Apakah
seperti ini menjadi seorang lelaki yang hanya bisa mengejar sebuah cinta tapi
selalu gagal? Terlalu sepi seperti inikah rasanya? Aku tawar segala cintaku
hingga aku terjatuh tetap saja dia yang aku inginkan tak akan pernah bisa di
dapatkan apabila dia tak memiliki perasaan yang sama kepadaku. Aku terlalu
banyak menikmati indahnya dari kejauhan, sungguh jauh dan tak pernah dekat. Yang
aku pikir dia bisa memiliki perasaan yang setidaknya bisa membalas apa isi
perasaanku, tapi nyatanya apa? Aku hanya terjebak di sebuah hayalan yang
terlalu banyak kata ‘andai’.
Seperti
inikah yang namanya perjuangan? Sudah sering aku lakukan namanya perjuangan
tapi tetap saja gagal. Bukannya aku tak ingin mencoba, tapi respon yang dia
beri sungguh kecil. Tak besar seperti buah semangka, hanya sekecil bijinya. Jadi
yang aku simpulkan adalah, untuk apa aku berjuang sekeras batu kalau dia hanya memberikan kerikilnya saja? Oh tuhan, bukannya aku menyerah untuk
tetap mengejar tapi ini sungguh nyata.
Aku
di bodohi perasaan, aku di bodohi hayalan yang penuh dengan ekspetasi murahan
kisah romantis dongeng di tv. Apa yang aku harapkan tak sejalan dengan
kenyataan. Aku selalu menawarkan hanya saja dia tak pernah mengambilnya dengan
senang hati. Bukannya kecewa, hanya saja kadang aku lelah dengan perjuangan
yang aku anggap tak ada hasil.
Persetan
dengan perjuangan! Baru ku sadar, tak ada perjuangan yang tulus. Semua hanya
modus semata! Tapi, apakah perjuangan dan perhatianku ini hanyalah modus
semata? Awalnya. hanya saja aku perlahan sadar aku bukanlah mencari pasangan
untuk berpegangan tangan. Tapi aku mencari pasangan yang bisa di jadikan
partner hidup ini. Jadi, apakah perhatianku ini adalah modus berkelanjutan? Ku
yakinkan hati bahwa ini adalah ketulusan, perhatian lebih yang aku berikan.
Maafkan
bila seandainya aku berlebihan. Inilah aku dengan segala apa yang aku impikan. Andai
kau tahu impianku saat ini tentang berhubungan tak pernah sejalan dengan
ekspetasiku, aku terlalu lelah menerima kenyataan yang begitu mengecewakan. Walaupun
di sebelum paragraph ini aku bilang bukannya aku kecewa, tetapi makin aku menulis
tentang kamu, semakin aku sadari perjuanganku menghasilkan hasil yang begitu
mengecewakan. Aku pun tak berharap kamu untuk membaca ini, karena aku tahu. Untuk
mengintip sedikit saja tentang hati ini kau takkan pernah ingin. Aku bingung,
semoga kamu tahu apa yang aku rasakan saat ini. Maybe im not your type, maybe I’ll be back and stop hoping about u.