“Qi, kok ngelamun aja, ada
masalah?”, ucap seorang wanita manis yang tepat duduk di samping bangku taman
kota yang terletak di daerah Surabaya. Dia bukan wanita yang asing bagiku, dia
wanita yang sangat aku kenal luar dalamnya. Banyak yang aku tahu darinya, dari
kesehariannya, apa yang ingin dia kerjakan hingga jadwal kuliah dia pun aku
tahu meski kami berbeda Universitas.
“oh, engga. Kalem aja hehe,”jawabku
dengan sedikit tertawa membalas sapaannya tadi.
“sebenarnya apa sih yang kamu
pikirkan? Kaya engga ada waktu aja buat ngelamun,” balasnya dengan celoteh
dengan sedikit nada marah. Walaupun dia agak merajuk, aku tahu dia tak akan
merajuk lama. Kenapa? Karena dia sudah sering bersamaku dan aku tahu sifatnya,
dia engga bakal tahan buat tak bicara lama-lama. Aku perlahan meliat raut wajah marahnya, yang aku tau dia sungguh
mempesona. Matanya yang bulat, wajah yang agak lonjong, badannya yang kurus dan
rambutnya yang panjang ditambah hiasan sebuah kip warna merah muda di
kepalanya. Aku hanya bisa tersenyum meliat dia merajuk, aku memberanikan diri
menyambut tanganku di kepalanya, aku usap perlahan sambil berkata, “Kenapa
harus marah sih? Maafin aku yah, Ris. Aku jajanin ice cream mau?”. Yang aku lihat wajahnya perlahan mulai tersenyum
lalu dia mengangguk. Aku pun meraih tangan kanannya yang agak kasar tapi di
balik sisi kasar itu terdapat sentuhan tangan yang begitu lembut selembut kapas.
Kami pun berdiri pergi beranjak dari bangku yang sudah lama kami duduki.
*****
Cahaya matahari pagi begitu
menyilaukan, walaupun begitu aku akan pergi ke sekolah dan mempersiapkan diri
untuk Ujian Akhir Nasional hari ini. Ini memang hari pertama aku ujian untuk
tingkat SMP, yang aku rasaskan gugup, deg deg deg-an dan bayangan soal yang
sungguh membuat aku takut bila aku tak bisa mengerjakan soal tersebut. Tapi sudahlah,
bagaimanapun hari ini pasti tiba aku harus benar-benar siap, aku harus lulus
tahun ini. Saat tepat sudah di sekolah aku agak bingung mencari ruanganku
untuk mengerjakan soal, kelasnya acak dan siswa di beri tahu ruangan pas hari H
telah tiba, sungguh aneh. Kelas demi kelas aku lalui, hingga akhirnya aku
sampai diruang nomor 7. Disitu terdapat foto dan nomor peserta ujianku. Ada beberapa
teman kelasku yang berada satu ruangan denganku dan juga banyak teman yang tidak satu kelas denganku. Aku hanya berdoa, aku berada duduk di belakang
sehingga tidak terlalu dalam pengawasan sang pengawas hari ini.
Bel masuk kelas pun berbunyi, bel
itu berbunyi 15 menit sebelum waktu ujian di mulai. Hal itu di karenakan aku
kami sebagai siswa harus mengisi nama di LJK yang membutuhkan waktu tidak
sedikit. Aku mencari tampat dudukku yang bertempel nama dan nomor pesertaku. Aku
berjalan melalui kursi demi kursi hingga aku mendapatkan tempat duduk di ujung
kanan nomor 2 dari belakang. Ah, hatiku begitu senang. Terima kasih tuhan,
engkau mendengarkan doaku. Aku langsung duduk di bangku kursi yang telah di
sediakan panitia ujian sampai aku meliat sosok wanita manis yang berjalan dari
depan, sebut saja namanya,Riska. Aku hanya tersenyum meliat dia, dan dia pun
juga membalas senyumku. Riska memang orang yang ramah hingga aku suka melihat
tingkah lakunya saat di sekolah. Sebenarnya rasa suka terhadap wanita pertama
kali aku rasakan kepada Riska, hanya saja aku tidak berani untuk mendekatinya. Dia
wanita yang manis, apalagi dia adalah anak seangkatanku. Aku tidak pernah
berani mendekati teman seangkatanku. Bagiku adek kelas lebih gampang di
dapatkan. Karena seburuknyaa tampang wajah seorang kaka kelas akan terasa lebih
ganteng kalo adek kelas yang melihat.
Bel waktu mengerjakan soal telah
dibunyikan. Aku dengan giat membaca soal yang telah di berikan oleh pengawas
kelasku hari ini. Mungkin karena aku terlalu semangat untuk mengerjakan soal
ujian, aku tak sadar kalau Riska duduk tepat di belakangku. Aku menengoknya
perlahan ke belakang, aku lihat dia juga serius dengan soal yang dia kerjakan, hingga
waktu sudah menunjukan 9.30. semua siswa yang mengerjakan sudah selesai semua
hanya saja banyak dari mereka masih mengoreksi jawaban yang mereka kerjakan. Di
waktu itu aku sudah selesai karena aku salah satu siswa yang pintar dalam hal
mata pelajaran Bahasa Indonesia. Aku melihat ke belakang tempat Riska
mengerjakan soal, aku yang emang hanya sebatas tahu orangnya menegurnya lebih
dulu.
“Udah selesai ngerjain soalnya?’
“Sudah kok, Qi. Emang kenapa? Kamu
belum selesai, yah? Mau aku bantuin?”. Aku rada kaget mendengar dia tau sapaan
namaku. Aku pikir dia tak tahu aku siapa, ternyata dia tahu namaku. Sebenarnya aku
yang lebih tahu dengana dia, kenapa? Karena aku sering memperhatikan dia, aku
sering melihat dia dari kejauhan, meliat dia sedang bercanda dengan temannya
dan melihat dia sedang tersenyum manis kepada mantan pacarnya. Sungguh hal yang
membuatku kaget!
“Eh udah kok Ris, aku Cuma nanya
aja soalnya kamu diem aja dari tadi,” sahutku dengan sedikit tawa di wajahku.
“aku tadi diem karena aku bosan
lama banget keluar kelasnya, padahal aku udah selesai dari tadi,” jawabnya. “Kamu
engga bosan yah,Qi nunggu lama kaya gini? Sambungnya sambil menampak wajah
cemberutnya kepadaku.
“bosan sih, tapi apa daya emang
udah ada peraturannya kalo ‘siswa hanya boleh keluar pas bel waktu selesai
ujian di bunyikan’” Jawabku mencoba menghibur Riska yang tengah mati merasakan
bosan. Dia hanya membalas dengan wajah yang kembali cemberut dan aku hanya
memandang wajahnya dengan senyuman, dari percakapan ini aku pun bisa lebih dekat denganya.
*****
“PING!!!”, terdengar suara
seseorang nge-bbm ke Blackberryku. Aku coba lihat ternyata Riska. Aku kaget
kenapa Riska ngehubungi aku pagi-pagi buta. Tapi sudahlah, mungkin dia ada
keperluan mendesak. Aku pun membalas bbm-nya dengn ramah, “ada apa, Ris?”. Tak perlu
menunggu waktu lama ternyata bbm kembali masuk, dan Riska berkata. “Rifqi, kita
ke sekolah yuk pagi ini. Aku kangen makan nasi lalapan di sekolah, mau engga temenin
aku?”. Aku yang begitu senang saat aku di ajaknya langsung saja meiyakan tanpa
berpikir panjag lebar, “Iya, aku mau!”. Langsung saja aku melompat dari ranjang
kamarku menuju kamar mandi, aku mencoba mandi sebersih dan seharum mungkin agar
aku tidak membuatnya kecewa dengan penampilanku hari ini. Tak perlu waktu lama,
aku menyelesaikan mandiku dan bergegas pergi ke kmar untuk mencari seragam sekolah
yang sudah lama tak aku pakai. Wajar saja, setelah selesai ujian kami para
kelas 9 di perbolehkan untuk tidak pergi ke sekolah karena kami sudah menepuh
akhir dari sekolah tingkat SMP. Jam sudah menunjukan pukul setengah 8, aku pun
pergi sendiri di sekolah untuk menanti makn bareng sam Riska. Ekspetasi di
otakku pun muncul, mungkin saja nanti dari makan bareng malah jadi
cinta-cintaan.
Saat tiba di depan gerbang
sekolah, Riska ternyata sudah berada di depan gerbang menunggu aku yng agak
telat datangnya.
“Udah lama yah nunggunya?”
tanyaku dengan sedikit senyuman yang aku beri padanya.
“Ah, engga. Aku aja baru nyampe
disini.” Jawabnya. “Ayo cepet ke kantin, udah engga sabar lagi tau makan di
sini.” Sambungnya dengan sedikit senyum di wajahnya. Aku pun mengangguk dan
tersenyum lalu berjalan beriringan sampai kantin sekolah.
Saat sudah memesan makanan kami
duduk di meja kantin paling ujung, kami bercerita panjang lebar apa saja yang
di lakukan pas libur panjang kaya gini, sempat ada canda tawa antara kami. Sampai suatu ketika kami terdiam dan hanya saling menatap. Aku mencoba
perlahan mengusap rambutnya yang panjang hingga tanganku tepat berada di atas
kepalanya. Hal bodoh apa yang aku lakukan? Masing-masing dari kami hanya saling
menatap mata sampai kami lupa dan kenapa hal ini terjadi.aku mencoba mengusap
kepalanya yang lembut, aku merasakan dia terlihat tersenyum malu hingga aku
menghentikan hal bodoh ini. Sungguh malu kenapa aku melakukan hal tadi, kenapa
ini terjadi? Ini terjadi karena hasratku ingin dekat denganya.
“Kenapa stop?” Tanyanya sambil
tersenyum nakal kepadaku.
“Lho? Emang kenapa?” aku pun
membalas senyumnya dengan sedikit tertawa jahil. “Ada hal yang aku pengen tau
dari kamu, Ris?” sambungku.
“Terus apa itu?” tanyanya sambil
tersenyum.
“Apakah tangan kamu lembut, Ris? Apa
aku boleh memegangnya sebentar?”
“Boleh,” Jawabnya sambil
mengulurkan tangannya, aku pung memegang erat tangannya, hingga jari jemariku
masuk di sela tangannya. Genggaman kami semakin erat, seperti kami tak ingin
berpisah dan tak ingin pergi jauh. Aku merasakan kehangat tangannya, aku
sungguh menikmatinya. Hingga aku tahu aku merasakan hal yang bernama cinta
dengannya.
*****
“Mas, Ice cream vanilla sama cokelatnya dua yah, mas,” ucapku meminta
kepada mas tukang jual ice cream
dekat taman kota ini.
“Ini, nak Ice cream-nya” kata mas penjual ice
cream tersebut sambil mengasihkan ice
cream yang kami pesan. Aku pun mengasihkan satu ice cream rasa cokelat kepada Riska yang sudah menunggu sambil
berdiri di dekatku. Aku melihatnya makan dengan lahap, aku suka melihatnya
seperti ini. Mungkin karena terlalu lahap, Riska tak sadar ada bekas cokelat di
bibirnya. Aku pun mengambil tissue di saku celanaku dan segera membersihkan
bekas cokelat di bibirnya. Bibirnya begitu lembut aku pun merasakan itu. Dia hanya
tersenyum dan aku membalas senyumannya. Di sela keromantisan kami, dia tersadar
ada sesuatau yang bergetar di celananya, smartphone-nya bergetar menandakan ada
suatu media social yang masuk notifikasinya. Riska pun mencek smartphone-nya
dengan segera. Ternyata notifikasinya tersebut adalah Rio, mantannya dulu. Terlihat
tatapan matanya tengah berubah drastis dari tersenyum hingga agak cemberut.
Sebenarnya selama ini aku
hanyalah teman dekatnya, tidak lebih tidak kurang. Hanya teman dekaat saja. Pertemuan
dan awal percakapan kami yang begitu sengaja membuat aku tahu tentang segalanya
tentang dia. Rio adalah mantan yang masih dia sayangi selama 2 tahun ini. Mungkin
segelintir pembaca cerita ini heran kenapa aku tak mendekati dan menoba
menjalin hubungan lebih dengan Riska. Aku hanya bisa menjawab, dari segelintir
wanita yang aku sayang hanyalah Riska. Walaupun
aku mencoba selalu ada untuk menghiburnya hanya saja aku takut, takut untuk
hubungan lebih dari teman dekat. Ingin ku ungkapkan rasaku terhadap Riska, tapi
aku tau mungkin dia lebih memilih Rio disbanding aku.
Aku mencoba menghela nafasku
sedalam mungkin. Aku mencoba merangkulnya hingga dia bersandar di bahuku, dalam
rangkulku aku mencoba menenangkannya agar dia tidak sedih lagi. aku menjelaskan semua akan baik-baik saja tidak ada yang salah, dan mencoba membuatnya tersenyum lebar lagi. Riska pun perlahan tersenyum dan menatap mataku, ada pandangan yang janggal di matanya, apa itu? sebutir air mata jatuh dari matanya. Aku sering melihatnya menangis karena mantannya, tapi aku bisa berbuat apa? Aku hanya bisa mengusap air matanya yang jatuh ke pipinya. saat air matanya mulai mengering, di rangkulanku dia memeluk tubuhku yang lebih tinggi dari badannya. Aku sedikit bisa bernafas lega. setidaknya dia berhenti menangis karena Rio dan berada di pelukku. Tapi aku tahu, apapun yang aku lakukan bersama Riska adalah sebuah kenyataan konyol,
aku hanya terjebak di sebuah hubungan yang beratas namakan ‘teman’.