Sosok lelaki berkulit putih tinggi dan
mempunyai dagu yang agak lancip. Sebut saja namanya Imam. Dia lelaki soleh,
untuk sholat pun dia tak pernah meninggalkannya sedikit pun. Baginya bila ingin
bahagia dunia maupun di akhirat dia harus mengerjakan perintah Allah SWT. Tapi
kesolehannya itu terdapat sebuah kebimbangan di hatinya. Ya, dia mempunyai hati
dengan teman satu komplek tapi berbeda blok denganya. Namanya, Sinta. Bukannya tidak
berani untuk mengutarakan perasaannya itu, tetapi perbedaan imanlah yang
menjadi dinding penghalang paling besar yang dia hadapi.
“Bagaimana seorang anak Muslim yang
terkenal soleh seperti kamu bisa memiliki hati kepada wanita yang tidak sejalan
dengan agama kita, nak?” Ucap ibunya saat Imam pulang dari rumah Sinta.
Sebenarnya Imam hanya mengantarkan Sinta pulang dari bimbelnya, tapi rawut
wajah Imam tak bisa membohongi ibunya, ibunya mulai tahu kalau Imam mempunyai
rasa cinta terhadap Sinta.
“Ibu, anakmu ini cuma mengantarkan dia
pulang dari bimbelnya. Kasian dia anak perempuan pulang sendiri malam-malam
seperti ini.” Jawab Imam walaupun mulut dan hatinya sedikit bertolak belakang
dalam mengucapkan kalimat tadi.
“Ibu tau nak, kamu punya hati kepada dia
kan? Apakah kamu tau apa jadinya perkawinan tidak seagama itu? Sama saja
Zinah!” Bentak ibunya kepada Imam. Imam hanya bisa terdiam, dia memang tak
pernah jatuh hati kepada wanita yang pernah dia kenal. Tetapi entah mengapa
sinta bisa membuat Imam jatuh hati kepadanya? Padahal di saat Imam melaksanakan
sholat Isya, Sinta selalu berdua kepada tuhannya, “satukanlah jalan kami yang
berbeda, kami tahu tuhan hanya ada satu. Hanya keyakinan kami yang berbeda.”
Dan tahukah isi doa Imam setelah selesai
mengerjakan sholatnya? Dia meminta kepada Allah untuk disatukan jalannya dengan
Sinta, karena baru kali ini dia merasakan jatuh hati kepada seseorang yang
memang dia kasihi dengan tulus.
*****
Saat Imam pulang dari kampus, dia
sempatkan untuk menjemput Sinta yang sudah pulang sekolah. “Ka, kita jangan
langsung pulang dulu. Kita ke taman kota saja, mungkin duduk sebentar sambil
liat bunga di sana enak,” Ajak Sinta kepada Imam yang sedang mengendarai
kendaraan bebeknya. Imam pun hanya bisa menyetujui permintaan Sinta, karena
baginya meluangkan waktu bersama Sinta akan terasa susah bila sudah dekat
rumahnya.
Sesampainya di taman mereka duduk
bersampingan, mereka hanya terdiam dalam suasana hening taman kota yang masih
sepi kala siang itu. Tapi entah mengapa Sinta mulai mengatakan kalimat yang
sungguh membingungkan hati Imam.
“Ka, memang di Agama kaka untuk hidup
berdampingan dengan beda keyakinan engga boleh yah?” Imam hanya bisa terdiam
sejenak mendengar pertanyaan Sinta tadi. Belum sempat menjawab pertanyaan tadi
sinta kembali berucap, “Padahal aku suka sama kaka, aku juga tahu kok hubungan
kita bila akan melangkah lebih jauh ibu kaka engga bakal setuju,” sekali lagi
Imam hanya bisa terdiam mendengar kalimat itu. Dalam hatinya terjadi kontak
batin yang sungguh hebat, apakah dia mengutamakan perasaannya atau meutamakan
aturan agamanya? Sungguh pilihan yang sungguh menyulitkan bagi anak soleh
seperti Imam ini. akhirnya setelah beberapa detik berdiam diri, Imam mulai
berani untuk berucap.
“De sinta, semua keyakinan pasti
memiliki aturan. Itulah aturan yang ada di dalam agama kaka. kaka hanya bisa
melaksanakan apa yang sudah menjadi aturan de,” balas Imam dengan wajah yang
memaksa tersenyum.
“Tapi… cinta itu penyatu semua perbedaan
bukan?” Sinta kembali berucap sambil menatap mata Imam yang sedang melamun. Perkataan
Sinta itu membuat semakin bimbang hati Imam. Masih teringat perkataan ibunya
yang tersimpan di otaknya, “Apakah imanmu akan goyang nak setelah ayahmu pergi
meninggalkan kita selamanya? Apakah segitu saja iman seorang anak yang aku
didik menjadi seorang muslim sejati?”. Imam berpikir secara mendalam, apa yang
harus dia katakan? Dia hanya bisa terdiam dalam lamunannya.
“Kok diam, ka?”
Imam hanya membalas dengan senyuman. Sekali
lagi, Imam tidak mau mengucapkan sepatah kata apapun, dia selalu menjaga setiap
kata yang dia ucapkan. Dia tidak ingin salah berucap di saat perasaan dan
keyakinan beradu.
“Cuma bisa diam, ka? Aku perlu jawaban
ka, jawaban!”
Imam yang mulai melunakkan bibirnya, dia
mulai mau berbicara dengan jujur kepada Sinta.
“Apa cinta itu harus memiliki, Sinta?”
Ucap Imam dengan mata lurus ke depan. Sinta hanya terdiam dengan ucapan Imam
tadi, lalu imam melanjutkan ucapannnya tadi.
“Sungguh Sinta, pertama kali hatiku bisa
jatuh kepada seorang wanita adalah kamu. Tapi, kenapa harus kamu? Aku tidak
tahu.”
Sinta pun menjawab ucapan Imam tadi, “jadi,
kita memiliki rasa yang sama, ka?”. Rawut wajah Imam masih belum berubah, masih
terasa hambar untuk dilihat oleh seorang wanita seperti sinta. Hatinya berpikir
apakah wanita ini masih saja belum paham dengan ucapan pertamanya?
“Cinta memang penyatu segalanya Sinta,
tapi tidak untuk hubungan kita. Aku harus mengikuti aturan keyakinanku, semua
ada batasannya. Aku mengaku sayang dengan kamu, tapi apa daya sebuah cinta bila cinta itu tidak
akan abadi akhirnya?” Ucap Imam dengan rasa teguh di hatinya. Dia lihat wajah
Sinta tidak lagi tersenyum, matanya pun berkaca-kaca. Imam merasa iba melihat
semuanyba, tapi apa daya semua itu harus di ungkapkan dengan segera daripada
semua berlanjut ke dalam jurang yang lebih dalam.
“Kamu harus bisa bahagia dengan orang
yang sejalan sama kamu, de. Bukan seseorang yang berbeda keyakinan seperti aku,”
Imam mencoba meyakinkan hati Sinta lewat ucapannya. Ya, dia merelakan
perasaannya demi sebuah keyakinan di agamanya. Dia tahu, Allah memberikan apa
yang dia butuhkan, bukan apa yang dia inginkan.
Sinta pun hanya tersenyum dengan perkataan
Imam tadi. Cintanya bertepuk sebelah tangan karena sebuah perbedaan. Dalam hatinya
dia berpikir dia harus mengerti, dia sudah dewasa dengan semua kenyataan ini. dia
yakin, Tuhan akan memberikan jalan yang terbaik utnuknya.
Mereka berdua hanya bisa tersenyum di
sebuah bangku taman kota. Cinta mereka tidak mungkin bersatu apalagi untuk
abadi. Di hati mereka mungkin masih terdapat sebuah kenyataan yang sungguh
berat untuk di terima. Tapi, pertemanan mungkin terasa sangat cukup untuk
menjalin sebuah jalinan silaturahmi mereka, meski rasa cinta selalu ada di hati
mereka masing-masing.
