Senin, 11 Mei 2015

Yang Aku Tahu, hanya Teman


“Qi, kok ngelamun aja, ada masalah?”, ucap seorang wanita manis yang tepat duduk di samping bangku taman kota yang terletak di daerah Surabaya. Dia bukan wanita yang asing bagiku, dia wanita yang sangat aku kenal luar dalamnya. Banyak yang aku tahu darinya, dari kesehariannya, apa yang ingin dia kerjakan hingga jadwal kuliah dia pun aku tahu meski kami berbeda Universitas.
“oh, engga. Kalem aja hehe,”jawabku dengan sedikit tertawa membalas sapaannya tadi.
“sebenarnya apa sih yang kamu pikirkan? Kaya engga ada waktu aja buat ngelamun,” balasnya dengan celoteh dengan sedikit nada marah. Walaupun dia agak merajuk, aku tahu dia tak akan merajuk lama. Kenapa? Karena dia sudah sering bersamaku dan aku tahu sifatnya, dia engga bakal tahan buat tak bicara lama-lama. Aku perlahan meliat raut wajah marahnya, yang aku tau dia sungguh mempesona. Matanya yang bulat, wajah yang agak lonjong, badannya yang kurus dan rambutnya yang panjang ditambah hiasan sebuah kip warna merah muda di kepalanya. Aku hanya bisa tersenyum meliat dia merajuk, aku memberanikan diri menyambut tanganku di kepalanya, aku usap perlahan sambil berkata, “Kenapa harus marah sih? Maafin aku yah, Ris. Aku jajanin ice cream mau?”. Yang aku lihat wajahnya perlahan mulai tersenyum lalu dia mengangguk. Aku pun meraih tangan kanannya yang agak kasar tapi di balik sisi kasar itu terdapat sentuhan tangan yang begitu lembut selembut kapas. Kami pun berdiri pergi beranjak dari bangku yang sudah lama kami duduki.

*****
Cahaya matahari pagi begitu menyilaukan, walaupun begitu aku akan pergi ke sekolah dan mempersiapkan diri untuk Ujian Akhir Nasional hari ini. Ini memang hari pertama aku ujian untuk tingkat SMP, yang aku rasaskan gugup, deg deg deg-an dan bayangan soal yang sungguh membuat aku takut bila aku tak bisa mengerjakan soal tersebut. Tapi sudahlah, bagaimanapun hari ini pasti tiba aku harus benar-benar siap, aku harus lulus tahun ini. Saat tepat sudah di sekolah aku agak bingung mencari ruanganku untuk mengerjakan soal, kelasnya acak dan siswa di beri tahu ruangan pas hari H telah tiba, sungguh aneh. Kelas demi kelas aku lalui, hingga akhirnya aku sampai diruang nomor 7. Disitu terdapat foto dan nomor peserta ujianku. Ada beberapa teman kelasku yang berada satu ruangan denganku dan juga banyak teman yang tidak satu kelas denganku. Aku hanya berdoa, aku berada duduk di belakang sehingga tidak terlalu dalam pengawasan sang pengawas hari ini.
Bel masuk kelas pun berbunyi, bel itu berbunyi 15 menit sebelum waktu ujian di mulai. Hal itu di karenakan aku kami sebagai siswa harus mengisi nama di LJK yang membutuhkan waktu tidak sedikit. Aku mencari tampat dudukku yang bertempel nama dan nomor pesertaku. Aku berjalan melalui kursi demi kursi hingga aku mendapatkan tempat duduk di ujung kanan nomor 2 dari belakang. Ah, hatiku begitu senang. Terima kasih tuhan, engkau mendengarkan doaku. Aku langsung duduk di bangku kursi yang telah di sediakan panitia ujian sampai aku meliat sosok wanita manis yang berjalan dari depan, sebut saja namanya,Riska. Aku hanya tersenyum meliat dia, dan dia pun juga membalas senyumku. Riska memang orang yang ramah hingga aku suka melihat tingkah lakunya saat di sekolah. Sebenarnya rasa suka terhadap wanita pertama kali aku rasakan kepada Riska, hanya saja aku tidak berani untuk mendekatinya. Dia wanita yang manis, apalagi dia adalah anak seangkatanku. Aku tidak pernah berani mendekati teman seangkatanku. Bagiku adek kelas lebih gampang di dapatkan. Karena seburuknyaa tampang wajah seorang kaka kelas akan terasa lebih ganteng kalo adek kelas yang melihat.
Bel waktu mengerjakan soal telah dibunyikan. Aku dengan giat membaca soal yang telah di berikan oleh pengawas kelasku hari ini. Mungkin karena aku terlalu semangat untuk mengerjakan soal ujian, aku tak sadar kalau Riska duduk tepat di belakangku. Aku menengoknya perlahan ke belakang, aku lihat dia juga serius dengan soal yang dia kerjakan, hingga waktu sudah menunjukan 9.30. semua siswa yang mengerjakan sudah selesai semua hanya saja banyak dari mereka masih mengoreksi jawaban yang mereka kerjakan. Di waktu itu aku sudah selesai karena aku salah satu siswa yang pintar dalam hal mata pelajaran Bahasa Indonesia. Aku melihat ke belakang tempat Riska mengerjakan soal, aku yang emang hanya sebatas tahu orangnya menegurnya lebih dulu.
“Udah selesai ngerjain soalnya?’
“Sudah kok, Qi. Emang kenapa? Kamu belum selesai, yah? Mau aku bantuin?”. Aku rada kaget mendengar dia tau sapaan namaku. Aku pikir dia tak tahu aku siapa, ternyata dia tahu namaku. Sebenarnya aku yang lebih tahu dengana dia, kenapa? Karena aku sering memperhatikan dia, aku sering melihat dia dari kejauhan, meliat dia sedang bercanda dengan temannya dan melihat dia sedang tersenyum manis kepada mantan pacarnya. Sungguh hal yang membuatku kaget!
“Eh udah kok Ris, aku Cuma nanya aja soalnya kamu diem aja dari tadi,” sahutku dengan sedikit tawa di wajahku.
“aku tadi diem karena aku bosan lama banget keluar kelasnya, padahal aku udah selesai dari tadi,” jawabnya. “Kamu engga bosan yah,Qi nunggu lama kaya gini? Sambungnya sambil menampak wajah cemberutnya kepadaku.
“bosan sih, tapi apa daya emang udah ada peraturannya kalo ‘siswa hanya boleh keluar pas bel waktu selesai ujian di bunyikan’” Jawabku mencoba menghibur Riska yang tengah mati merasakan bosan. Dia hanya membalas dengan wajah yang kembali cemberut dan aku hanya memandang wajahnya dengan senyuman, dari percakapan ini  aku pun bisa lebih dekat denganya.

*****
“PING!!!”, terdengar suara seseorang nge-bbm ke Blackberryku. Aku coba lihat ternyata Riska. Aku kaget kenapa Riska ngehubungi aku pagi-pagi buta. Tapi sudahlah, mungkin dia ada keperluan mendesak. Aku pun membalas bbm-nya dengn ramah, “ada apa, Ris?”. Tak perlu menunggu waktu lama ternyata bbm kembali masuk, dan Riska berkata. “Rifqi, kita ke sekolah yuk pagi ini. Aku kangen makan nasi lalapan di sekolah, mau engga temenin aku?”. Aku yang begitu senang saat aku di ajaknya langsung saja meiyakan tanpa berpikir panjag lebar, “Iya, aku mau!”. Langsung saja aku melompat dari ranjang kamarku menuju kamar mandi, aku mencoba mandi sebersih dan seharum mungkin agar aku tidak membuatnya kecewa dengan penampilanku hari ini. Tak perlu waktu lama, aku menyelesaikan mandiku dan bergegas pergi ke kmar untuk mencari seragam sekolah yang sudah lama tak aku pakai. Wajar saja, setelah selesai ujian kami para kelas 9 di perbolehkan untuk tidak pergi ke sekolah karena kami sudah menepuh akhir dari sekolah tingkat SMP. Jam sudah menunjukan pukul setengah 8, aku pun pergi sendiri di sekolah untuk menanti makn bareng sam Riska. Ekspetasi di otakku pun muncul, mungkin saja nanti dari makan bareng malah jadi cinta-cintaan.
Saat tiba di depan gerbang sekolah, Riska ternyata sudah berada di depan gerbang menunggu aku yng agak telat datangnya.
“Udah lama yah nunggunya?” tanyaku dengan sedikit senyuman yang aku beri padanya.
“Ah, engga. Aku aja baru nyampe disini.” Jawabnya. “Ayo cepet ke kantin, udah engga sabar lagi tau makan di sini.” Sambungnya dengan sedikit senyum di wajahnya. Aku pun mengangguk dan tersenyum lalu berjalan beriringan sampai kantin sekolah.
Saat sudah memesan makanan kami duduk di meja kantin paling ujung, kami bercerita panjang lebar apa saja yang di lakukan pas libur panjang kaya gini, sempat ada canda tawa antara kami. Sampai suatu ketika kami terdiam dan hanya saling menatap. Aku mencoba perlahan mengusap rambutnya yang panjang hingga tanganku tepat berada di atas kepalanya. Hal bodoh apa yang aku lakukan? Masing-masing dari kami hanya saling menatap mata sampai kami lupa dan kenapa hal ini terjadi.aku mencoba mengusap kepalanya yang lembut, aku merasakan dia terlihat tersenyum malu hingga aku menghentikan hal bodoh ini. Sungguh malu kenapa aku melakukan hal tadi, kenapa ini terjadi? Ini terjadi karena hasratku ingin dekat denganya.
“Kenapa stop?” Tanyanya sambil tersenyum nakal kepadaku.
“Lho? Emang kenapa?” aku pun membalas senyumnya dengan sedikit tertawa jahil. “Ada hal yang aku pengen tau dari kamu, Ris?” sambungku.
“Terus apa itu?” tanyanya sambil tersenyum.
“Apakah tangan kamu lembut, Ris? Apa aku boleh memegangnya sebentar?”
“Boleh,” Jawabnya sambil mengulurkan tangannya, aku pung memegang erat tangannya, hingga jari jemariku masuk di sela tangannya. Genggaman kami semakin erat, seperti kami tak ingin berpisah dan tak ingin pergi jauh. Aku merasakan kehangat tangannya, aku sungguh menikmatinya. Hingga aku tahu aku merasakan hal yang bernama cinta dengannya.

*****
“Mas, Ice cream vanilla sama cokelatnya dua yah, mas,” ucapku meminta kepada mas tukang jual ice cream dekat taman kota ini.
“Ini, nak Ice cream-nya” kata mas penjual ice cream tersebut sambil mengasihkan ice cream yang kami pesan. Aku pun mengasihkan satu ice cream rasa cokelat kepada Riska yang sudah menunggu sambil berdiri di dekatku. Aku melihatnya makan dengan lahap, aku suka melihatnya seperti ini. Mungkin karena terlalu lahap, Riska tak sadar ada bekas cokelat di bibirnya. Aku pun mengambil tissue di saku celanaku dan segera membersihkan bekas cokelat di bibirnya. Bibirnya begitu lembut aku pun merasakan itu. Dia hanya tersenyum dan aku membalas senyumannya. Di sela keromantisan kami, dia tersadar ada sesuatau yang bergetar di celananya, smartphone-nya bergetar menandakan ada suatu media social yang masuk notifikasinya. Riska pun mencek smartphone-nya dengan segera. Ternyata notifikasinya tersebut adalah Rio, mantannya dulu. Terlihat tatapan matanya tengah berubah drastis dari tersenyum hingga agak cemberut.
Sebenarnya selama ini aku hanyalah teman dekatnya, tidak lebih tidak kurang. Hanya teman dekaat saja. Pertemuan dan awal percakapan kami yang begitu sengaja membuat aku tahu tentang segalanya tentang dia. Rio adalah mantan yang masih dia sayangi selama 2 tahun ini. Mungkin segelintir pembaca cerita ini heran kenapa aku tak mendekati dan menoba menjalin hubungan lebih dengan Riska. Aku hanya bisa menjawab, dari segelintir wanita yang aku sayang hanyalah Riska.  Walaupun aku mencoba selalu ada untuk menghiburnya hanya saja aku takut, takut untuk hubungan lebih dari teman dekat. Ingin ku ungkapkan rasaku terhadap Riska, tapi aku tau mungkin dia lebih memilih Rio disbanding aku.
Aku mencoba menghela nafasku sedalam mungkin. Aku mencoba merangkulnya hingga dia bersandar di bahuku, dalam rangkulku aku mencoba menenangkannya agar dia tidak sedih lagi. aku menjelaskan semua akan baik-baik saja tidak ada yang salah, dan mencoba membuatnya tersenyum lebar lagi. Riska pun perlahan tersenyum dan menatap mataku, ada pandangan yang janggal di matanya, apa itu? sebutir air mata jatuh dari matanya. Aku sering melihatnya menangis karena mantannya, tapi aku bisa berbuat apa? Aku hanya bisa mengusap air matanya yang jatuh ke pipinya. saat air matanya mulai mengering, di rangkulanku dia memeluk tubuhku yang lebih tinggi dari badannya. Aku sedikit bisa bernafas lega. setidaknya dia berhenti menangis karena Rio dan berada di pelukku. Tapi aku tahu, apapun yang aku lakukan bersama Riska adalah sebuah kenyataan konyol, aku hanya terjebak di sebuah hubungan yang beratas namakan ‘teman’.