ini kayanya engga dulu deh, aku lagi mau ngerasain gimana rasanya duduk santai di sini kaya kamu.” Jawab Dita dengan senyuman yang muncul dari bibirnya sehingga wajahnya tampak lebih cantik dari sebelumnya. Kalau di lihat-lihat Dita termasuk perempuan yang cantik. Dengan rambutnya yang diikat pendek dan senyumannya yang manis dia berhasil mencuri hatiku dengan seketika. Orangnya yang enak di ajak ngobrol dan memiliki kesamaan denganku membuat dia berpoin plus di hatiku. Aku semakin yakin kalau aku memiliki hati kepadanya.
“Ah kamu bisa aja. Udah makan siang belum, Dit? Kalau belum di sini ada tempat nasi goreng yang enak lo, kalau mau kita bareng aja ke sana.” Ucapku kepada Dita yang bermaksud untuk mengajak dia makan siang bareng.
Dita Mengangguk setuju. “Boleh, aku juga udah laper. Tapi nanti kamu anterin aku pulang yah, soalnya aku ke sini naik taksi.”
“Siap deh, itu sih gampang. Pokoknya kita ngisi perut dulu.” Kataku sambil terkekeh sebelum kembali melanjutkan. “Ayo cepet nunggu apa lagi?”
Kami pun berjalan menuju motor yang aku letakan di pinggir jalan. Aku dan Dita menyusuri jalan untuk menuju ke warung makan yang menyediakan nasi goreng yang menurutku adalah nasi goreng paling enak di daerah sini. Tak perlu waktu lama, kami pun sampai di warung makan yang kami tuju. Di sana selain makan, kami juga saling bercerita tentang pengalaman kami masing-masing. Di antaranya penyebab dia pindah ke Jogja dan melanjutkan sekolah seni di sana. Ternyata sebelum ibunya meninggal, ibunya menginginkan Dita untuk menjadi seorang seniman. Jadi, demi menghormati pesan terakhir ibunya dia rela pindah ke Jogja dan sekolah seni di sana. Aku tak menyangka dia bisa sebegitu berbaktinya dengan keinginan ibunya.
“Begitulah, Put. Kita bakal melakukan apa saja agar bisa mewujudkan permintaan orang yang kita sayangi, apalagi bila orang yang kita sayangi itu telah tiada.” Jawab Dita sambil menghela napasnya. Aku sontak terdiam mendengar cerita Dita, perkataan Dita memang ada benarnya juga. Aku terkesan dengan Dita karena sifatnya. Dia tahu bagaimana menghormati seseorang yang telah tiada.
“Jadi begitu yah, Dit? Ternyata kamu orangnya baik juga yah.”  Pujiku kepada Dita yang seakan tidak pernah habisnya.
Setelah cukup lama kami berbicara, akhirnya Dita melihat ke arah jam tangannya. Ternyata dia mengajakku untuk segera pulang karena harinya sudah agak sore. “Putra, pulang yuk. Udah sore,”  
“Engga mau ngelihat matahari terbenam dulu?”
“Lain kali aja deh, aku mau pulang soalnya aku ada kerjaan.”
“Ya udah deh, ayo aku anterin.”
Di jalan menuju rumahnya aku merasakan kenyamanan saat dekat dengan dia. Yang aku rasakan saat ini adalah sebuah perasaan yang bisa di sebut ‘Cinta’. Aku pun masih menyimpan perasaan ini, karena begitu lancang untuk menyatakan sebuah kata suka kepadanya secepat ini. Bila sudah jatuh cinta seperti ini mungkin kota ini layak mendapat julukkan lain yaitu, “Kota Seribu Cinta”.
*****
Beberapa hari telah aku lewati bersama Dita. Aku sering menemaninya keliling kota Banjarmasin untuk melukis setiap keindahan sudut kota ini. Walaupun pernah di pandang sebagai kota yang agak kotor karena sampah, tapi kota ini memiliki sejuta keindahan dan sejuta kealamian bila di lihat dari sudut pandang yang berbeda. Menurut Dita, selain Banjarmasin adalah tempat kelahirannya, kota ini juga mempunyai pemandangan yang menjanjikan bila semua di tuangkan ke atas kanvas lukisannya. Apalagi dia memiliki tugas liburan semester, yaitu melukis di sebuah tempat di daerah Indonesia. Ternyata begitu yah sekolah seni, selalu ada tugas yang bersangkutan dengan wilayah di Indonesia.
Sampai akhirnya dia mengatakan akan pulang ke Jogja setelah tahun baru. Sebenarnya hari ini adalah tanggal 31 Desember, artinya kemungkinan tanggal 1 atau 2 dia akan pulang ke Jogja. Waktu terasa sangat cepat berlalu, padahal aku masih ingin merasakan waktu bersamanya. Tapi apa yang bisa aku buat kalau kenyataannya seperti ini. Aku mulai memikirkan sesuatu, mungkin aku bisa membuat kenangan spesial yang bisa di ingatnya selalu pas di Jogja.  
“Bagaimana jika malam tahun baru kali ini kita ngerayain di tempat biasa aja?” Ajakku kepada Dita.
Dita hanya mengangguk setuju dengan ideku tadi, menurutnya semua itu akan menjadi kesan yang indah sebelum dia kembali ke Jogja. “Boleh banget, sekalian perpisahan sebelum aku balik ke Jogja yah,”  Jawabnya sambil tersenyum manis. Aku hanya membalas dengan senyuman dari kata-katanya tadi, tapi senyumku berubah menjadi sebuah tanya sesaat dia berkata sesuatu. “Kayaknya waktuku udah engga lama lagi, Put.”
“Maksudnya?” Aku menyipitkan mata.
“Ah, engga apa-apa kok. Ayo kita buat malam ini menjadi malam yang spesial buat aku.” Dita pun berdiri dan menggenggam tanganku. Dia seakan menarikku dan mengajakku berlari, aku bingung dengan apa yang ingin di lakukan Dita. Tapi aku hanya mengikuti keinginannya, setidaknya aku melakukan apa yang dia inginkan sebelum dia kembali ke Jogja dan berjumpa dengannya satu tahun lagi.
*****
Malam hari telah tiba, setelah sholat Isya aku menghubungi Dita di telepon. Katanya dia akan datang sekitar jam 10 malam dan menyuruhku untuk membawa beberapa kembang api untuk dinyalakan malam nanti. Sebenarnya aku sudah menyiapkan 2 kembang api di tas ranselku, dan jumlah itu menurutku sangat cukup untuk memeriahkan malam kami berdua. Sebelumnya kami juga sudah janjian untuk bertemu di tempat pertama kali bertemu, yaitu siring yang bersebrangan tepat dengan Masjid Sabilal Muhtadin. Ternyata tempat santaiku sejak SMP menjadi tempatku menemukan cinta, pergantian malam tahun baru ini seperti cocok untuk menyatakan rasa cintaku kepada Dita. Ya, menyatakan perasaan sebelum dia balik ke Jogja adalah kenangan yang indah dan pas untuknya malam ini.
“Baiklah, aku akan datang kira-kira jam segitu. Terus bagaimana yang nanti datangnya telat harus neraktir makan siang di warung nasi goreng kemarin?” Ucapku sambil tertawa saat sedangan telponan dengan Dita.
“Oke, siapa takut,” Jawabnya dengan suara yang yakin kalau dia akan memenangkan taruhan ini. Aku hanya menjawab dengan tertawa, ternyata lucu mendengar suaranya di telpon seperti ini.
“Ya sudah, mending kita siap-siap aja. Aku juga pengen mandi dulu. Bye, Dita.” Ucapku sambil menutup percakapan kami di telepon. Tak terbayangkan betapa indahnya malam ini saat aku merayakan malam tahun baru dengannya. Tapi aku tidak mau membayangkannya lebih dulu, biarkanlah peristiwa malam ini mengalir apa adanya.
*****
Jam sudah menunjukan pukul 10 malam, aku sudah berdiri menunggu Dita di tempat pertama kali kami berjumpa. Tapi kelihatannya Dita belum juga menunjukan batang hidungnya. Tapi sudahlah, mungkin dia sedang terjebak macet parah. Sudah sewajarnya malam tahun baru banyak anak-anak muda hingga orang dewasa turun ke jalanan untuk memeriahkan malam pergantian tahun baru kali ini. Lagipula rumahnya jauh dari tempat ini, jadi maklum saja dia bisa datang terlambat malam ini.
Aku menunggunya dengan sabar, tapi dia belum juga dia datang. Aku mencoba menelponnya, tapi dia tidak mengangkat teleponku. Sebenarnya dalam hati ini aku khawatir kalau ada hal buruk yang terjadi kepadanya. Tapi aku berusaha berpikir positif, tapi pikiran positifku semakin bertambahnya menit semakin memudar. Aku benar-benar panik saat jam sudah menunjukan pukul 23.50, 10 menit lagi tahun akan segera berganti, tapi dia belum juga datang. Aku yang sedang panik dan segera menelponnya berulang kali, tapi ini malah makin parah, nomor telepon yang dia pakai tidak aktif! Aku pun semakin bingung dengan apa yang harus aku lakukan. Tapi di sela kepanikanku ada seorang perempuan berkacamata dan rambut terurai panjang yang datang menghampiriku dan terus mendekatiku. Aku sempat tidak mengenali perempuan tersebut. Tapi setelah di lihat-lihat dia adalah Dita. Aku tak menyangka dia berpenampilan secantik ini. Aku sempat di buatnya bengong dengan penampilannya seperti itu.
“Maaf yah, Put. Aku telat gara-gara terjebak macet. Terus percuma kalau kamu menelpon aku, handphone aku mati gara-gara lowbat.”
“I… Iya engga apa kok, Dit.” Jawabku dengan perasaan kaget. Ternyata rambutnya yang panjang terurai membuat dia tambah cantik dari biasanya. Yang terucap di hatiku hanyalah ribuan pujian kepadanya tentang penampilannya mala mini. Tapi aku takut untuk mengatakan pujian yang ada di dalam hatiku, aku takut nanti malah tambah salah tingkah.  
“Waah, ternyata aku yang telat. Aku harus bayarin kamu makan nasi goreng dong besok?” Ucap Dita agak kesal karena kemacetan parah yang membuat dia terlambat untuk datang ke sini.
Di sela percakapan kami ternyata terdengar suara terompet dan kembang api yang berhamburan di jalanan. Aku pun melihat ke arah jam tanganku, ternyata tahun telah berganti. Banyak orang yang berteriak megucapkan selamat tahun baru di sekitar sini. Aku pun segera mengeluarkan kembang api dari tas ranselku. Aku sudah tidak sabar lagi untuk menyalakan kembang api untuk memeriahkan malam pergantian tahun ini.
“Selamat tahun baru yah, Dit.” Ucapku sambil menggenggam kembang api yang sudah dinyalakan. Suara letupan kembang api ini cukup nyaring dan mengalahkan suara terompet yang ada di sekitar kami. Kami berdua larut dalam kebahagiaan menyambut tahun baru ini, canda tawa yang keluar dari mulut kami berdua seakan tidak pernah lepas sepanjang malam tahun baru ini.
Aku menatap ke atas langit ternyata masih banyak kembang api yang mewarnai langit malam kota ini. Saat kami duduk berdua menikmati warna-warni malam ini, tiba-tiba ada sebuah keinginan di kepalaku. Tanganku seperti ada beban yang ingin menggengam tangan Dita. Entah mengapa tanganku mencvari-cari tangan dia dan, Hap! Sampailah tanganku menggenggam erat jemari-jemari tangan kanan Dita. Dita terlihat mengiyakan saja tanganku berada di sela jari-jari tangannya. Aku pun memberanikan diri untuk mengucapkan sesuatu kepada Dita.
“Dit, aku mau ngomong sesuatu.”
“Ngomong aja engga perlu di tahan kok.”  Jawabnya santai. Seandainya Dita tahu seberapa kencang detak jantungku berdetak mungkin dia akan tau kalau aku sedang di landa perasaan yang sangat luar biasa gugup.
Anuuu, Dit?
Anu apa, Putra?”
“Anu, Dit sebenarnya aku suka sama kamu.” Ucapku dengan gugup. Aku mencoba menghela napas panjang dan kembali berkata. “Kamu mau engga jadi pacar aku? setidaknya aku ingin jadi pacar kamu sebelum kamu balik ke Jogja, Dit.”
Dita menatap mataku dan tersenyum, sebenarnya hatiku merasa sangat gugup. Tapi senyumnya membuat hatiku tenang. Seakan aku sudah tau jawabannya.
“Aku mau kok, Put. Asal….” Dita melihat ke arah sungai yang ada di depan mata kami dan mengeluarkan sebuah senyuman sebelum dia melanjutkan kata-katanya. “Asal kamu janji, bakal ngerayain tahun baru di tempat ini lagi tahun depan bareng aku.”
Aku tersenyum bahagia mendengar jawabannya. tak perlu berpikir panjang aku pun berjanji akan menepati janji yang di berikan oleh Dita. “Pasti, Dit! Pasti! Asal aku bisa bahagia sama kamu aku akan melakukan semuanya.”
Malam kali ini pun kami larut dalam kemesraan. Tempat yang menjadi saksi kami berjumpa pertama kali seakan menjadi saksi bisu juga dalam hubungan awalku dengan Dita. Tempat ini adalah tempat bersejarah bagi kehidupan cintaku, aku berdoa di awal pergantian tahun ini. Semoga tahun depan aku bisa melakukan hal yang sama dengan Dita di tempat ini.
*****
Jam sudah menunjukan pukul 00.00, suara kembang api dan terompet pun saling beradu di telingaku. Suara ini membuat lamunanku menjadi buyar. Kenangan tempat ini seakan tidak ada habisnya bagiku, tahun ini aku telah menepati janji untuk merayakan tahun baru di tempat pertama aku bertemu Dita. Tapi sungguh di sayangkan, Dita tidak dapat berhadir malam ini.
Satu bulan setelah dia pergi meninggalkan Banjarmasin untuk kembali ke Jogja ternyata dia mendapat musibah, dia terserang penyakit leukemia. Penyakit itu ternyata adalah penyakit keturunan yang dia dapat dari ibunya. Ibunya meninggal pun akibat penyakit yang sama dengan penyakit yang di derita Dita. Ingin rasanya aku menyusul dan menjengukunya ke Jogja, tapi itu hal yang mustahil mengingat aku punya jam kuliah yang super padat pada awal tahun.
Satu minggu di rawat di rumah sakit ternyata tak mampu mengobati penyakit parahnya, sampai akhirnya dia menhghembuskan napas terakhirnya pada tanggal 2 februari. Aku sungguh menyesal karena tidak sempat menjenguknya di sana. Aku tak sanggup mendengar berita kalau dia telah meninggal. Air mataku terus keluar, aku tak sanggup membendung air mata yang berjatuhan ke pipiku.
Sebelum dia meninggal ternyata dia telah menuliskan sebuah surat untukku, surat berwarna merah hati yang tertuju kepadaku. Tulisannya pun di tulisnya sendiri menggunakan tangannya. Aku tahu karena ada bekas tanganya di sana yang dapat aku rasakan. Aku mendapatkan surat ini sehari setelah mendengar kabar dia meninggal. Surat ini sungguh membuat ku terharu dan mengerti mengapa dia tidak berada di sini.
“Putra, mungkin waktuku sudah tidak lama lagi. Aku sedang terbaring lemah di ranjang rumah sakit, dan mungkin saat kamu menerima surat ini aku telah tiada di dunia ini. Tapi ingat, Put. Kamu masih punya janji denganku akan merayakan malam tahun baru di tempat pertama kita berjumpa, tetapi ternyata aku yang tidak bisa menepati janji. Tapi aku mohon, ingatlah aku dan perayaan tahun baru kala itu di saat kita masih bersama. Di sana masih ada kenangan kita yang selalu akan menemanimu. Maafkan aku yah sayang, bila semua ini telah terjadi. Jadi tepatilah janjimu yang dulu pernah menghiasi telingaku.”
Di sini aku duduk berdiam diri menatap kembang api yang bernyala di atas langit. Aku tersenyum sambil memegang surat dari Dita. Walaupun sosok Dita tidak berada di sini, tapi aku yakin segala kenangan indahku bersamanya mampu mewujudkan sosok Dita kembali, walau hanya sebatas khayalan. Banjarmasin bagiku bukanlah terkenal dengan sungainya, tapi bagiku kota ini pantas ku beri julukkan "Kota Seribu Kenangan". Aku menghela napas dan teringat dengan ucapan Dita dahulu,
“Kita bakal melakukan apa saja agar bisa mewujudkan permintaan orang yang kita sayangi, apalagi bila orang yang kita sayangi itu telah tiada.”

Kamis, 05 Desember 2013

PHP ("Penerima" Harapan Palsu)


Assalamualaikum! Im come back! Ya malam ini gue bakal ngepost kok, tenang aja. Buat para pembaca yang sering ngebaca post post gue, akhirnya kita bisa berjumpa lagi di post kali ini *Emoticon Peluk*.
Malam ini gue bakal membahas yang namanya PHP, ya PEHAPE. Tapi PHP kali ini bukan dalm artian Pemberi Harapan Palsu, tapi ‘Penerima’ Harapan Palsu. Ya, menurut gue korban dari kegananasan dunia cinta yang dalam artian adalah PHP itu sangat mewabah di Indonesia. Tingkatannya semakin hari semakin membanyak. Orang orang pun mungkin banyak yang lupa kalo makanan pokoknya adalah nasi berubah jadi makan harapan kosong.
Penerima harapan palsu di Indonesia menurut gue banyak dari kalangan wanita, dan sering kali terjadi dikalangan pria. Terbukti di twitter yang paling banyak galau dikarenakan sebuah harapan kosong adalah seorang cewe, apalagi kalo dwitasari ngebikin tweet berisikan tentang harapan, behhh banyak aja tuh yang ngeretweet. Tapi cowo terkadang juga bisa jadi korban lo, walaupun banyak cewe yang menyalahkan cowo sebagai tersangka PHP. Padahal cowo kalo udah jadi korban PHP kekecewaan dalam hatinya lebih parah lagi.
Emmmm, ada yang ingat potongan lirik lagu Anda – Menghitung hari? Katanya kaya gini “Jangan kau beri harapan padaku, seperti ingin tapi tak ingin.” Tuh dalam banget kata katanya. Tapi terkadang maksud hati beda dengan perilaku, dalam artian seperti ini. Terkadang lo yang merasa dekat dan nyaman ama orang lain, tapi eh ternyata cuman sebatas pengisi kekosongan hati orang tuh aja. Orang tadi berpendapat dia tidak memberikan harapan, karena dia cuman nganggep adik kaka doang, dan kemungkinan terbesarnya lo kegeeran. Ya, GEER.
Terkadang penerima harapan palsu cuman bisa diam, karena apa yang dia lakukan sebatas sebuah hubungan yang gak akan bisa lebih. Mungkin aja lebih, adik kaka (lagi). setiap hari mungkin para penerima harapan palsu udah kenyang, karena makanan sehari harinya cuman harapan kosong, itulah pengganjal hatinya. Walaupun mereka gak tau bagaimana akhirnya hubungan itu.  
Itulah segelintir fakta tentang Penerima Harapan Palsu, tapi gue pesan buat kalian yang ngebaca. Jangan suka ngemil harapan, kalo keseringan kasian hati lo. Hati kalian kan bukan mie sakura yang bisa diremuk remuk jadi berkeping keping. dan terkadang waspadailah orang yang datang dengan harpan, pergi dengan seribu alasan. Assalamualaikum!

sumber foto : terserahsaya.com
“Tong Kosong Nyaring Bunyinya, Harapan Yang Kosong Terkadang Paling Banyak Bersuara”-Rifqi Maulani.