Selasa, 28 Juli 2015

Sepenggal Kisah Sang Pengharap



Apakah seperti ini menjadi seorang lelaki yang hanya bisa mengejar sebuah cinta tapi selalu gagal? Terlalu sepi seperti inikah rasanya? Aku tawar segala cintaku hingga aku terjatuh tetap saja dia yang aku inginkan tak akan pernah bisa di dapatkan apabila dia tak memiliki perasaan yang sama kepadaku. Aku terlalu banyak menikmati indahnya dari kejauhan, sungguh jauh dan tak pernah dekat. Yang aku pikir dia bisa memiliki perasaan yang setidaknya bisa membalas apa isi perasaanku, tapi nyatanya apa? Aku hanya terjebak di sebuah hayalan yang terlalu banyak kata ‘andai’.
Seperti inikah yang namanya perjuangan? Sudah sering aku lakukan namanya perjuangan tapi tetap saja gagal. Bukannya aku tak ingin mencoba, tapi respon yang dia beri sungguh kecil. Tak besar seperti buah semangka, hanya sekecil bijinya. Jadi yang aku simpulkan adalah, untuk apa aku berjuang sekeras batu kalau dia hanya memberikan kerikilnya saja? Oh tuhan, bukannya aku menyerah untuk tetap mengejar tapi ini sungguh nyata.
Aku di bodohi perasaan, aku di bodohi hayalan yang penuh dengan ekspetasi murahan kisah romantis dongeng di tv. Apa yang aku harapkan tak sejalan dengan kenyataan. Aku selalu menawarkan hanya saja dia tak pernah mengambilnya dengan senang hati. Bukannya kecewa, hanya saja kadang aku lelah dengan perjuangan yang aku anggap tak ada hasil.
Persetan dengan perjuangan! Baru ku sadar, tak ada perjuangan yang tulus. Semua hanya modus semata! Tapi, apakah perjuangan dan perhatianku ini hanyalah modus semata? Awalnya. hanya saja aku perlahan sadar aku bukanlah mencari pasangan untuk berpegangan tangan. Tapi aku mencari pasangan yang bisa di jadikan partner hidup ini. Jadi, apakah perhatianku ini adalah modus berkelanjutan? Ku yakinkan hati bahwa ini adalah ketulusan, perhatian lebih yang aku berikan.
Maafkan bila seandainya aku berlebihan. Inilah aku dengan segala apa yang aku impikan. Andai kau tahu impianku saat ini tentang berhubungan tak pernah sejalan dengan ekspetasiku, aku terlalu lelah menerima kenyataan yang begitu mengecewakan. Walaupun di sebelum paragraph ini aku bilang bukannya aku kecewa, tetapi makin aku menulis tentang kamu, semakin aku sadari perjuanganku menghasilkan hasil yang begitu mengecewakan. Aku pun tak berharap kamu untuk membaca ini, karena aku tahu. Untuk mengintip sedikit saja tentang hati ini kau takkan pernah ingin. Aku bingung, semoga kamu tahu apa yang aku rasakan saat ini. Maybe im not your type, maybe I’ll be back and stop hoping about u.