Jumat, 27 Maret 2015

Why God? I Getting Hurt Again



Hai semua para pembaca blog gue yang agak aneh, lama tak berjumpa dan lama tak menyapa kalian yang sering banget ngebuka isi blog gue padahal kadang engga jelas isi dan maksud tulisan tersebut. Yeay,  kali ini gue menyempatkan untuk menulis kembali dan gue pengen cerita tentang ‘Bad Day’ gue di hari Saturday kali ini.
Bukan hanya dari pagi gue sial, karena kelakuan jail temen gue, gue malah yang di marahin guru. Shit engga tuh? Tapi udah ah, bukan itu sih bad day gue kali ini. Tetapi seseorang yang gue banggain sebagai kekasih gue ternyata mutusin gue di saat gue lagi sayang-sayangnya. Gila engga? Ya begitulah namanya juga anak muda pacaran, ada saatnya gue bahagia sama pacar dan pasti ada saatnya gue bakal sendiri lagi.
Awalnya aneh, kenapa sih gue mesti diputusin? Emang sih gue engga terlalu ganteng amat, kalo masalah duit gue juga ngejajanin cuma dari uang jajan gue seminggu, dan untuk masalah transportasi? Gue Cuma pakai Honda Beat warna hijau yang selalu ngikut kemana gue berjalan. Dan semua itu engga ada masalah bagi dia, dan kenapa dia mutusin gue? Entah gue juga males buat ngebahas, pokoknya mungkin bagi dia kami udah engga sejalan lagi. Padahal rumah kami berdua satu jalur loh (udah lupain).
Nah sekarang gue sempat bingung, kenapa sih gue sering sial kalo udah ketemu ama namanya cinta? Terkadang pas gue pacaran ama cewe dan gue menuntut katanya gue mengekang dia, dan di saat gue pacaran ama cewe lain dan gue bebaskan asal dia tetap ingat ada batas wajar, malah gue salah karena gue terlalu membebaskan dia. Please God, I don’t understand about it!! Kenapa sih hampir semua cewe suka semau moodnya?
Jujur, gue udah sering banget di sakitin sama namanya makhluk tuhan bernama cewe. Dari yang adek kelas, yang seumuran bahkan sampai yang lebih tua di banding gue, apa emang gue engga cocok buat cewe zaman sekarang? Apa ada yang kurang dari gue gitu? Apa salah gue?  apaan coba jadi ditinggalin mulu sama cewe? Oh God, can u help me to destroyed about this? Gue pengen banget yang namanya di sayang, yang namanya di perjuangin dan yang namanya di perhatiin lebih itu, GUE PENGEN BANGET!!! Dan ujungya sama, I getting hurt again. Dan kali ini sungguh gue merasa bego banget, gue berani memberi kasih sayang ke dia tapi malah ujungnya jadi kaya gini. Eh cewe yang baru mutusin gue, seharusnya lo tau kalo gue udah sayang banget ama lo gilaaa, lo tau engga sih gimana rasanya di bikin kaya gini????
Ah sudahlah gue cape buat mengeluh, toh emang sih umur gue masih remaja belum cukup dewasa buat yang namanya pacaran. Gue juga masih perlu pekerjaan yang layak biar buat ngejujur anak orang agak mahalan dikit. Dari kejadian kali ini semestinya gue harus bersyukur. Kenapa? Karena walaupun gue udah kebelet sayang ama tuh cewe, pasti ada jalan yang indah kok. Mungkin aja nanti dia jodoh gue atau bukan, tapi itu bukan masalah karena siapa sih yang tau masa depan orang? 
Nasi udah jadi bubur, semua itu sudah terlanjut. Tapi gue percaya kok, tuhan akan menyediakan ayam suir, telur suir, bawang goreng dan kecap agar nasi yang terlanjur jadi bubur bakal lebih indah dariada nasi yang Cuma hampa. Oh iya, doain yah guys siapa aja yang ngebuka ini tulisan di blog gue, Insyaallah selesai ujian gue bakal mencoba untuk menulis sebuah novel setelah naskah naskah gue yang dulu udah berantakan. Doain yah fren, sampai jumpa lagi.

Minggu, 08 Maret 2015

Untuk Seseorang



                Terkadang dalam hidup kita memerlukan seseorang yang bisa memabuat kita menjadi sosok yang berarti, merasa bila di dekatnya kita bisa jadi apapun yang kita mau dan di depannya lah kita merasa kita mempunyai rasa mencintai, menyukai dan menyayangi yang mendalam. Ya, akhir-akhir ini aku menemukan orang tersebut, dia memang bukan wanita yang selalu di inginkan oleh setiap lelaki seperti aku. Hanya saja sifat yang berbeda di sampaikannya lewat chat dan saat berjumpa langsung. Dia memiliki aura tersendiri! Memang di chat media social dia begitu cuek, seakan kita tak pernah bisa membandingkan dia itu merespon kita atau engga, dan ternyata di dunia nyata saat mata kami saling bertatap, mulut kami saling beradu argument dalam kami berbicara dia memang orang yang seru, tak membosankan dan dia membuat aku merasa nyaman dengan kehadirannya di sampingku. Dari puluhan wanit yang pernah aku dekati mengapa hanya dia yang aku berpikir ingin aku ajak lebih serius, entah karena dia menarik atau apapun aku sendiri tak dapat mendefiniskannya. Dia berbeda, dan itu saja yang dapat aku simpulkan.
Dari awal aku kenal dia, beberapa foto yang di pajangnya di media social selalu aku simpan. Untuk apa? Hanya untuk dapat melihat inilah wanita yang memang aku sukai. Kenapa? Aku tidak tau, karena aku hanya punya alasan bahwa aku suka melihatnya. Dia bahkan pun bisa membuat aku tenang, dia memang cewe yang cuek, tapi dia perhatian. Seakan aku layak untuk melakukan pengorbanan apapun untuknya. Perlahan tapi pasti, aku mulai menyayanginya.
Dalam larut perjalan waktu, kami melakukan hal yang romantis. Aku senang, kenapa? Karena orang yang aku sayang bisa sedekat ini denganku, melewati setiap jalan kenangan dengan perasaan yang berdebar. Sedikit rasa cintaku mulai bertambah, tak ada yang diragukan hanya saja ada yang aneh
Hari itu seakan hari yang beruntung dan hari yang buruk, dia berubah seakan tak pernah mengenal kami satu sama lain. Dia beragumen aku yang salah, dan aku sebaliknya. Padahal ini hanya sebuah masalah yang seharusnya bisa diselesaikan seandai kata dia memang niat denganku. Dia memang kecewa denganku, tapi aku seakan lebih kecewa di buatnya seperti ini. Terlalu banyak pengharapan yang sudah aku gantungkan kepada dirinya, terlalu banyak keinginan dan cita-cita yang aku harapkan kepadanya. Tapi sekarang malah seperti ini, aku akui aku salah, tapi akibatnya tidak harus seperti ini. Kami memang saling membawa perasaan masing-masing, hanya saja aku hanya ingin dia mengetahui aku ingin lebih banyak berjuang untuk mendapatkannya daripada harus seperti ini.
Dia mungkin tak tau aku sedang rapuh tanpanya, dia sudah menjadi kebiasaanku yang memang selalu harus ada di sampingku. Bisa apa aku dengan kehilangan kebiasaanku? Aku hanya ingin berkata kepadanya untuk sekarang, aku pernah mencintai seseorang tapi tidak seberat ini, aku pernah mengejar seseorang tapi aku tidak berlari sekencang ini, aku pernah berjuang untuk seseorang tapi tak sekeras ini. Berpikirlah dengan logika, engkaulah yang aku pilih.